Berita

Terancam Punah Lokal, Koalisi Bentang Seblat Serukan Penyelamatan Habitat Gajah Sumatera

18/08/2026|Lisa Rosari
Koalisi Bentang Seblat mahasiswa dan pelajar menyerukan penyelamatan Bentang Seblat Foto Kanopi Hijau Indonesia - Teranc...

Koalisi Bentang Seblat, mahasiswa dan pelajar menyerukan penyelamatan Bentang Seblat. | Foto : Kanopi Hijau Indonesia

Gardaanimalia.com - Koalisi Bentang Seblat bersama pelajar, mahasiswa, dan masyarakat Bengkulu menggelar Elephant Camp 2026 untuk memperingati Hari Gajah Sedunia (Global Elephant Day) dengan tema #GajahKita, sekaligus memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Peringatan yang digelar di Taman Wisata Alam (TWA) Seblat, bagian dari Bentang Alam Seblat, ini menjadi seruan untuk melindungi populasi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang kini berada di ambang kepunahan lokal. 

Tagar #GajahKita sengaja diangkat sebagai bantahan atas anggapan sebagian masyarakat bahwa gajah di Bentang Seblat bukan tanggung jawab mereka, bahkan kerap dipandang sebagai hama. Acara berlangsung tiga hari, mulai Sabtu (15/8/2026) hingga Senin (17/8/2026).

Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, mengatakan kondisi habitat gajah di Bentang Alam Seblat kini sangat memprihatinkan. Populasi gajah sumatera di kawasan ini hanya tersisa puluhan ekor yang hidup di dua kantong, yakni Air Rami dan Air Teramang, Kabupaten Mukomuko. Penyusutan populasi tidak lepas dari alih fungsi hutan menjadi kebun sawit. 

Situasi ini terjadi karena tidak adanya sinergitas antara para pemangku yang berkepentingan di Bentang Seblat.  Berdasarkan analisis Koalisi Bentang Seblat, dari total 80.978 hektare kawasan inti Bentang Seblat, seluas 30.017 hektare telah dirambah menjadi perkebunan sawit. 

“Populasi gajah yang tersisa di kawasan ini kurang dari 50 ekor. Fakta ini menjadi indikator kuat bahwa kawanan gajah sumatera di sini sedang berada pada titik kritis menuju kepunahan lokal,” ujar Ali dalam siaran pers yang diterima Garda Animalia, Senin (17/8/2026). 

Kondisi tersebut membuat situasi di Bentang Seblat semakin tidak aman bagi kawanan gajah. 

Kasus terbaru, induk gajah berusia 25 tahun dan anaknya berusia 2 tahun ditemukan mati di hutan pada 30 April 2026. Hasil uji toksikologi Institut Pertanian Bogor (IPB) yang baru-baru ini diterima Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu menunjukkan adanya kandungan fluorida, sulfat, dan amonia dalam tubuh kedua satwa tersebut.

Selain itu, perkebunan kelapa sawit skala besar milik Anglo Eastern Plantation (AEP) turut menjadi penyebab terjadinya fragmentasi atau terputusnya jalur jelajah gajah. AEP merupakan perusahaan penanaman modal asing yang mendapat konsesi dari negara dan beroperasi di bawah bendera PT Mitra Puding Mas dan PT Alno Agro Utama (PT AAU).

Untuk meningkatkan keselamatan kawanan gajah, kawasan habitatnya diusulkan berubah status menjadi suaka margasatwa. Koalisi juga mendorong kolaborasi seluruh pihak untuk turut bertanggung jawab atas keberlangsungan Bentang Seblat. 

"Hasil uji laboratorium sudah keluar, dan gajah itu mati diracun, bisa jadi termakan racun. Artinya ada senyawa kimia di tubuhnya. Ini mengindikasikan adanya konflik antara kawanan gajah dan kelompok petani yang terdesak, yang kemudian dimanfaatkan oleh kelompok tertentu," kata Ali. 

Koalisi Selamatkan Bentang Seblat mendesak Kementerian Kehutanan mengubah status kawasan hutan di Bentang Alam Seblat, dari Hutan Produksi menjadi Kawasan Suaka Margasatwa seluas 80 ribu hektare.

Koalisi menilai skema izin konsesi kayu yang diberikan kepada PT Bentara Arga Timber (BAT) dan PT Anugerah Pratama Inspirasi (API) terbukti gagal melindungi ekosistem. Saat ini status Bentang Alam Seblat adalah hutan produksi dan kawasan ekosistem esensial, yang tingkat perlindungan hukumnya lebih rendah dibandingkan suaka margasatwa. 

"Kita ingin status ini naik satu tingkat, menjadi kawasan konservasi. Ini yang menjadi usulan peningkatan status pengelolaan kawasan yang merupakan kantong gajah," kata Ali. 

Kepala BKSDA Provinsi Bengkulu, Agung Nugroho, menambahkan populasi gajah di Bengkulu saat ini tersisa 25–30 ekor, dengan 10 ekor di antaranya merupakan gajah jinak di TWA Seblat. 

"Gajah liar yang terekam melalui video drone sebanyak 17 ekor, terdiri dari empat anakan dan sisanya gajah dewasa. Jadi secara populasi masih bereproduksi," ujar Agung. 

Meski demikian, Agung menilai kawasan gajah dan habitatnya masih menghadapi banyak tantangan, terutama akibat berkurangnya tutupan hutan dan konversi lahan menjadi perkebunan sawit.

"Jika ini terus terjadi, populasi gajah akan semakin terancam, dan ini yang harus kita cegah," kata Agung.