Berita

Mengembalikan Badul, Korwas, dan Asoka ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya

23/12/2025|Nadaa
Kolaborasi dalam pelepasliaran orangutan ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Foto YIARI - Mengembalikan Badul Korwas...

Kolaborasi dalam pelepasliaran orangutan ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. | Foto: YIARI

Gardaanimalia.com - Tiga orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) bernama Badul, Korwas, dan Asoka berhasil dikembalikan ke alam liar pada Selasa (16/12/2025). Pelepasliaran ini merupakan hasil kerja sama antara BKSDA Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR), dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Ketiga orangutan ini dilepasliarkan di kawasan TNBBBR wilayah Resort Mentawai, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi. Lokasi ini dipilih karena kondisi hutan di kawasan tersebut masih terjaga baik dengan ketersediaan pakan yang melimpah. 

Selain itu, kawasan konservasi ini memiliki gangguan manusia yang minim dan mendapat pengawasan rutin melalui patroli BTNBBBR.

Sebelum dikembalikan ke habitat alaminya, ketiga orangutan menjalani proses rehabilitasi di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI, Desa Sungai Awan Kiri, Ketapang. Program rehabilitasi ini bertujuan mengembalikan naluri dan kemampuan alami mereka, seperti mencari makanan, menjelajah hutan, membuat sarang, serta membangun kembali sifat liar dan menjaga jarak dari manusia.

Dalam kondisi normal, bayi orangutan belajar keterampilan bertahan hidup dari induknya selama 6-8 tahun. Namun, orangutan yang terpisah dari induknya, kehilangan kesempatan belajar dan memerlukan rehabilitasi intensif.

Menurut drh. Andini Nurillah, Manager Animal Management YIARI, kesehatan menjadi prioritas utama sebelum pelepasliaran dilakukan. 

"Badul, Korwas, dan Asoka telah melalui serangkaian pemeriksaan kesehatan yang ketat selama masa rehabilitasi. Kondisi fisik mereka baik, kesehatan stabil, dan perilaku mereka mendukung kehidupan di alam liar," jelasnya mengutip rilis di laman YIARI, Minggu (21/12/2025).

Prosedur medis pra-pelepasliaran mencakup pemeriksaan fisik, tes penunjang, penimbangan berat badan, dan verifikasi identitas.

Setelah pelepasliaran, tim gabungan YIARI dan BTNBBBR akan terus memantau proses adaptasi ketiga orangutan. Fokus pemantauan meliputi kemampuan mencari makanan, membuat sarang, dan mempertahankan perilaku alami di lingkungan barunya.

Kehadiran ketiga orangutan ini diharapkan dapat memperkuat populasi orangutan kalimantan di TNBBBR dalam jangka panjang. Sebagai penyebar biji dan pembuka ruang tumbuh bagi tanaman hutan, orangutan memiliki peran vital dalam menjaga ekosistem hutan tetap sehat dan lestari.

Kisah Lampau Bedul, Korwas, dan Asoka

Badul adalah orangutan jantan yang sempat bersinggungan dengan manusia. Sebelum dipindahkan ke YIARI, ia dititiprawatkan di Sinka Island Park. Pola hidupnya jauh dari kondisi hutan sehingga ia harus menjalani rehabilitasi. 

Selama delapan tahun, tim medis dan perawat satwa YIARI mendampingi Badul hingga ia tumbuh menjadi individu yang aktif menjelajah jauh, mahir mencari pakan alami di hutan, dan piawai membuat sarang sendiri.

Dengan kenaikan berat badan hampir empat kali lipat sejak pertama kali tiba, serta hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan kondisinya sangat baik, Badul kini dinilai telah lulus dari “sekolah hutan” dan siap kembali hidup di hutan TNBBBR.

Korwas adalah orangutan betina yang kisahnya bermula dari perdagangan ilegal satwa liar melalui media sosial. Ia disita oleh Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) dan kemudian dibawa ke Pusat Rehabilitasi YIARI pada 23 Agustus 2017.

