Gardaanimalia.com - Ikan depik (Rasbora tawarensis), spesies endemik yang hanya hidup di Danau Laut Tawar, Aceh Tengah, Provinsi Aceh, kian terdesak oleh degradasi habitat, tekanan aktivitas manusia, serta pola pemanfaatan yang belum sepenuhnya berkelanjutan.
Kondisi ini mendorong berbagai pihak memperkuat kolaborasi konservasi berbasis adat, pendidikan, dan dukungan global demi menyelamatkan salah satu ikon keanekaragaman hayati Aceh tersebut.
Peneliti konservasi perairan tawar, Hendra Yulisman, menilai keterlibatan generasi muda menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlanjutan ikan depik. Menurutnya, perlindungan Danau Laut Tawar tidak hanya soal menjaga satu spesies, tetapi juga mempertahankan sumber air utama dan keseimbangan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat sekitar.
“Kesadaran ekologis perlu ditanamkan sejak dini. Generasi muda harus memahami bahwa depik bukan sekadar ikan konsumsi, tetapi bagian dari identitas budaya dan penyangga ekosistem danau,” kata Hendra, Rabu (28/1/2026).
Dia menjelaskan, upaya konservasi ini melibatkan koordinasi lintas lembaga, mulai dari Dinas Perikanan Aceh Tengah, Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, hingga Pemerintah Kecamatan Bintang. Para pihak sepakat mendorong model konservasi yang memadukan pendekatan ilmiah, nilai budaya lokal, serta pendidikan berbasis keanekaragaman hayati.
“Selama ini, masyarakat di sekitar Danau Laut Tawar masih mempraktikkan kearifan lokal berupa aturan adat tidak tertulis, termasuk masa larangan tangkap ikan depik pada periode tertentu. Praktik ini dinilai efektif menjaga populasi depik, meski belum terdokumentasi secara formal,” ungkapnya.
Dinas Perikanan Aceh Tengah menyatakan praktik adat tersebut akan dijadikan pijakan awal dalam penyusunan reusam (aturan) adat bersama Majelis Adat Aceh Tengah agar memiliki kekuatan sosial yang lebih luas dan berkelanjutan.
Dukungan terhadap upaya ini juga datang dari lembaga internasional seperti Re:wild dan Global Environment Facility (GEF). Dukungan tersebut diarahkan pada penguatan kapasitas lokal, konservasi spesies terancam, serta pelibatan aktif generasi muda dalam perlindungan ekosistem danau.
Namun demikian, tantangan konservasi masih besar. Minimnya dokumentasi pengetahuan adat, melemahnya ikatan generasi muda terhadap ikan depik sebagai simbol budaya, serta fluktuasi kualitas air akibat perubahan musim dan meningkatnya aktivitas pariwisata menjadi ancaman nyata bagi kelestarian spesies ini.
Sebagai langkah lanjutan, para pemangku kepentingan berencana menggelar Focus Group Discussion (FGD) multipihak untuk merumuskan reusam adat yang mengatur konservasi ikan depik dan pengelolaan berkelanjutan keanekaragaman hayati Danau Laut Tawar.
Upaya ini diharapkan menjadi fondasi kuat dalam menjaga depik agar tidak hanya bertahan sebagai spesies endemik, tetapi juga tetap hidup sebagai simbol hubungan manusia, budaya, dan alam di dataran tinggi Gayo.










