Gardaanimalia.com - Video interaksi manusia dengan seekor orangutan kembali viral di media sosial dan memicu kekhawatiran publik terkait keselamatan satwa liar. Namun, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh memastikan bahwa video tersebut bukan rekaman baru.
Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, mengatakan bahwa video yang beredar itu pernah muncul pada tahun lalu. Pihaknya bahkan sempat menurunkan tim untuk mengecek lokasi, tetapi tidak berhasil menemukan titik pasti karena ada aktivitas tambang di area yang diduga menjadi lokasi kejadian.
“Itu video lama, tahun lalu sudah pernah dicek, tapi tidak dapat lokasinya karena ada aktivitas tambang,” ungkap Ujang saat dikonfirmasi Garda Animalia, Kamis (20/11/2025). Meski demikian, pihaknya tetap memverifikasi ulang.
“Meski begitu, ada tim yang kita minta cek,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa memberi makan satwa liar merupakan tindakan berbahaya bagi manusia maupun satwa.
“Tidak boleh, selain berbahaya dan dapat mengubah perilaku, juga berpotensi zoonosis,” tegasnya.
Menurut BKSDA, interaksi semacam ini dapat menyebabkan orangutan kehilangan sifat liarnya, terbiasa mendekati manusia, dan rentan terhadap penularan penyakit. Ketergantungan pada makanan yang diberikan manusia juga dapat meningkatkan risiko konflik satwa-manusia di kemudian hari.
Sementara itu, video yang kembali viral tersebut telah dibagikan lebih dari 3.000 kali setelah diunggah oleh akun TikTok @.isann.
Rekaman pertama memperlihatkan seekor orangutan bertubuh besar yang datang dan masuk ke dalam tenda biru, lalu mengambil makanan dari sebuah piring.
Dalam video itu terdengar suara berbahasa Aceh, “bek boeh-boeh pingan, pajoh bu laju,” yang berarti “jangan buang piringnya, makan terus.”
Dua hari kemudian, akun tersebut mengunggah video lanjutan, memperlihatkan orangutan yang sama kembali mendatangi kelompok itu.
Mereka tampak sudah menyiapkan nasi dan wortel untuk diberikan kepada orangutan. Lokasi kejadian diduga adalah kawasan hutan di Aceh, tetapi belum dapat dipastikan hingga saat ini.
BKSDA Aceh masih menelusuri informasi tersebut dan mengingatkan publik agar tidak melakukan kontak langsung dengan satwa liar, terutama spesies dilindungi seperti orangutan.
BKSDA meminta masyarakat untuk segera melapor jika menemukan kejadian serupa sehingga penanganan dapat dilakukan sesuai prosedur konservasi satwa liar.










