Peneliti: Sisik Trenggiling Tidak Mengandung Tramadol HCL untuk Bahan Sabu


Sisik trenggiling.

Gardaanimalia.com – Indonesia merupakan salah satu habitat dari Trenggiling sunda (Manis javanica). Satwa ini tersebar di pulau Kalimantan, Sumatera, dan Jawa. Populasinya masih belum diketahui karena data mengenai satwa ini sangat minim sekali.

Trenggiling merupakan mamalia darat yang dikenal karena sisik pelindung tubuhnya. Tapi sisik merekalah yang menjadikan satwa ini menjadi yang paling banyak diperdagangkan di dunia. Kondisi ini menempatkan mereka dalam status Appendiks I yang dikeluarkan oleh Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

Dalam kajian data yang diperoleh dari laporan Traffic, terdapat sebanyak 111 catatan penyitaan Trenggiling dalam periode 6 tahun dimana Indonesia terlibat sebagai negara pemasok, tempat penyitaan dan sebagai negara tujuan.

Antara tahun 2002 dan 2008 menemukan sekitar 49.662 ekor Trenggiling diperdagangkan di Indonesia, sebagian besar disita di wilayah Sumatra sebanyak 83%. Hal ini menunjukkan bahwa Sumatra merupakan hotspot jalur pengumpulan satwa Trenggiling sebelum mereka diperdagangkan. Permintaan paling tinggi berasal dari Cina, Vietnam dan Hong kong.

Sisik trenggiling banyak diperdagangkan dengan alasan khasiat medis untuk pengobatan tradisional Cina. Sisik ini dipercaya dapat menghilangkan rasa nyeri, memperbanyak ASI, demam malaria, mengobati wanita yang kesurupan, dan ketulian.

Selain sebagai obat tradisional, sisik Trenggiling juga diklaim dapat digunakan sebagai bahan narkoba jenis sabu-sabu. Hal ini disampaikan oleh Pakar Lingkungan dan Kesehatan Universitas Riau, Ariful Amri bahwa sisik Trenggiling mengandung zat aktif Tramadol HCL yang merupakan partikel pengikat zat pada psikotropika jenis sabu-sabu dikutip dari Antara (Sabtu, 24 April 2010).

Klaim yang salah

Isu mengenai sisik trenggiling mengandung zat aktif Tramadol HCL masih dipakai sebagai latar belakang perdagangan Trenggiling di Indonesia. Tak dipungkiri, hampir setiap berita perdagangan Trenggiling mencantumkan statemen ini–bahwa sisik trenggiling dipakai sebagai bahan sabu.

Hal ini dibantah oleh peneliti di Laboratorium Forensik Ikan dan Margasatwa Nasional Amerika Serikat. Setelah mendengar rumor mengenai isu kandungan Tramadol pada sisik trenggiling, mereka kemudian mengujinya di laboratorium untuk mengetahui kebenarannya.

Dalam jurnal yang mereka publikasikan “Myth debunked: Keratinous pangolin scales do not contain the analgesic tramadol” menyebutkan bahwa mereka telah menguji 104 keping sisik trenggiling yang berasal dari 8 jenis Trenggiling yang berbeda. Hasilnya mengatakan bahwa tidak ditemukan adanya kandungan zat aktif Tramadol di sisik trenggiling.

Sisik trenggiling mengandung keratin, zat ini dapat ditemukan pada lapisan kulit seperti kuku, rambut, dan cula.

Peneliti mengatakan bahwa rumor terkait informasi mengenai kandungan sisik trenggiling yang selama ini beredar harus dikoreksi. Mereka berharap dengan adanya penelitian ini dapat menurunkan permintaan sisik Trenggiling secara global. Karena usaha untuk menghentikan perdagangan satwa ilegal tidak hanya fokus dalam penegakan hukum tetapi juga dalam menginisiasi berkurangnya permintaan produk satwa.

Tramadol sendiri merupakan obat analgetik opioid yang digunakan sebagai pereda rasa nyeri. Obat ini umumnya dipergunakan pada para penderita luka atau yang baru selesai operasi bedah. Tramadol ternyata dapat menyebabkan kecanduan pada penggunanya.

Pil tramadol kerap disalah pergunakan oleh pengguna narkoba sebagai obat teler atau mabuk yang memberikan efek high. Di Indonesia, pil ini tidak diperjualbelikan secara bebas dan harus sesuai resep dokter. Namun hal tersebut tidak menghentikan peredaran pil tramadol di masyarakat. Dalam beberapa kasus, pil tramadol digunakan sebagai pengganti narkotika seperti sabu-sabu karena harganya yang murah.


Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen + 11 =