Gardaanimalia.com – Sanggabuana Javan Leopard Survey (SJLS) mencatat, Pegunungan Sanggabuana, Jawa Barat masih menjadi rumah bagi 19 ekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Temuan ini terungkap dari 198 rekaman aktivitas satwa melalui 40 kamera jebak yang dipasang sejak Februari 2025.
“Secara umum dari 19 individu macan tutul ini ditemukan 14 macan tutul dan 5 macan tutul melanistik atau kumbang. Atau 17 macan tutul dewasa dan 2 anak macan tutul. Sedangkan perbandingan jenis kelaminnya 11 macan tutul betina dan 3 macan tutul jantan, serta 3 macan kumbang betina dan 2 macan kumbang jantan,” ujar Bernard T. Wahyu Wiryanta Leader Tim SJLS dalam Kompas, Senin (15/9/2025).
Selain populasi macan tutul, kamera jebak juga mendokumentasikan keberadaan satwa langka lain seperti elang jawa (Nisaetus bartelsi), kucing hutan (Felidae), trenggiling (Manis javanica), hingga surili (Presbytis comata). Data ini menjadi dasar rencana program konservasi lanjutan untuk menjaga keanekaragaman hayati Pegunungan Sanggabuana.
Melansir Kumparan, Bernard juga menjelaskan, hasil survei tahap pertama ini akan menjadi masukan penting bagi pemerintah dalam menyusun program perlindungan satwa prioritas dan terancam punah.
“Dengan adanya survei populasi ini, selain mendapat data individu macan tutul jawa, juga dilakukan mitigasi ancaman dan pemetaan preferensi pakan," terang Bernard.
Selain pemetaan satwa, survei juga menjadi elemen pendukung terkait usulan perubahan fungsi hutan menjadi kawasan konservasi.
"Data ini akan menjadi dasar penting dalam usulan perubahan fungsi hutan Sanggabuana menjadi kawasan konservasi, sehingga ada kepastian hukum terhadap status hutan dan upaya perlindungan keanekaragaman hayati dapat lebih maksimal,” lanjutnya.
Sebelumnya, pada Februari lalu, KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak membentuk Tim Ekspedisi Macan Tutul Jawa yang diberangkatkan dari Resimen Latihan Tempur (Menlatpur) Kostrad, Sanggabuana, Kabupaten Karawang.
Hasil awal ekspedisi menunjukkan bahwa populasi macan tutul di kawasan tersebut masih bertahan dalam jumlah yang cukup signifikan. Dengan kepadatan satwa di area sekitar 10 ribu hektare, temuan ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya perlindungan habitat agar tidak menimbulkan ancaman ekologis.
Bekerja sama dengan SCF dan berbagai pemangku kepentingan, TNI AD melalui Menlatpur Kostrad terus menunjukkan peran aktif dalam menjaga keseimbangan alam.
Ekspedisi ini juga diharapkan dapat mempercepat penetapan Pegunungan Sanggabuana sebagai kawasan konservasi, sekaligus menegaskan komitmen TNI AD untuk tidak hanya menjaga kedaulatan negara, tetapi juga melestarikan lingkungan bagi generasi mendatang.
Penulis: Nadaa











