Wawancara

Ketua Forum HarimauKita: “Pemindahan Harimau Justru Jadi Kunci Masuknya Aktivitas Manusia Tidak Bertanggungjawab ke Wilayah Konservasi”

02/09/2026|Irvan Sjafari
Potret Ketua Forum HarimauKita periode 2026-2028 Sugeng Dwi Hastono Foto dokumentasi pribadi - Ketua Forum HarimauKita Pe...

Potret Ketua Forum HarimauKita periode 2026-2028, Sugeng Dwi Hastono. | Foto: dokumentasi pribadi

Gardaanimalia.com - Jaraknya kurang dari satu meter ketika Sugeng Dwi Hastono berhadapan langsung dengan seekor harimau Sumatera. Dokter hewan itu bahkan nyaris terkena cakar ketika terlibat dalam penanganan konflik manusia dan harimau “Petir” di Tanggamus, Lampung.

Pengalaman menghadapi satwa liar di lapangan bukan hal baru bagi Sugeng. Kecintaannya terhadap konservasi telah tumbuh sejak berkuliah di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada. Ia kemudian bergabung dengan Kelompok Studi Satwa Liar. Setelah lulus, Sugeng merantau ke Lampung untuk mendedikasikan praktik kedokterannya bagi satwa liar.

Kini, hampir satu dekade setelah bergabung dengan Forum HarimauKita, Sugeng mendapat tanggung jawab baru. Ia dipercaya menjadi Ketua Umum Forum HarimauKita periode 2026–2028.

Di bawah kepemimpinannya, forum yang beranggotakan lebih dari 100 profesional konservasi harimau Sumatera itu menghadapi persoalan yang semakin kompleks. Habitat yang menyempit, berkurangnya satwa mangsa, konflik dengan manusia, perambahan, hingga kebakaran hutan menjadi ancaman yang saling berkaitan.

Bagi Sugeng, persoalan tersebut juga mengubah cara kita melihat harimau. Satwa yang kerap dianggap sumber konflik bagi manusia itu justru memiliki peran penting sebagai penjaga alami hutan.

“Harimau Sumatera merupakan penjaga utama—penjaga alami hutan atau kawasan konservasi,” kata Sugeng kepada Garda Animalia.

Lantas, apa yang akan dilakukan Forum HarimauKita di bawah kepemimpinan barunya? Dan bagaimana Sugeng melihat masa depan konservasi harimau Sumatera di tengah tekanan yang semakin besar terhadap habitatnya?

Berikut wawancara Garda Animalia dengan Ketua Forum HarimauKita, Sugeng Dwi Hastono, Senin (31/8/2026).

Apa yang akan dilakukan Forum HarimauKita dalam waktu dekat ini?

Sebagai forum yang dibentuk dan didedikasikan untuk pelestarian harimau sumatera di alam liar, maka semua kegiatan yang dilakukan oleh Forum HarimauKita (FHK) menitikberatkan pada konservasi harimau sumatera di habitat aslinya. Sebagaimana salah satu mandat FHK adalah untuk mengawal dan mendorong implementasi Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Harimau secara optimal.

Pada tahun ini, FHK membantu Ditjen KSDAE-Kemenhut untuk menyusun dokumen SRAK Harimau (2027-2036) bersama para praktisi, akademisi dan pemerintah.

Hasil kajian Sumatra-Wide Tiger Survey (S-WTS) yang memberikan gambaran tingkat hunian harimau dan analisis kesintasan atau Population Viability Analysis (PVA) serta kondisi tantangan terkini akan menjadi dasar dari penyusunan dokumen tersebut.

Dengan demikian, perencanaan dan implementasinya nanti betul-betul berdasarkan data ilmiah yg kuat dan terkini.

Apa saja tantangan pelestarian harimau hari ini? Bagaimana menyadarkan publik, akan pentingnya eksistensi harimau di Sumatera?

Minggu-minggu terakhir ini, sering kita saksikan, baik secara langsung maupun melalui media, terjadi kebakaran hutan di berbagai wilayah di Pulau Sumatera yang juga merupakan kantong habitat harimau sumatera.

Kebakaran hutan, sangat erat kaitannya dengan aktivitas manusia. Selain merugikan manusia sebab polusi udaranya, juga menyebabkan kerusakan serius pada habitat harimau sumatera berikut sumber mangsanya.

Kita gunakan analogi terbalik. Beberapa waktu lalu banyak terjadi konflik manusia dan harimau sumatera di beberapa wilayah, yang kemudian berujung pada penangkapan serta pemindahan harimau. Sebenarnya, pemindahan tersebut bisa menjadi kunci masuknya aktivitas manusia tidak bertanggung jawab ke wilayah konservasi hingga menjadi kebakaran hutan.

Di sinilah poin penting bahwa harimau sumatera merupakan penjaga utama–penjaga alami hutan atau kawasan konservasi. Dengan disingkirkannya harimau sumatera [dari huta], maka peluang manusia untuk merambah dan merusak hutan menjadi lebih besar.

Sebagai contoh, menurut pemberitaan Dirjen Gakkum (30 Agustus 2026), sekitar 40 hektare zona inti Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) ditebang dan dibakar oleh orang tidak bertanggung jawab yang akan menjadikannya kebun sawit dan kopi. Empat orang ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus ini.

Uploaded content
Potret harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). | Foto: laman HarimauKIta

Seperti apa usulan anda untuk mitigasi dan konservasi harimau baik kepada BKSDA atau otoritas dan pemerintah?

Berkaca contoh kejadian di atas, maka kantong-kantong habitat harimau sumatera semakin sempit atau bahkan sebagian sudah hilang, sumber satwa mangsa berkurang, dan akhirnya risiko konflik akan semakin banyak muncul dan kelestarian harimau sumatera semakin terancam menuju kepunahan.

Dengan kondisi demikian, Unit Pelaksana Teknis (UPT) di tingkat tapak harus bisa lebih sabar dan persisten dalam menangani konflik yang tipologinya sangat beragam dan pastinya akan membutuhkan tenaga, biaya dan waktu yang lebih lama dalam penyelesaiannya.

FHK, dengan para anggota yang berlatar belakang keilmuan dan keahlian multidisiplin dan tersebar di sepanjang sumatera, secara prinsip dapat dielaborasikan oleh UPT bersama Pemerintah Daerah setempat. Tujuannya untuk memperkuat konservasi harimau serta mitigasi dan penanganan konflik yang lebih optimal.

Pernah bertemu harimau di lapangan dan bagaimana pengalamannya?

Satu pengalaman tidak terlupakan adalah saat penanganan konflik manusia dan harimau “Petir” di Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Kami bertatapan wajah dengan harimau dengan jarak kurang dari satu meter (bahkan hampir terkena cakar). [Tantangannya adalah] kehebohan masyarakat serta kesulitan mengevakuasi harimau sumatera karena masuk ke dalam rumah warga.

Pada April 2026, kami berkesempatan mewakili Indonesia dalam Forum Global Species Management Plan (GSMP) untuk konservasi in-situ harimau sumatera sehingga bisa memberikan pencerahan pada forum tersebut dan mewarnai pelestarian harimau sumatera secara global atau internasional. Diharapkan, terjadi kolaborasi positif yang membuat sinkron program konservasi harimau in-situ dan ex-situ