Berita

Selama Tiga Tahun 19 Gajah Sumatera Mati di Aceh, Listrik Kebun dan Racun Masih Mengintai

04/03/2026|Mardili
Tim dokter hewan BKSDA Aceh melakukan nekropsi terhadap bangkai gajah yang ditemukan mati di Karang Ampar Aceh Tengah Juni...

Tim dokter hewan BKSDA Aceh melakukan nekropsi terhadap bangkai gajah yang ditemukan mati di Karang Ampar, Aceh Tengah, Juni 2024. | Foto: BKSDA Aceh

Gardaanimalia.com - Dalam kurun waktu 2023 hingga 2025, sedikitnya 19 individu gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) mati di berbagai wilayah Aceh.

Data ini dihimpun oleh BKSDA Aceh dan memperlihatkan bahwa ancaman terhadap satwa kunci bentang alam Sumatera ini masih kuat dipengaruhi aktivitas manusia.

Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, menyampaikan bahwa dari total 19 kasus kematian, tiga individu dipastikan mati akibat sengatan arus listrik yang dipasang di kebun warga.

Dari tiga kasus itu, dua di antaranya terjadi pada 2024 di Desa Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Sementara, satu kasus lain tercatat pada 2025 di Desa Alue Jang, Kecamatan Pasie Raya, Aceh Jaya. Seluruhnya berada di kawasan kebun atau areal produksi yang berbatasan dengan jalur jelajah gajah.

“Kasus listrik masih menjadi perhatian serius karena berisiko tinggi dan melanggar aturan perlindungan satwa,” kata Ujang, Selasa (3/3/2026).

Ia menyatakan, jika dikelompokkan berdasarkan penyebab, kematian akibat aktivitas manusia masih signifikan.

“Selain tiga kasus listrik, terdapat 2 kasus dugaan keracunan, 2 kasus racun disertai indikasi perburuan, serta 1 kasus perburuan. Artinya, sedikitnya tujuh kematian dalam tiga tahun terakhir berkaitan langsung dengan tindakan manusia,” jelas Ujang.

Interaksi negatif manusia dan gajah secara langsung juga tercatat dalam dua kasus. Sementara, ada satu kematian lain akibat luka tusukan gading yang diduga kuat akibat perkelahian antar-gajah jantan dewasa.

Di sisi lain, faktor alami dan kesehatan turut menyumbang angka kematian. Tiga gajah dilaporkan mati karena sakit, 3 lainnya dikategorikan sebagai kematian alami, dan 1 kasus terjadi akibat gajah terjebak dalam kubangan.

“Dua kasus lainnya masih dalam pendalaman untuk memastikan penyebab pasti,” ujarnya.

Periode dengan angka kematian tertinggi tercatat pada 2024, yaitu sembilan individu. Pada 2023 tercatat 4 kematian, sementara pada 2025 hingga akhir tahun tercatat 6 kasus.

Aceh merupakan salah satu kantong populasi penting gajah sumatera di Pulau Sumatera. Namun, penyempitan dan fragmentasi habitat akibat ekspansi perkebunan dan pembukaan lahan meningkatkan intensitas perjumpaan antara manusia dan gajah.

BKSDA Aceh menyatakan selalu melakukan nekropsi setiap ada temuan bangkai gajah untuk memastikan penyebab kematiannya. Jika ditemukan unsur pidana, kasus akan ditindaklanjuti sesuai ketentuan hukum yang berlaku.