Gardaanimalia.com – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku Utara berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 114 satwa endemik asal Papua yang diduga diangkut menggunakan kapal penumpang KM Sinabung.
Ratusan satwa tersebut diamankan saat kapal sandar di Pelabuhan Ternate setelah menempuh perjalanan dari Manokwari, Sorong, dan Bacan dengan tujuan akhir Surabaya, Rabu (11/2/2026).
Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ternate BKSDA Maluku, Usman, mengungkapkan, total terdapat 114 ekor satwa yang terbagi dalam empat kelompok besar.
“Secara garis besar ada empat kelompok. Pertama, kanguru pohon asli Papua sebanyak 15 ekor, tetapi satu ekor ditemukan mati saat pemeriksaan. Kedua, kuskus putih Papua sebanyak 6 ekor, satu ekor juga ditemukan mati,” jelas Usman, Jumat (13/2/2026).
Selain mamalia, petugas juga menemukan 10 ekor ular dan 82 ekor berbagai jenis biawak.
Satwa-satwa tersebut diduga telah berada di atas kapal selama dua hari dalam kondisi pengangkutan yang tidak layak, sehingga menyebabkan sebagian di antaranya mati.
Seluruh satwa yang masih hidup kini diamankan di kantor BKSDA untuk menjalani observasi dan pemeriksaan kesehatan.
Jika dinyatakan sehat dan stabil, pihak BKSDA berencana segera mengembalikan satwa-satwa tersebut ke habitat aslinya di Papua.
“Seluruh satwa saat ini kami amankan untuk pemeriksaan kesehatan. Jika dinyatakan sehat dan stabil, segera akan kami lepasliarkan kembali ke habitat aslinya,” ujar Usman.
Terkait pelaku penyelundupan, Usman menyebutkan bahwa pihak berwenang masih melakukan pendalaman. Dua orang terduga saat ini tengah menjalani proses pemeriksaan oleh kepolisian.
“Kemarin sudah dilakukan pemeriksaan oleh Kasubdit Gakkum Ditpolairud Maluku Utara dan pengambilan keterangan. Hari ini juga dilanjutkan pengambilan keterangan dari pihak BKSDA,” tambahnya.
Menanggapi tingginya angka kematian dalam kasus ini, Usman mengimbau masyarakat agar memiliki empati dan kesadaran untuk tidak terlibat dalam rantai perdagangan satwa liar, terutama spesies endemik.
"Ini satwa khas endemik di suatu wilayah. Kalau dipindahkan ke wilayah lain, mereka sangat susah beradaptasi. Kami berharap masyarakat punya empati untuk tidak menangkap dan memperjualbelikan satwa. Tingkat kematiannya sangat tinggi jika ditangani dalam kondisi seperti ini,” pungkasnya.











