Gardaanimalia.com - Belasan siswa SMA/SMK antusias menyusuri hutan penelitian Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara. Meski tak berjumpa langsung dengan orangutan sumatera (Pongo abelii), mereka sudah merasa beruntung dapat menemukan sarang dan sisa makanan primata yang berstatus kritis (critically endangered) menurut IUCN itu.
Sebanyak 15 siswa dari tiga sekolah menengah mengikuti Education and Field Trip to Ketambe Research Station pada 23–25 Agustus 2025. Di sana, mereka belajar mengenal kawasan konservasi, peran taman nasional, serta pentingnya satwa kunci Leuser, seperti orangutan sumatera, gajah sumatera, badak sumatera, dan harimau sumatera dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
“Melalui edukasi di alam, kami berharap siswa-siswi dapat memahami betapa pentingnya Kawasan Ekosistem Leuser bagi keberlangsungan hidup manusia dan satwa liar di masa depan,” kata Staf Edukasi Kami Sahabat Leuser (KSL), Yoza, Kamis (28/8/2025).
Selain menjelajahi hutan, para peserta juga diajak melihat penangkaran kupu-kupu, kawasan restorasi, hingga menikmati madu kelulut hasil budidaya kelompok Restorasi Aunan Sepakat Aceh Tenggara.
Tidak hanya itu, mereka mendapat pelatihan dasar jurnalistik berupa cara menulis berita sederhana dan membuat konten edukasi di media sosial. Materi ini disampaikan oleh jurnalis Aceh, Mardili, yang menekankan pentingnya peran anak muda dalam menyuarakan isu lingkungan melalui karya tulis dan konten digital.
Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) IV Badar, Sabaruddin, menilai kegiatan ini penting untuk membangun kesadaran sejak dini.
“Harapan kita, lahir duta-duta konservasi muda yang bisa menjadi corong penyelamat TNGL,” ujarnya.
Antusiasme siswa terlihat dari pengalaman yang mereka ceritakan. Mutia Radina Safitri, siswi SMA Negeri 1 Kutacane, mengaku kagum bisa melihat langsung sarang orangutan, menyaksikan kedih, dan mendengar suara burung langka seperti kuau raja dan rangkong.
“Walaupun tidak berjumpa langsung dengan orangutan, tapi perjalanan kami cukup berkesan dan seru,” kata Mutia.
Siswa lain, Arii Rahadi dari SMK PP Negeri Kutacane, mengaku mendapat banyak pengetahuan baru.
“Banyak pengetahuan seperti mengenal jenis flora fauna, belajar jurnalistik, dan menikmati alam,” ungkapnya.
Stasiun Penelitian Ketambe berdiri sejak 1971 dan dikenal sebagai stasiun riset orangutan pertama di dunia. Dengan luas 450 hektare, kawasan yang dikelola Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama Balai Besar TNGL dan Dinas Kehutanan Aceh ini menjadi ruang belajar generasi muda tentang pentingnya konservasi satwa kunci yang kini menghadapi ancaman serius akibat deforestasi dan perburuan.
Tak hanya orangutan, hutan di Ketambe juga dihuni berbagai primata lain seperti kedih, beruk, kukang sumatera, dan siamang. Selain itu, terdapat pula mamalia besar, seperti beruang madu (Helarctos malayanus) dan macan dahan (Neofelis diardi), yang menandakan tingginya keanekaragaman hayati di kawasan ini.
Penulis: Mardili











