Berita

Jaga Populasi, Bali Zoo dan BKSDA Bali Lepas Liarkan 12 Ekor Rusa di TN Bali Barat

08/08/2025|Garda Animalia
Rusa timor yang dilepasliarkan di Taman Nasional Bali Barat. | Foto: Bali Zoo

Rusa timor yang dilepasliarkan di Taman Nasional Bali Barat. | Foto: Bali Zoo

Gardaanimalia.com- Rusa timor (Rusa timorensis) merupakan satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 dan berstatus vulnerable (rentan) menurut IUCN Red List.

Populasinya pun tercatat menurun (decreasing) akibat perburuan liar, kehilangan habitat, dan persaingan dengan ternak domestik. 

Rusa timor memiliki tubuh yang relatif kecil dibandingkan dengan spesies rusa lainnya. Tingginya berkisar 60 sampai 110 sentimeter, dengan panjang tubuh sekitar 85 sampai 140 sentimeter. Bobot tubuhnya dapat mencapai 40 sampai 100 kilogram, tergantung kondisi lingkungan dan jenis kelamin.

Untuk ikut menjaga kelestarian satwa langka ini, Bali Zoo bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali dan Balai Taman Nasional Bali Barat (BTNBB) telah melaksanakan kegiatan pelepasliaran 12 ekor rusa timor pada Rabu (6/8/2025).

Kegiatan ini berlangsung di area Plataran L’Harmonie, kawasan BTNBB, Kabupaten Buleleng, Bali. Momen ini menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025, sekaligus memperingati HUT ke-23 Bali Zoo.

Head of Public Relations Bali Zoo Emma Chandra menyampaikan, Bali Zoo telah berkoordinasi dengan BKSDA Bali dan Balai Taman Nasional Bali Barat (BTNBB) untuk melepasliarkan belasan rusia ini.

“Daerah tersebut merupakan lokasi yang direkomendasikan untuk pelepasliaran karena sesuai dengan habitat alami dan kondisi ekosistem yang mendukung kelangsungan hidup rusa. Untuk pelepasliaran untuk 2025 baru 12 rusa saja yang kami agendakan,” ujar Emma ketika dihubungi Garda Animalia, Jumat (8/8/2025).

Sebanyak 12 rusa timor yang terdiri dari 6 jantan dan 6 betina, dengan rentang usia 4 bulan hingga 7 tahun, dilepasliarkan ke habitat alaminya setelah menjalani masa habituasi di kandang adaptasi kawasan TNBB sejak 30 Juli 2025.

Proses ini merupakan wujud nyata dari pendekatan konservasi yang menghubungkan ex-situ (penangkaran di luar habitat alami) dengan in-situ (habitat alami) secara berkesinambungan.

Selama masa habituasi, rusa dikenalkan dengan kondisi lingkungan alaminya, seperti suara hutan, vegetasi liar, dan cuaca terbuka.

Pemantauan intensif dilakukan oleh tim lapangan BTNBB, BKSDA Bali, Bali Zoo, Tim Ranger Konservasi Plataran L’Harmonie, dan Pecalang setempat untuk memastikan adaptasi berjalan optimal.

Rusa-rusa tersebut merupakan hasil pengembangbiakan Bali Zoo, yang saat ini merawat 70 ekor rusa timor.

Di Bali Zoo, rusa telah mendapatkan perawatan menyeluruh berupa pakan hijauan segar (rumput gajah, daun kaliandra, umbi, jagung), suplementasi vitamin dan mineral, serta pemeriksaan kesehatan harian oleh tim dokter.

Pihaknya juga mengatakan, tujuan lepas liar adalah untuk menambah populasi dan diharapkan bisa menambah keragaman genetik rusa timor di TNBB.

Bali Zoo tidak hanya berperan menjaga satwa di lingkungan lembaga konservasi, tambah Emma, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar untuk mengembalikan mereka ke alam dalam kondisi sehat, kuat, dan mandiri.

Sementara, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik, yang diwakili oleh Kepala Sub Direktorat Pengawetan Spesies dan Genetik, Budi Mulyanto, dalam arahannya menyampaikan pelepasliaran 12 individu rusa timor di TNBB, yang diinisiasi CV Bali Harmoni dan Balai KSDA Bali, merupakan implementasi kebijakan konservasi spesies prioritas melalui penguatan integrasi antara program ex-situ dan in-situ.

“Langkah ini sejalan dengan strategi nasional keanekaragaman hayati dan mendukung pencapaian target perlindungan spesies dalam Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia (IBSAP),” ucapnya seperti dikutip dari Baliprawara, (6/8/2025).


Penulis: Irvan Sjafri