Berita

Lima Kali di 2023, Konflik Buaya di Bangka Makan Korban Jiwa

1177
×

Lima Kali di 2023, Konflik Buaya di Bangka Makan Korban Jiwa

Share this article
Ilustrasi buaya air asin atau saltwater crocodile. | Foto: berichard/Wikimedia Commons
Ilustrasi buaya air asin atau saltwater crocodile. | Foto: berichard/Wikimedia Commons

Gardaanimalia.com – Buaya muara (Crocodylus porosus) atau buaya air asin yang berkonflik dengan sepasang suami istri di Bangka Belitung belum juga ditemukan.

Alobi Foundation pada Selasa (27/6/2023), beri tahu kepada Garda Animalia bahwa warga masih mencari keberadaan buaya air asin.

pariwara
usap untuk melanjutkan

Di sisi lain, tim Alobi telah datang ke lokasi untuk lakukan sosialisasi kepada warga dan pasang imbauan agar konflik tidak berlanjut.

Sebelumnya, diberitakan terjadi interaksi negatif antara buaya muara dan pasangan suami istri pada Jumat (23/6/2023) sekitar pukul 07.00 WIB.

Korban adalah Lahi dan Rosmina, warga Desa Sebagin, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan. Satwa muncul dan bertindak agresif saat dua warga itu tengah pasang jaring ikan di muara Pantai Tumpun.

Lahi berhasil diselamatkan, tetapi Rosmina tidak tertolong setelah alami luka di bagian paha, tangan kanan, dan leher.

Saat ini, Lahi sedang jalani perawatan intensif di puskesmas terdekat. Sedangkan, Rosmina telah dimakamkan di TPU Desa Sebagin.

Lahi (50), korban interaksi negatif dengan buaya di Desa Sebagin, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan. | Foto: Tribun Bangka/Kapolsek Simpang Rimba
Lahi (50), korban interaksi negatif dengan buaya di Desa Sebagin, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan. | Foto: Tribun Bangka/Kapolsek Simpang Rimba

Habitat Buaya Air Asin Rusak, Konflik Marak

Kepala Resort BKSDA Bangka Belitung Septian Wiguna tanggapi konflik yang marak terjadi antara manusia dan satwa di wilayahnya.

Ia berkata bahwa seiring bertambahnya jumlah buaya diikuti dengan peningkatan jumlah manusia, tak menutup potensi hal itu dapat picu konflik dan ganggu habitat satwa.

“Kalau alam sudah rusak, mereka pasti akan keluar. Sehingga hal inilah yang kadang menimbulkan gesekan penggunaan ruang dalam habitatnya antara manusia dan buaya,” jelas Septian, mengutip Tribun Bangka.

Tumpang tindih antara habitat satwa liar dan manusia dapat mengakibatkan sumber pakan buaya air asin menurun dan mulai serang manusia.

Kepolisian Berhasil Menangkap Pelaku Perdagangan Trenggiling di Kalimantan

“Ini perlu ada kajian ilmiah untuk menyimpulkan penyebab utamanya,” kata Septian.

Tahun Ini Lima Orang Meninggal Dunia

Mengutip Babel Pos, Rosmina adalah korban jiwa kelima akibat konflik antara buaya air asin dan manusia di Bangka Belitung selama 2023.

Peristiwa pertama menimpa warga Desa Mendo, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka Arpani (24) pada Kamis (5/1/2023) saat sedang pancing ikan.

Lalu, 10 Januari 2023, Saidar (40), warga Desa Kerantai, Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah, berkonflik ketika bawa pancing tajur.

Ketiga, terjadi pada warga Desa Riding Panjang, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka. Warga itu dijumpai tak bernyawa di Sungai Perimping pada 31 Mei 2023.

Terakhir, konflik terjadi dengan Robuan alias Kalu (39), warga Desa Bukit Layang, Kecamatan Bakam, Kabupaten Bangka. Konflik terjadi saat Robuan tengah pasang jaring ikan di bekas tambang timah pada 2 Juni 2023.

Namun, perlu diketahui, buaya muara adalah spesies satwa yang dilindungi oleh negara. Namanya ada Permen LHK Nomor P.106 Tahun 2018.

5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments