Gardaanimalia.com – Kabar bahagia datang dari kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Satu individu induk orangutan sumatera (Pongo abelii) bernama Pesek dilaporkan melahirkan anaknya yang ketujuh di kawasan Bukit Lawang pada Selasa (24/ 3/ 2026).
Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) III Balai Besar TNGL, Palber Turnip, mengatakan Pesek merupakan orangutan hasil rehabilitasi yang telah dilepasliarkan sejak lama. Ia diserahkan oleh masyarakat di kawasan Binjai pada 1993, saat usianya diperkirakan sekitar lima tahun.
“Pesek memang hasil rehabilitasi sejak tahun 1993. Saat itu usianya diperkirakan lima tahun setelah diserahkan oleh masyarakat di kawasan Binjai,” kata Palber saat dikonfirmasi Garda Animalia, pada Kamis (26/3/2026).
Menurutnya, sejak Jumat (20/3/ 2026), Pesek yang tengah hamil tua terlihat lebih banyak berada di atas pohon dan membuat sarang inap.
Perilakunya juga tidak seagresif biasanya. Padahal, selama ini Pesek dikenal sebagai orangutan yang cukup sering terlihat di area yang biasa dikunjungi wisatawan.
“Dari perilakunya kami menduga tidak lama lagi dia akan melahirkan. Ternyata benar, sekitar tanggal 24 Maret Pesek melahirkan,” ujarnya.
Hingga kini jenis kelamin bayi orangutan tersebut belum dapat dipastikan karena masih terus dipantau oleh tim di lapangan. Bayi orangutan itu masih terus berada dalam gendongan induknya. Palber juga menjelaskan, orangutan bukanlah primata yang monogami. Karena itu, pejantan dari bayi Pesek belum dapat dipastikan.
Kemungkinan bisa berasal dari orangutan jantan hasil rehabilitasi yang berada di lokasi yang sama, namun tidak menutup kemungkinan juga berasal dari pejantan liar di kawasan hutan Leuser.
Pesek diperkirakan kini berusia sekitar 38 tahun. Dengan kelahiran ini, ia tercatat telah memiliki tujuh anak sepanjang hidupnya.
Di kawasan Bukit Lawang sendiri diperkirakan terdapat sekitar 100 individu orangutan sumatera. Sementara di wilayah kerja BPTN III dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, tim konservasi telah mengidentifikasi sekitar 206 individu orangutan.
Kelahiran bayi orangutan di alam liar ini menjadi kabar baik bagi upaya konservasi spesies endemik Sumatera tersebut yang populasinya terus menghadapi tekanan akibat kehilangan habitat dan aktivitas manusia.











