Berita

Damkar Evakuasi 18 Ular yang Masuk Permukiman, Apa yang Terjadi?

11/02/2026|Irvan Sjafari
Ilustrasi sanca kembang Foto KSDAE Kementerian Kehutanan - Damkar Evakuasi 18 Ular yang Masuk Permukiman Apa yang Terjadi

Ilustrasi sanca kembang. | Foto: KSDAE Kementerian Kehutanan

Gardanimalia.com - Ular sanca berada di permukiman memang cuku lumrah terjadi. Namun, yang menjadi tanda tanya ialah mengapa jumlahnya semakin banyak dan frekuensinnya semakin sering. Inilah yang terjadi di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Damkar Kabupaten Tuban mengevakuasi 18 ekor ular sanca yang berada di permukiman pada 4 Februari 2026. Evakuasi dilakukan sebagai bagian dari upaya mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar di permukiman.

Usai ditangani oleh Damkar Kabupaten Tuban, belasan ekor satwa melata itu diserahterimakan kepada Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, melibatkan Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 03 dan Tim Unit Penyelamatan Satwa (UPS) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur.

Satwa yang dievakuasi terdiri dari 3 ekor ular sanca bodo (Python bivittatus) dan 15 ekor ular sanca kembang (Malayopython reticulatus).

Setelah diterima pihak BBKSDA Jawa Timur, satwa-satwa tersebut dibawa ke kandang transit UPS di Sidoarjo untuk menjalani pemeriksaan kesehatan, pemulihan kondisi, serta penanganan lanjutan sesuai standar kesejahteraan satwa liar.

Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Muda BBKSDA Jawa Timur Fajar Dwi Nur Aji dalam rilisnya menulis, kemunculan ular di permukiman kerap dipicu oleh perubahan lanskap, keterbatasan ruang jelajah, serta menurunnya kualitas habitat alami.

Dalam konteks ini, evakuasi tidak hanya bertujuan menyelamatkan manusia, tetapi juga memastikan satwa terlindungi dari perilaku yang berpotensi membahayakan hidupnya.

BBKSDA Jawa Timur menegaskan bahwa penanganan konflik satwa liar membutuhkan kerja sama lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, aparat teknis, dan masyarakat. Penanganan oleh Damkar Tuban pada tahap awal menjadi contoh penting respons cepat di lapangan sebelum satwa ditangani oleh otoritas konservasi.

Pihaknya mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan tindakan berisiko ketika berhadapan dengan satwa liar.

"Setiap kejadian konflik satwa dapat dilaporkan kepada instansi terkait agar penanganannya dilakukan secara aman, profesional, dan berorientasi pada keselamatan bersama, baik manusia maupun satwa liar sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem," terang Fajar Dwi. 

Kepala BBKSDA Jawa Timur Nur Patria Kurniawan mengungkapkan bahwa kasus kemunculan di permukiman ular memang banyak, tidak hanya di Bojonegoro. Persoalannya, lanjut Nur Patria, ular-ular tersebut sudah berkurang predatornya.

“Ular-ular itu sangat adaptif, berkembang biaknya bisa di mana saja, di selokan, di gorong-gorong, di kota-kota. Dan setelah menetas tentunya akan kemana-mana untuk mencari mangsa. Terkadang juga ada terbawa derasnya arus sungai, dan mungkin juga banjir saat musim hujan,” ungkap Nur Patria kepada Garda Animalia, Senin (9/2/2026).

Predator alami ular sanca adalah ular kobra dan burung elang. Sanca yang masih kecil bisa menjadi mangsa elang, tetapi elang pemakan ular kobra banyak diburu manusia. Sementara, ular cobra bukan saja diburu karena alasan keamanan, tetapi ada juga buat dimakan, tuturnya.

“Jadi perlu edukasi terus-menerus kepada masyarakat bahwa berburu satwa liar ada konsekuensi ekologisnya,” ujarnya. 

Kasus ular masuk permukiman warga juga terjadi di Desa Sarirejo, Kabupaten Gresik pada 5 Februari 2026. Kejadiannya lebih ekstrem, seekor ular sanca kembang kedapatan berada di spring bed seorang warga.

Peristiwa itu diketahui saat Mujianto mencurigai suara desis tak wajar dari arah ranjang di rumahnya. Penasaran sekaligus cemas mendorongnya mengecek ranjang tersebut. Benar saja, seekor ular sanca kembang ditemukan bersembunyi di bawah kasur.

Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah III Surabaya langsung menuju lokasi pada hari yang sama. Setibanya di tempat kejadian, tim melakukan identifikasi awal serta wawancara singkat untuk memastikan kronologi temuan sebelum mengevakuasi satwa tersebut.

Keberadaan ular di kawasan permukiman ini bukan peristiwa tunggal. Dari keterangan warga, perjumpaan dengan satwa liar, khususnya ular, kerap terjadi di daerah tersebut.

Kondisi ini diduga kuat berkaitan dengan karakter lanskap Sarirejo yang merupakan bekas rawa, habitat alami berbagai jenis reptil, yang kini telah berubah menjadi permukiman.