Gardaanimalia.com - Muhammad Farel sedang berada di teras rumahnya di Gang Amal, Jalan Thamrin, Kelurahan Brandan Barat, Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatra Utara pada Kamis (25/9/2025).
Pelajar SMP yatim piatu ini tidak menyangka bahwa seekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) menggigit dirinya hingga terluka pada bagian leher dan perut. Akibat luka ini, Farel harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawat intensif.
Kejadian ini cukup menggemparkan, karena Farel bukan satu-satunya warga yang menjadi korban agresivitas monyet ekor panjang (MEP) tersebut.
Korban lainnya adalah Mahmud (53), seorang penjual stiker dan jok sepeda motor di Jalan Wahidin. Ia sedang duduk di tempatnya berjualan ketika seekor monyet datang dari arah belakang dan menyebabkan luka di lehernya pada Rabu (24/9/2025).
Beberapa jam kemudian monyet liar itu kembali membuat heboh warga usai menyergap Yusuf, seorang balita berusia 4 tahun di Jalan Kalimantan Lingkungan II Kelurahan Brandan Barat, Kecamatan Babalan. Lokasi tersebut berjarak sekitar 200 meter dari lokasi korban penjual stiker.
Merespons peristiwa beruntun ini, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara menerjunkan petugas untuk menangkap seekor monyet liar tersebut. Sekira pukul 08.00 WIB, timnya terjun ke Pangkalan Brandan dengan membawa kandang. Hal itu disampaikan Kepala Seksi KSDA Wilayah II Stabat, Bobby Nopandry, Jumat (26/9/2025).
“Sabar, ya, nanti kalau sudah tertangkap monyetnya kita update," ujar Bobby.
Bobby mengakui upaya penangkapan terkendala karena target cepat berpindah tempat dan pandai bersembunyi.
“Ditambah lagi ramainya masyarakat yang datang ingin menyaksikan upaya penangkapan target walau sudah diperingatkan oleh petugas kecamatan dan desa,” katanya.
Diduga, sikap agresif yang ditunjukkan MEP ini terjadi disebabkan hidupnya merasa terancam karena habitatnya, yakni hutan mangrove, di desa tersebut telah rusak oleh ulah manusia.
Namun ada juga yang menduga, MEP yang menyerang warga ini merupakan hewan peliharaan warga yang terlepas dan panik karena kehilangan kelompoknya.
Jika Stres, MEP Dapat Menyerang Manusia
Menanggapi kejadian itu, Dokter Hewan Wendi Prameswari, Senior Programme Officer One Health and Welfare Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menduga bahwa serangan yang terjadi di Langkat, apabila hanya dilakukan seekor MEP, maka bisa jadi peliharaan warga yang terlepas.
MEP peliharaan lebih adaptif terhadap lingkungan manusia dan lebih agresif ketika masuk ke rumah. Wendi menduga MEP mengalami stres dan berputar-putar (atau berpindah-pindah) dari satu ke rumah lain untuk mencari makan.
“Kalau MEP mengalami stres maka dia akan merusak barang dan menyerang manusia. Jika ada warga yang diserang, maka harus segera lapor ke puskesmas untuk mendapatkan vaksin anti rabies. Ini bukan saja di Langkat, kami mendapatkan laporan ada anak kecil di Bogor juga digigit dan akhirnya juga mendapatkan vaksin anti rabies,” jelas Wendi kepada Garda Animalia, Senin (30/9/2025).
Wendi melanjutkan, melepasliarkan MEP yang sudah lama dipelihara warga ke habitatnya bukanlah hal yang mudah. Hal ini karena MEP merupakan satwa liar yang berkelompok dan mempunyai pimpinan. Mereka tidak akan menerima MEP dari luar kelompoknya, sehingga perlu waktu lebih panjang untuk merehabilitasi dan melepasliarkan MEP.
MEP adalah Primata yang Sangat Adaptif
Sementara itu, ahli Biologi Konservasi Universitas Muhammadiyah Belitung Randi Syafutra menyebut MEP adalah primata yang sangat adaptif. Satwa ini piawai melompat dari satu cabang ke cabang lain, menggunakan ekor yang panjangnya seperti panjang tubuhnya dari kepala sampai ekor.
MEP adalah satwa yang cerdas memecahkan persoalan sederhana dan oportunis dalam mencari makanan.
Ia mampu bertahan hidup di berbagai ekosistem, mulai dari hutan mangrove, pegunungan, ladang, hingga permukiman manusia.
Namun, kemampuan beradaptasi itu menjadi pedang bermata dua. Hutan yang semakin sempit membuat monyet mencari makanan di kebun dan rumah warga. Setiap kali hal itu terjadi, label “hama” menempel padanya.
“Padahal, jika kita mau jujur, monyet datang ke halaman kita bukan karena ia berubah menjadi rakus, melainkan karena kita yang pertama kali merampas rumahnya,” tulis Randi dalam artikelnya di Kumparan.











