Berita

Pascabanjir dan Longsor, Warga Bener Meriah Kembali Berhadapan dengan Gajah Liar

09/01/2026|Mardili
Ilustrasi konflik gajah sumatera dan manusia Foto pujatvacehcom - Pascabanjir dan Longsor Warga Bener Meriah Kembali Berh...

Ilustrasi konflik gajah sumatera dan manusia. | Foto: pujatvaceh.com

Gardaanimalia.com - Ketika warga di dataran tinggi Gayo belum sepenuhnya bangkit dari bencana banjir dan longsor, konflik lama kembali muncul ke permukaan.

Kawanan gajah liar kembali memasuki perkebunan dan permukiman warga di Desa Seni Antara, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, menambah daftar tekanan yang dihadapi masyarakat pascabencana. 

Sejak 27 Desember 2025 hingga 7 Januari 2026, gajah liar dilaporkan berulang kali melintas di kebun kopi dan area yang berbatasan langsung dengan rumah warga. 

Saat akses jalan masih terputus dan rumah-rumah yang belum sepenuhnya pulih akibat terjangan banjir dan longsor, sejumlah tanaman rusak, gubuk kebun roboh, dan masyarakat merasa tidak aman karena peristiwa ini.

Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, terutama di Bener Meriah, telah menyebabkan korban jiwa, kerusakan rumah, serta memutus akses antar desa. Di tengah situasi tersebut, warga kini dihadapkan pada konflik dengan satwa liar yang juga tengah berjuang mempertahankan ruang hidupnya.

Video pergerakan kawanan gajah, termasuk anak gajah yang beredar di media sosial memperlihatkan betapa tipisnya batas antara permukiman manusia dan jalur jelajah satwa.

Kondisi ini mencerminkan rapuhnya lanskap ekologis di wilayah dataran tinggi Gayo, di mana perkebunan dan permukiman terus menekan habitat alami gajah.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Ujang Wisnu Barata, menyebut pihaknya telah melakukan respons sejak akhir Desember 2025.

“Pada 28 Desember 2025, kami sudah turun ke lokasi. Namun, akses ke kawasan tersebut membutuhkan waktu sekitar dua hari karena medan yang cukup berat,” kata Ujang, Rabu (7/1/2026).

Ujang mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan tim di lapangan, BKSDA memastikan kawanan gajah telah menjauh ke kawasan pegunungan. Hingga kini belum ada laporan lanjutan terkait kembalinya gajah ke area kebun dan permukiman.

“Dari giat tim, dipastikan gajah sudah menjauh ke gunung. Sampai sekarang kami belum menerima informasi dari reje (pemimpin kampung) maupun Danramil terkait gajah turun kembali,” ucapnya.

Lanjutnya, meski demikian, pemantauan tetap dilakukan. Tim Conservation Response Unit (CRU) disebut terus menggali informasi dan bersiaga di lapangan.

Ujang juga mengungkapkan bahwa konflik ini turut berdampak pada fasilitas konservasi, dengan sebagian camp Conservation Response Unit (CRU) dilaporkan rusak akibat pergerakan gajah liar.

Konflik manusia dan gajah di Bener Meriah bukan sekadar insiden tunggal, melainkan cerminan persoalan struktural: menyempitnya habitat satwa, perubahan bentang alam, serta lemahnya mitigasi konflik di kawasan rawan interaksi.

Dalam kondisi pascabencana, beban ini menjadi berlapis. Warga berjuang memulihkan kehidupan, sedangkan gajah mencari ruang jelajah yang kian terbatas.

Situasi ini menegaskan urgensi pendekatan jangka panjang yang tidak hanya berorientasi pada pengamanan manusia, tetapi juga pemulihan habitat dan penataan ruang yang adil agar konflik tidak terus berulang dan keselamatan semua pihak dapat terjaga.