Saat pertama tiba, Korwas datang dengan membawa “jejak” masa lalunya. Ia mengalami infeksi jamur kulit (dermatofitosis) yang menimbulkan lesi-lesi kering berbentuk cincin di tubuhnya.

Setelah menjalani terapi antijamur, kondisinya membaik dan Korwas mulai bergabung dengan orangutan lain di sekolah hutan.

Berangsur-angsur, perilaku Korwas semakin menunjukkan sifat liar yang dibutuhkan untuk hidup di hutan, daya jelajahnya jauh, perilaku foraging-nya baik, dan ia cenderung menjauhi manusia, termasuk tim medis dan perawat satwa.

Setelah dinyatakan sehat dalam pemeriksaan terakhir, Korwas siap mengakhiri masa rehabilitasinya dan kembali menjalani hidup sebagai orangutan liar di jantung TNBBBR.

Sementara, Asoka adalah orangutan jantan yang diselamatkan dari warga di Sungai Besar. Saat ditemukan, ia masih bayi dan diperkirakan berusia sekitar lima bulan ketika dipelihara.

Menurut keterangan warga, Asoka ditemukan saat mereka memancing di sungai, lalu dibawa pulang dan diberi pakan susu kental manis setiap hari. Pola asuh dan makanan yang tidak sesuai inilah yang membuat Asoka datang ke YIARI pada 27 Juli 2015 dengan kondisi rentan dan membutuhkan perhatian intensif. 

Dengan pendampingan tim medis dan perawat satwa, Asoka belajar memanjat, mencari pakan hutan, memilih daun dan buah untuk pakan, serta membuat sarang.

Sepuluh tahun setelah pertama kali datang, Asoka kini aktif berjalan jauh, mandiri mencari pakan, dan memiliki perilaku sosial yang baik dengan orangutan lain. Hasil pemeriksaan kesehatan terakhir menunjukkan kondisi yang stabil dan sehat. 

Uploaded content
Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran memakan waktu selama tiga hari dari Pusat Rehabilitasi YIARI. Warga desa turut terlibat dan mendukung proses pelepasliaran. | Foto: YIARI

Pelepasliaran Sebagai Momen Penguatan Transparansi

Sementara itu, Direktur Program Operasional YIARI, Argitoe Ranting, menyampaikan bahwa kegiatan pelepasliaran ini juga menjadi momentum penting dalam penguatan transparansi dan komunikasi konservasi kepada publik.

“Pelepasliaran orangutan ini merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Kehutanan dan YIARI, serta menjadi bagian dari keberhasilan yang patut diapresiasi dalam upaya penyelamatan dan rehabilitasi orangutan. Dalam beberapa tahun terakhir, kami tidak mendapatkan izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melakukan publikasi atas kegiatan-kegiatan tersebut,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dampak dari kebijakan tersebut tidak hanya terbatas pada aspek komunikasi, tetapi juga berimplikasi serius terhadap penanganan konflik dan penyelamatan satwa di lapangan.

“Pada periode tersebut, berbagai pembatasan sering kali disampaikan oleh kepala-kepala balai di daerah dengan mengatasnamakan arahan kementerian. Situasi ini menimbulkan kebingungan di lapangan, menghambat koordinasi, bahkan dalam beberapa kasus menghambat proses penyelamatan dan translokasi orangutan yang seharusnya dapat segera dilakukan," paparnya.

Akibatnya, pihaknya bertemu situasi ketika individu orangutan tidak tertangani tepat waktu, konflik dengan masyarakat meningkat, dan menyebabkan kerugian akibat kerusakan tanaman kebun warga.

Menurut Argitoe, kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.

“Karena itu, kami menyambut baik ruang publikasi dan keterbukaan yang kini tersedia. Sebagai mitra Kementerian Kehutanan, kami memandang transparansi, kejelasan kewenangan, dan komunikasi yang terbuka sebagai fondasi penting agar upaya konservasi berjalan efektif, melindungi orangutan, sekaligus meminimalkan dampak negatif bagi masyarakat,” tutupnya.