Berita

Dua Nyawa Hilang dalam Sehari di Gayo, WALHI: Bukan Konflik Biasa, Ini Krisis Habitat

23/02/2026|Mardili
Ilustrasi gajah dan habitatnya yang menyempit Foto Media Center Riau - Dua Nyawa Hilang dalam Sehari di Gayo WALHI Bukan...

Ilustrasi gajah dan habitatnya yang menyempit. | Foto: Media Center Riau

Gardaanimalia.com - Kematian seorang warga di Bener Meriah akibat terinjak gajah liar dan kematian satu individu gajah tersengat listrik di Aceh Tengah dalam hari yang sama dinilai bukan sekadar rangkaian insiden konflik.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh menyebutnya sebagai tanda krisis habitat yang kian parah di Dataran Tinggi Gayo.

Menurut Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye WALHI Aceh, Afifuddin Acal, dua kematian dalam satu hari memperlihatkan kegagalan sistemik dalam pengelolaan ruang hidup satwa dan perlindungan warga.

“Konflik gajah-manusia kembali memakan korban jiwa. Ini bukan kejadian tunggal, tapi bukti nyata kegagalan pemerintah dalam menangani persoalan ini,” kata Afifuddin Acal, Senin (23/2/2026).

Menurut Afifuddin, penyempitan habitat akibat deforestasi dan alih fungsi lahan terus mendorong satwa dilindungi ini keluar dari jalur jelajah alaminya. Ketika ruang hidup menyusut, perjumpaan dengan manusia menjadi tak terhindarkan.

WALHI menilai pendekatan pemerintah selama ini masih bersifat reaktif, bukan pencegahan berbasis pemulihan ekosistem.

“Selama habitat gajah terus rusak dan jalur jelajahnya terputus, konflik akan terus berulang. Yang dikorbankan bukan hanya gajah, tapi juga manusia,” ungkap Afifuddin.

Ia juga mengkritik prioritas pembangunan yang dinilai tidak mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

“Pemerintah sibuk dengan urusan politik dan ekonomi. Sementara, perlindungan nyawa manusia dan satwa sering kali jadi urusan belakangan,” tegasnya.

WALHI Aceh mendesak pemerintah daerah dan pusat segera memperbaiki sistem mitigasi konflik, meninjau ulang kebijakan tata ruang, serta memulihkan kawasan habitat gajah sumatera secara serius.

Bagi WALHI, tragedi di Gayo harus dibaca sebagai peringatan keras bahwa tanpa pembenahan tata kelola lingkungan, konflik manusia dan gajah hanya tinggal menunggu korban berikutnya.