Gardaanimalia.com - Kabar duka kembali datang dari dunia konservasi satwa liar Riau. Belum genap sebulan setelah kematian gajah jinak Indro di Taman Nasional Tesso Nilo pada akhir Juni lalu, kini giliran Jovi, gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) binaan berusia 46 tahun di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, dinyatakan mati pada Senin (3/8/2026) malam pukul 20.47 WIB.
Jovi menghembuskan nafas terakhirnya setelah menjalani perawatan medis intensif selama lebih dari sebulan.
Plh. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Ujang Holisudin, mengungkapkan, gejala sakit pada Jovi mulai muncul sejak awal Juli 2026. Saat itu, gajah jantan tersebut menunjukkan tanda-tanda lemah, kehilangan nafsu makan, tremor, kaku pada bagian kaki, belalai, dan ekor, hingga kesulitan berdiri.
Sejak pertama kali terdeteksi, tim medis BBKSDA Riau langsung melakukan penanganan sesuai prosedur standar perawatan satwa, mulai dari terapi infus selama 24 jam, pemberian vitamin dan antibiotik, hingga pemeriksaan laboratorium secara rutin. Koordinator Tim Medis BBKSDA Riau, drh. Rini Deswita, menyampaikan, kondisi Jovi sempat menunjukkan perbaikan selama masa perawatan.
Kekakuan pada tubuhnya berangsur berkurang, nafsu makannya membaik, dan pada hari keenam ia bahkan sempat berdiri serta berjalan beberapa langkah.
"Namun, meski hasil laboratorium sempat menunjukkan penurunan tingkat infeksi, kondisi otot Jovi terus memburuk hingga berkembang menjadi yang memicu kelemahan otot berat (myopathy). Karena ini Jovi tidak mampu berdiri," ujarnya dalm siaran pers yang dikeluarkan Kementerian Kehutanan pada Selasa (4/8/2026).
Penanganan kasus ini juga melibatkan Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, yang mengoordinasikan diskusi teknis dengan sejumlah dokter hewan dari berbagai unit demi memastikan langkah medis terbaik bagi Jovi.
Tim medis menduga penyebab utama kondisi Jovi adalah komplikasi infeksi pada saluran pencernaan dan pernapasan atas, yang akhirnya memicu myopati berat. Untuk memastikan penyebab kematian secara ilmiah, nekropsi serta pengambilan sampel organ dilakukan setelah Jovi dinyatakan meninggal.
Makin Memburuk dan Kehilangan Nyawa
Kondisi Jovi mengalami penurunan drastis pada Minggu (2/8/2026), ketika ia berhenti makan dan minum meski terapi terus diberikan.
Keesokan harinya, suhu tubuhnya melonjak hingga sekitar 40°C. Tim medis sempat memberikan berbagai tindakan suportif, namun pada pukul 20.43 WIB Jovi mengalami tremor hebat sebelum akhirnya dinyatakan mati empat menit kemudian. Jenazahnya dimakamkan sesuai prosedur yang berlaku.
Jovi sendiri bergabung dengan PLG Minas sejak 18 Februari 1998 setelah berasal dari Kabupaten Indragiri Hulu. Selama lebih dari 20 tahun masa pengabdiannya, ia dikenal berperan penting dalam berbagai operasi mitigasi konflik antara manusia dan gajah liar di sejumlah wilayah Riau, menjadikannya bagian penting dari sejarah pengelolaan konflik satwa di provinsi tersebut.
BBKSDA Riau menyampaikan apresiasi kepada seluruh dokter hewan, paramedis veteriner, mahout, dan petugas lapangan yang telah merawat Jovi tanpa kenal waktu.
Pihaknya juga mengajak masyarakat untuk terus peduli terhadap kelestarian gajah sumatera yang hingga kini masih menghadapi berbagai ancaman, seraya menegaskan bahwa keberhasilan konservasi hanya bisa dicapai lewat kolaborasi menjaga habitat, menekan konflik manusia-satwa, dan mendukung program perlindungan gajah di Indonesia.
















