Gardaanimalia.com - Idealnya, burung dapat dengan mudah terbang dan menghindari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, bagaimana dengan burung endemik, yang hanya hidup di suatu area tertentu? Mereka tak punya banyak pilihan untuk terbang dan menyelamatkan diri dari ancaman karhutla.
Journal of Environmental Economics and Management berjudul The impact of wildfire smoke on local avian biodiversity yang terbit pada Agustus 2026, mengungkap bahwa asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memicu penurunan keanekaragaman burung pada musim kawin berikutnya.
Padahal, burung memainkan peran vital dalam ekosistem. Kemusnahan beberapa spesies saja dapat mengganggu proses penyerbukan, penyebaran benih, dan pengendalian hama. Dampaknya juga memengaruhi kehidupan manusia yang bergantung pada ekosistem hutan dan pertanian.
Sementara itu, kebakaran hutan terus melanda pelbagai tempat di dunia, khususnya Indonesia. Hal tersebut mengancam kelangsungan hidup spesies burung migran dan endemik, bahkan setelah api padam.
Para peneliti ekonomi lingkungan dari ETH Zurich dan University of Bern dalam studi itu menganalisis data sekitar 2.800 rute migrasi burung tetap yang disediakan oleh North American Breeding Bird Survey selama 2008 hingga 2022.
Mereka menggabungkannya dengan data polusi partikel kecil akibat karhutla di AS. Mereka menjelaskan bahwa peningkatan asap dari rata-rata tahunan dapat menurunkan jumlah spesies sekitar 3 persen.
Spesifik pada rute survei dengan rata-rata kehadiran 55 spesies burung, karhutla telah mengurangi 1 hingga 2 spesies pada musim berkembang biak berikutnya.
Perubahan lebih signifikan terjadi di lokasi pemantauan yang paling terdampak karhutla, seperti di hutan beriklim sedang di bagian timur atau di gurun. Wilayah tersebut merupakan bagian dari rute 50 sampai 60 spesies burung yang aktif berkembang biak, seperti burung kicau, pelatuk, dan burung pemangsa. Wilayah tersebut juga terpapar asap karhutla dalam jangka waktu lama.
Ketika survei dilakukan pada musim berkembang biak berikutnya, berbagai kelompok spesies dapat hilang sekaligus dari rute yang biasanya dilalui.
“Dampaknya memang tidak besar, tetapi dapat diukur. Dan kita tidak pernah tahu spesies mana yang akan menghilang dan mana yang sangat penting bagi suatu ekosistem,” terang Sarah Meier, penulis pertama makalah.
“Oleh karena itu, bahkan penurunan kecil dalam jumlah spesies pun, dalam skenario terburuk, dapat menyebabkan ekosistem menjadi tidak seimbang.”
Ancaman Kepunahan Burung Endemik Indonesia
Burung migran memiliki kemampuan untuk menghindari wilayah yang sebelumnya dianggap berbahaya. Sebaliknya, burung endemik tidak memiliki jarak perpindahan yang jauh.
Indonesia mencapai puncak karhutla tertinggi pada Agustus 2026. Ekosistem hutan berubah menjadi lahan terbuka, sehingga mengubah lanskap ekosistem endemik.
Sebuah studi di Journal of Biogeography pada Juli 2026 menunjukkan ancaman pembukaan lahan di Indonesia terhadap keanekaragaman spesies burung. Penelitian yang dipimpin oleh Halvina Saiya dari School of Biosciences, University of Sheffield tersebut menyurvei sekitar 1.410 titik pengamatan di tujuh pulau besar dan kecil di Indonesia.
Hasil temuan menunjukkan bahwa hutan primer yang terfragmentasi dan berubah menjadi lahan terbuka mengancam keberadaan spesies endemik spesialis, yang membutuhkan interior hutan yang stabil dan tenang untuk berkembang biak serta mencari makan. Kian menyempitnya ruang jelajah juga menjadi ancaman ganda, sebab membuka pintu perburuan.
Temuan juga menambahkan, penyusutan hutan primer di pulau besar seperti Kalimantan dan Sulawesi, memicu dominasi spesies kerabat yang lebih generalis. Spesies generalis ini lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan yang terganggu.
Akibatnya, meskipun berkerabat secara filogenetik, burung generalis dapat mengancam burung spesialis melalui persaingan sumber daya.
Para peneliti menemukan bahwa luas hutan dan keberlanjutan hutan menjadi faktor utama yang menentukan jenis-jenis burung yang hidup di suatu pulau.
Kawasan hutan yang masih utuh juga menjadi tempat bertahan spesies-spesies dengan sejarah evolusi yang unik, sekaligus menghadapi risiko kepunahan yang tinggi.
"Di seluruh kepulauan ini, luas dan keberlanjutan hutan menjadi faktor lingkungan utama yang membentuk komunitas burung serta mempertahankan spesies-spesies yang unik secara evolusioner dan terancam punah," tulis para peneliti.
Berdasarkan temuan tersebut, mereka mendorong agar perlindungan hutan primer menjadi prioritas dalam perencanaan konservasi di tingkat pulau.
Menurut mereka, menjaga hutan yang masih tersisa lebih efektif untuk mempertahankan keanekaragaman hayati daripada bergantung pada restorasi, karena pemulihan ekosistem membutuhkan waktu yang panjang.













