Berita

YIARI dan BKSDA Translokasi Induk dan Anak Orangutan di Kalbar

07/11/2025|Rianda Akbari
Anak orangutan yang berhasil dievakuasi oleh tim gabungan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. | Foto: YIARI

Anak orangutan yang berhasil dievakuasi oleh tim gabungan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. | Foto: YIARI

Gardaanimalia.com - Sepasang orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) terdiri dari induk dan anak berhasil dipindahkan di Desa Tempurukan, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Sabtu (01/11/2025). 

Translokasi ini dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), dan PT Hutan Kencana Damai (HKD).

Tim melakukan translokasi setelah mendapat laporan warga setempat mengenai masuknya orangutan ke area perkebunan karet dan memakan buah-buahan, seperti cempedak. Menurut warga, kejadian ini sudah berulang kali terjadi. 

Menanggapi hal tersebut, tim WRU BKSDA Kalbar dan tim Orangutan Protection Unit (OPU) YIARI segera memverifikasi ke lokasi. 

Hasil pemantauan menunjukkan potensi serius konflik manusia-orangutan di wilayah tersebut. Maka, tim memutuskan untuk mentranslokasi orangutan ke tempat aman.

Proses evakuasi dilaksanakan pada Sabtu (01/11/2025), sejak pagi hari. Tim YIARI tiba pukul 06.30 WIB di lokasi. Evakuasi menggunakan metode pembiusan dengan alat senapan khusus. Dosis obat bius telah dihitung cermat oleh dokter hewan YIARI berdasarkan berat dan ukuran satwa. 

Untuk mencegah orangutan jatuh secara langsung ke tanah, para petugas pun telah menyiapkan jaring tangkap.

Setelah pembiusan, tim medis memeriksa kondisi fisik tubuh kedua orangutan. Hasil pemeriksaan menunjukkan keduanya dalam kondisi sehat.

Kemudian, induk berusia 25 tahun dan anak berusia 4 tahun ini diangkut menuju hutan terdekat ke kawasan Hutan Kencana Damai. Kawasan tersebut masih satu hamparan dengan lokasi semula orangutan hidup.

Perjalanan menuju lokasi pemindahan menelan waktu selama tiga jam. Tim turut melibatkan warga setempat untuk membawa orangutan masuk ke dalam hutan.

Menurut petugas, saat dilepasliarkan kedua orangutan menunjukkan respons positif. Seperti bergegas menjauh dari manusia dan menunjukkan perilaku liar.

Senior Manager Media dan Komunikasi YIARI, Heribertus Suciadi, menjelaskan ada kesulitan yang berbeda untuk pemantauan pasca-translokasi. Menurutnya, orangutan liar akan selalu menjauh dari manusia. Jika dibuntuti secara terus-menerus, satwa dapat mengalami stres.

“Berbeda dengan orangutan hasil rehabilitasi yang dimonitoring cukup lama pasca-pelepasliaran karena dia cukup familiar dengan kehadiran manusia,” katanya kepada Garda Animalia, Jumat (07/11/2025). 

Sementara, Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menegaskan translokasi ini merupakan langkah penting untuk ditempuh demi keselamatan orangutan dan keamanan masyarakat. 

“Langkah ini merupakan win-win solution yang menguntungkan semua pihak. Bukan hanya menjamin keselamatan orangutan, tapi juga meminimalkan kerugian warga,” katanya dalam siaran pers YIARI, Rabu (7/11/2025).

Oscar mengungkapkan, hasil pengamatan tim menunjukkan kawasan tersebut sudah mengalami degradasi dan fragmentasi habitat yang parah. Hal itu disebabkan konversi lahan hutan ke perkebunan dan encroachment (gangguan) di kawasan hutan.