Gardaanimalia.com - Interaksi negatif antara manusia dan satwa liar di Aceh dalam tiga tahun terakhir mencapai 561 kasus. Meski angkanya masih tinggi, tren konflik tercatat menurun sejak 2023.
Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mencatat, pada 2023 terjadi 243 kasus konflik. Jumlah tersebut turun menjadi 206 kasus pada 2024 dan kembali menurun menjadi 112 kasus pada 2025.
Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, mengatakan penurunan tersebut juga terjadi pada konflik yang melibatkan gajah.
“Kalau melihat tiga tahun terakhir, tren konflik memang turun. Konflik gajah juga menurun. Namun, di beberapa daerah seperti Bener Meriah dan Aceh Jaya, kasus konflik gajah masih cukup tinggi,” kata Ujang saat diwawancarai di Banda Aceh, Selasa (24/2/2026).
Ujang menjelaskan, pada 2023 Kabupaten Pidie tercatat sebagai wilayah dengan jumlah konflik tertinggi sebanyak 47 kasus, disusul Aceh Jaya 39 kasus, dan Aceh Selatan 29 kasus.
Memasuki 2024, Bener Meriah melonjak menjadi daerah dengan kasus tertinggi sebanyak 31 kasus.
“Sementara pada 2025, Aceh Timur mencatat angka tertinggi, yakni 21 kasus, diikuti Aceh Jaya 16 kasus, dan Bener Meriah 13 kasus. Pidie turun signifikan menjadi 7 kasus,” jelasnya.
Ujang menyebutkan, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah mitigasi untuk menekan konflik, termasuk pembangunan pagar kejut di jalur jelajah gajah.
“Kami sudah membangun sekitar 23 kilometer pagar kejut di koridor jelajah. Secara prinsip, alat ini efektif untuk memitigasi interaksi jika dirawat dengan baik,” ujarnya.
Namun demikian, ia menekankan efektivitas pagar listrik sangat bergantung pada komitmen perawatan di tingkat daerah dan desa.
“Masalahnya bukan pada alatnya, tetapi pada perawatan dan komitmen. Setelah dibangun, perawatan menjadi tanggung jawab bersama. Kalau tidak dirawat, tentu tidak akan optimal,” katanya.
Menurutnya, konflik manusia dan satwa liar tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya, mengingat adanya tumpang tindih ruang antara aktivitas manusia dan habitat satwa.
“Yang bisa dilakukan adalah mengurai konflik agar bisa diantisipasi dan tidak menimbulkan dampak yang lebih besar,” tutup Ujang.










