Gardaanimalia.com – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah mengevakuasi satu individu bayi orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) di sebuah kebun di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.
Bayi orangutan yang diberi nama Empeng itu berusia sekitar satu tahun saat ditemukan oleh Jukri, seorang pekerja di kawasan perkebunan tersebut.
“Kita lagi ada survei (populasi) orangutan di perusahaan itu. Nah, tim kami waktu itu menyisir [lokasi] ternyata ketemu sama kepala sekuriti di perusahaan tersebut. Kepala sekuriti itu melaporkan bahwa ada pegawai PT Intrado, pegawai mereka sendiri, yang ketemu orangutan saat sedang proses produksi,” ujar Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Kalteng Dendi Setiadi pada Garda Animalia, Senin (28/7/2025).
Setelah mendapat laporan dari kepala sekuriti pada Senin (21/7/2025), Dendi dan tim mendatangi Jukri.
Berdasarkan pengakuannya, Jukri memutuskan untuk membawa Empeng ke rumah dan memeliharanya sementara waktu karena merasa iba.
“Kita datangi, mungkin staf atau pegawai di perusahaan itu, ya. Ternyata, setelah diskusi, memang benar, beliau yang menemukan [orangutan] tiga hari yang lalu. Katanya, waktu itu terdengar suara tangisan anak bayi di hutan. Kemungkinan besar bayi orangutan itu terpisah dari induknya,” jelas Dendi.
Setelah berdiskusi, keesokan harinya, prima endemik Kalimantan tersebut diserahkan pada pihak BKSDA Kalimantan Tengah melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKSDA) II pada, Selasa (22/7/2025).
Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter hewan, Empeng dinyatakan sehat dan aktif.
Selanjutnya, Empeng dibawa ke kantor Seksi KSDA II di Pangkalan Bun untuk pemeriksaan lanjutan serta perawatan di kandang transit.
“Sekarang posisinya kita belum rilis, [masih] ada di Kawasan Suaka Margasatwa Lamandau. Artinya, belum kita lepas liarkan [karena] masih perlu latihan dulu untuk adaptasi, mencari makan, buat sarang” ujar Dendi.
Dendi menjelaskan, sebelum adanya pelaporan terkait temuan bayi orangutan, tim BKSDA Kalteng sedang melakukan survei jumlah populasi orangutan di wilayah perusahaan tersebut.
Hal ini dilakukan mengingat sekitar dua hingga tiga tahun lalu, temuan populasi orangutan di kawasan perusahaan itu masih terbilang cukup banyak. Meski demikian, BKSDA belum dapat menginformasikan jumlah populasi orangutan karena porses survei masih berlangsung.
Penulis: Nadaa











