Hutan Api
Bekantan jantan bingung sendiri,
Malamnya di ganggu, setan alas!.
Dimanalah betinanya, anak-anaknya.
Pergi! Pergi! Lari! Lari! Lari yang jauh, sampai mati!
Orangutan betina apalagi, tak bisa lari,
kakinya kaku takut sendiri.
Anak yang digendongnya tadi jatuh, hilang.
Kemanakah jantannya, pergi!
Jauh, sedari tadi!
Menangis dia!
Apa yang sedang terjadi?
Muncul di televisi, di berita-berita. Kalau hutan, tak lagi ada.
Kemana pemiliknya?
Hutan ini kadaluarsa, harus diperbaharui.
Kenapa api di mana-mana?
Burung enggang ngos-ngosan, kabur dari kepulan asap.
Siapa yang bertanggung jawab? Tuhan!
Batas Kabut dan Asap
Di lereng-lereng gunung, terlambat terang.
Pagi subuh dingin selimut kabut.
Matahari terlambat, muncul di sisi timur dibalik gunung.
Saya pikir ini bukan soal kebakaran hutan mas, ini soal kabar, kalau..mana mungkin ada asap tanpa adanya api.
Tapi apinya muncul di hutan-hutan paman!
Asapnya tebal, sampai matahari tak bisa melihat dengan jelas keadaan.
Kalaupun pun bisa, temaram.
Saya kira ada benarnya, seumpama nanti hujan apa yang terjadi, mas?
Alam punya cara bagaimana mengatasi keadaan.
Tapi, apakah paman siap? Bersiaplah.
Monster Api
Api itu cemburu, membakar hati yang ragu, Api itu semangat, membakar jiwa yang layu.
Ia setan yang membisikkan amarah, Ia neraka yang menjanjikan merah.
Tapi lihatlah jemari yang menggigil itu, Api itu menghangatkan, menyelimuti beku.
Api itu memanaskan, mematangkan makanan, Api itu sumber cahaya, anggun di kegelapan.
Ia adalah awal dari segala peradaban.
Lalu, apalagi? Api itu membakar, tanpa pandang bulu, Api itu neraka, pembawa pilu.
Taukah kamu soal jerit di balik rimbun hijau?
Soal terjadinya neraka kecil yang membuat hutan, satwa dan manusia mengabu?
Hutan yang lumat, satwa yang kehilangan rumah, Dan manusia, yang memanen abu dan sesak napas yang pasrah.
Api kecil itu korek, lilin di sudut meja
Cukup ditiup, "Fffuuuh..." dan ia tiada.
Namun api besar itu adalah raksasa kelaparan, Melahap ratusan ribu hektar tanpa ampunan.
Kini... monster itu menyelusup ke dalam dada bumi, Menjadi bara gambut yang sembunyi dan abadi.
Di atas tanah ia tampak mati, di bawah ia menari,
Sampai saat ini.....memakan hari.
Bondowoso-Situbondo, 2026.















