Berita

Diduga Lapar, Puluhan Julang Emas Milik Lampung Marriott Resort Turun Ke Rumah Warga

26/02/2026|Nadaa
Sekumpulan julang emas menghampiri warga afar mendapatkan makanan Foto tangkapan layar video amatir warga - Diduga Lapar...

Sekumpulan julang emas menghampiri warga afar mendapatkan makanan. | Foto: tangkapan layar video amatir warga

Gardaanimalia.com - Satu per satu julang emas (Rhyticeros undulatus) turun menghampiri seorang pria. Ia terlihat sedang memberi makan satwa dilindungi itu dengan segenggam nasi.

Laper tuh, laper, turun semua,” ujarnya dalam rekaman video amatir yang diunggah melalui sosial media IDN Times, Rabu (25/2/2026).

Fenomena ini terlihat di Jalan P. Emir Moh Noer, Kelurahan Pengajaran, Kecamatan Telukbetung Utara, Bandar Lampung, Senin (23/2/2026). Pada video yang lain, julang emas terlihat bertengger di kabel listrik, atap, hingga pelataran rumah warga.

Melansir IDN Times, Supri, salah seorang warga mengatakan, hal tak biasa itu terjadi saat pagi hari sekitar pukul 06.00 - 07.00 WIB. Ia menduga burung-burung tersebut turun karena kelaparan. Kondisi itu terlihat dari perilaku julang emas yang tanpa takut mendekati warga.

Supri juga mengatakan, tidak lama setelah diberi makan, burung-burung tersebut meninggalkan lokasi dan menghilang ke arah pepohonan di sekitar kawasan Bandar Lampung.

Menanggapi video viral ini, beberapa warganet menyoroti suaka burung milik Marriott Resort Lampung yang diduga merupakan asal burung-burung julang emas ini.

Menjawab dugaan masyarakat, Marriott Resort Lampung membenarkan dengan memberi pernyataan bahwa julang emas yang ada di tempat mereka memang dilepas.

“Mereka memang free to fly and memang suka explore, dijaga bersama aja, ya,” tulis pernyataan singkat yang diunggah mereka di Instagram Story.

Dalam unggahan tersebut, Marriott Resort Lampung juga mengatakan, satwa liar tersebut merupakan bagian dari pariwisata.

“Masyarakat lokal aja sampai rame nonton, kebayang ga kalau banyak turis yang ikutan enjoy Lampung. Biarin aja, dirawat, disayang, biar mereka jadi bagian dari pariwisata lampung,” lanjut unggahan tersebut.

Selain warganet, organisasi Rangkong Indonesia menekankan perilaku jinak menunjukkan satwa liar tersebut kemungkinan telah lama terbiasa dengan manusia atau pernah dipelihara.

“Padahal, rumah rangkong adalah hutan, tempat mereka menemukan pakan alami dan pohon besar berlubang untuk bersarang. Kota bukan habitat mereka,” tulis Rangkong Indonesia, Rabu (25/2/2026).

Mereka menegaskan, interaksi manusia dengan satwa liar juga berisiko menimbulkan stres, cedera, hingga potensi penularan penyakit (zoonosis).

Menambahkan keterangan, Rangkong Indonesia menjelaskan ada 13 jenis rangkong di Indonesia merupakan satwa dilindungi undang-undang.