Gardaanimalia.com - Keprihatinan akan penurunan populasi orangutan di Sumatera ditunjukkan Organisasi lingkungan Geopix dengan mengeluarkan pernyataan sikap atas temuan riset terbaru Kementerian Kehutanan.
Populasi orangutan sumatera (Pongo abelii) kini diperkirakan tersisa 11.694 individu, turun sekitar 19,5 persen dibandingkan tahun 2011, atau setara laju penyusutan 1,8 persen per tahun. Sedangkan, kondisi orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) jauh lebih genting, dengan populasi yang diperkirakan hanya tersisa 716 individu.
Dengan kehilangan beberapa individu setiap tahun sudah menjadi ancaman yang cukup besar bagi keberlangsungan spesies ini. Menanggapi temuan ini, Geopix melihat ancaman dan mendesak adanya langkah perlindungan habitat yang lebih tegas.
Hampir Seperlima Populasi Tak Terlindungi
Selain menunjukkan penurunan populasi orangutan, data juga menunjukkan sebarang orangutan yang sekitar 82 persen berada di kawasan hutan konservasi, sementara sisanya, sekitar 2.200 individu atau 18 persen hidup di luar sistem kawasan lindung yang pengamanannya masih lemah.
Selain deforestasi, penurunan populasi yang lebih tajam dari perkiraan di sejumlah kawasan seperti Batu Ardan dan Siranggas mengindikasikan adanya ancaman lain, konflik manusia-orangutan, perburuan, hingga kematian akibat faktor di luar kerusakan habitat.
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menegaskan temuan ini menjadi alarm serius bagi pemerintah maupun pelaku usaha yang beroperasi di lanskap Batang Toru, termasuk PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE), PT Agincourt Resources, dan PT Toba Pulp Lestari.
"Lanskap Batang Toru memiliki orangutan tapanuli dengan populasi yang sangat rentan terhadap gangguan dan fragmentasi habitat. Bencana yang terjadi di lanskap ini beberapa waktu lalu, yang turut menelan korban dari individu-individu orangutan, semestinya menjadi pengingat betapa pentingnya perlindungan bagi kawasan ini," ujar Annisa.
Titik-Titik Kritis di Berbagai Lanskap
Penurunan populasi paling tajam tercatat di bentang alam Leuser, yang kehilangan sekitar 2.000 individu orangutan dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Kasus repatriasi orangutan Sumatera dari Tailan pada Desember 2025 juga menjadi bukti bahwa perburuan dan perdagangan ilegal masih terus menguras populasi di alam liar.
Kondisi serupa terjadi di Rawa Tripa, yang populasinya menurun drastis sebesar 75 persen, dari 212 menjadi hanya 52 individu, serta di Batu Ardan yang turun sekitar 40 persen, dari 556 menjadi 332 individu.
Sementara itu, populasi orangutan tapanuli di blok timur relatif stabil berkat perlindungan kawasan dan patroli rutin, berbeda dengan blok barat yang kehilangan sekitar 50 individu karena sebagian besar habitatnya berada di luar kawasan lindung.
Perlindungan Tak Bisa Berhenti di Batas Kawasan Konservasi
Fakta menunjukkan hampir seperlima populasi orangutan hidup di luar hutan konservasi.
"Pemerintah harus memastikan koridor ekologis bagi orangutan tetap terhubung, dengan melindungi hutan-hutan yang tersisa sekaligus memulihkan hutan-hutan yang menjadi ekosistem penghubung. Ini harus dibarengi dengan penguatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap perburuan, perdagangan ilegal, serta penanganan konflik manusia-orangutan yang tepat. Tanpa langkah-langkah tersebut, populasi orangutan di Sumatera akan terus menurun meskipun kawasan konservasi tetap dipertahankan," papar Annisa.
Ia juga menambahkan, orangutan tapanuli kini berada di ambang yang semakin mengkhawatirkan dan membutuhkan pemantauan yang jauh lebih intensif, mengingat pada level populasi sekecil ini, kehilangan satu individu saja punya konsekuensi besar.
Karen itu Geopix menegaskan sudah tidak ada lagi ruang toleransi terhadap perusakan habitat, eksploitasi, atau aktivitas apa pun yang meningkatkan risiko penurunan populasi orangutan.
Organisasi ini turut mengapresiasi keterlibatan pejabat Kementerian Kehutanan dalam riset tersebut, yang dinilai dapat menjadi tolok ukur kinerja dan bahan evaluasi diri bagi pelaksanaan konservasi satwa liar di Indonesia, sekaligus ujian nyata bagi komitmen Indonesia menyelamatkan spesies kera besar paling langka di dunia.
Geopix mendesak pemerintah, sektor swasta, dan seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat kolaborasi dalam melindungi habitat, memperbaiki konektivitas ekosistem, memperkuat penegakan hukum terhadap kejahatan satwa liar, serta mengintegrasikan konservasi orangutan ke dalam setiap kebijakan pembangunan yang berpotensi memengaruhi habitatnya.
"Enough is enough. Sudah cukup segala perusakan dan perdebatan. Konservasi adalah masalah keberpihakan. Kita semua harus bertindak sekarang, atau orangutan akan punah di depan mata kita, lebih cepat dari yang kita bayangkan," tutup Annisa.












