Berita

Gowes dari Jakarta ke Batang Toru, Pesepeda Serukan Perlindungan Hutan dan Orangutan

03/08/2026|Bayu Nanda
Komunitas Sepeda Chemonk dan Satya Bumi meresmikan perjalanan sejauh 1700 kilometer dari Jakarta menuju Batang Toru untuk...

Komunitas Sepeda Chemonk dan Satya Bumi meresmikan perjalanan sejauh 1.700 kilometer dari Jakarta menuju Batang Toru untuk serukan perlindungan hutan dan orangutan di Monas, Jakarta, pada Minggu (2/8/2026). | Foto: Satya Bumi

Gardaanimalia.com - Lima orang pesepeda dari Komunitas Sepeda Chemonk bersama Satya Bumi resmi memulai perjalanan dari Monumen Nasional, Jakarta, menuju titik akhir Batang Toru, Minggu (2/8/2026). 

Perjalanan sejauh 1.700 kilometer ini dilakukan dalam rangka kampanye perlindungan hutan dan orangutan, khususnya orangutan tapanuli. 

Para pesepeda diperkirakan sampai ke titik lokasi setelah menempuh 18 hari perjalanan, tepat pada 19 Agustus 2026 nanti saat peringatan Hari Orangutan Sedunia. 

Bertajuk "Ekspedisi Hutan Merdeka", perjalanan mereka membawa pesan mendalam "No Second Home, Restore Their Forest".

"Satya Bumi melihat bahwa hutan Indonesia hingga saat ini belum merdeka dari ancaman deforestasi, kooptasi wilayah oleh industri dan aktivitas ekstraktif yang merusak hutan," jelas Communications Manager Satya Bumi sekaligus penanggungjawab ekspedisi Restu Diana.

Terlebih, lanjutnya, ekosistem Batang Toru adalah habitat satu-satunya orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis), spesies yang statusnya saat ini critically endangered menurut IUCN. Saat pertama kali teridentifikasi pada 2017, diperkirakan spesies ini memiliki populasi kurang dari 800 individu.

Penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa jumlahnya diperkirakan semakin merosot sekitar tujuh persen pascabencana Aceh-Sumatra November 2025 lalu. Artinya, terdapat kehilangan sekitar 58 individu orangutan tapanuli. Para ahli menyebutkan, penurunan satu persen jumlah individu orangutan tapanuli per tahun akan membuat kepunahan mereka semakin dekat.

"Ini wake up call yang harus kita sadari bersama bahwa ancaman kepunahan ini sudah di depan mata," kata Restu. 

Data Satya Bumi menunjukkan bahwa deforestasi dan pembukaan lahan masif di area ekosistem Batang Toru diduga melibatkan korporasi-korporasi yang beraktivitas di sana.

PT Agincourt Resources, perusahaan pertambangan emas tercatat telah melakukan pembukaan lahan seluas 603,2 hektare sejak awal beroperasi hingga 2025.

Selain itu, hingga 2024, perusahaan yang mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru telah melakukan deforestasi seluas 535,25 hektare, sebagian wilayahnya merupakan habitat orangutan.

Dalam perjalanan kali ini, lima pesepeda juga akan merekam lanskap Pulau Sumatera yang mereka lewati secara lebih dekat. 

Tidak hanya Satya Bumi dan Komunitas Sepeda Chemonk, kampanye ini juga menggandeng Kamerawan Jurnalis Indonesia (KJI).

Kampanye yang telah berlangsung selama tiga tahun ini bertujuan mendekatkan isu perlindungan orangutan dan meningkatkan kesadaran publik untuk menjaga kelangsungan hidup mereka.

"Hilangnya puluhan individu orangutan tapanuli akibat satu bencana ekologis harus menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Habitat mereka sudah terfragmentasi menjadi tiga meta-populasi kecil, sehingga ketika bencana ekologis ini terjadi kekhawatirannya adalah habitat mereka akan semakin terisolasi menjadi meta-populasi yang lebih kecil lagi," tambah Juru Kampanye Satya Bumi, Riezcy Cecilia Dewi.

Ia menegaskan, habitat yang terfragmentasi itu akan meningkatkan risiko perkawinan kerabat. 

"Jika kerusakan ini terus dibiarkan dan tidak segera dilakukan upaya pemulihan lingkungan, risiko kepunahan orangutan tapanuli akan semakin besar, dan bencana serupa akan terus terjadi secara berulang," ujarnya.