Gardaanimalia.com - Memasuki pertengahan tahun, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menimpa Kalimantan kian gawat. Organisasi kampanye dan pemantau lingkungan Geopix melaporkan bahwa 60 persen kawasan yang terbakar berada di habitat orangutan.
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, memaparkan hasil laporan tersebut dalam jumpa pers di Yogyakarta, Kamis (3/9/2026).
“Krisis ini adalah pukulan terberat bagi kita, tidak hanya bagi manusia, tetapi juga satwa liar di dalamnya,” tuturnya.
Untuk memeriksa kondisi habitat orangutan selama karhutla, Geopix menggunakan data dari platform resmi SiPongi Kementerian Kehutanan periode 1 Juni hingga 28 Agustus 2026.
Hasilnya menunjukkan bahwa jumlah titik api (hotspot) pada Agustus 2026 meningkat menjadi 17.375 titik dibandingkan dua bulan sebelumnya. Secara keseluruhan, terdapat 22.744 titik api yang terdeteksi di Kalimantan selama tiga bulan periode pemantauan.
Kalimantan adalah rumah bagi tiga subspesies orangutan, yakni Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo pygmaeus wurmbii, dan Pongo pygmaeus morio.
Sebanyak 78,5 persen dari 22.744 titik api berada di wilayah habitat orangutan. Sementara itu, area habitat yang terbakar mencapai 25.812.699 hektare atau 60,2 persen dari total habitat.
“Ini suatu peringatan yang sangat-sangat keras sekali bagi pemerintah, perusahaan, dan kita semua,” ujar Annisa.
Kehilangan Rumah, Picu Perebutan Sumber Daya
Annisa menjelaskan, karhutla memusnahkan pohon yang menjadi sarang orangutan. Padahal, orangutan adalah satwa arboreal atau lebih banyak menghabiskan waktu untuk tinggal di atas pohon. Kebakaran ini mengakibatkan tekanan psikologis bagi orangutan akibat kehilangan “rumah”.
Pelbagai vegetasi pakan turut terbakar sehingga memicu konflik perebutan sumber daya yang tersisa oleh sesama orangutan. Mereka yang terusir, pada gilirannya, akan mencari sumber makanan lain, termasuk di perkampungan.
Singkatnya, karhutla menghadirkan situasi pasca-musibah yang memengaruhi keberlangsungan hidup populasi spesies terancam punah ini.
"Yang penting saat ini adalah memadamkan api dan menyelamatkan habitat orangutan yang tersisa sebanyak mungkin,” ucap Annisa.
Sejauh ini belum ada data statistik yang lengkap tentang jumlah kematian orangutan akibat karhutla di Kalimantan.
Laporan terbaru adalah kematian orangutan Sampurna, orangutan dewasa jantan di Kalimantan Barat yang ditemukan dalam kondisi lemas oleh warga di perkebunan kelapa sawit pada 30 Agustus. Sampurna mati saat dirawat di fasilitas rehabilitasi akibat penyakit pernapasan.
Oleh karena itu, Geopix menyerukan bahwa perlunya survei ulang terhadap habitat dan populasi orangutan kalimantan.
“Hasilnya harus menjadi dasar ‘reset’ PHVA (Population and Habitat Viability Assessment) orangutan kalimantan, karena data dasar konservasi sebelumnya berpotensi menjadi tidak relevan lagi,” tegas Annisa.
Ia pun mendesak pemerintah agar menyusun rencana aksi darurat penyelamatan populasi dan habitat orangutan kalimantan yang mencakup penyelamatan dan pemantauan populasi, perlindungan habitat dan koridor, pencegahan kebakaran berulang, penegakan hukum, serta pemulihan ekosistem.
Annisa juga mengakui bahwa masih ada kekurangan dalam survei yang dilakukan Geopix, karena hanya mengandalkan data dari SiPongi yang terbatas hingga 28 Agustus 2026.
Rahmadani Luthfiah dan Muhammad Fadhil Khairi, dua anggota penulis laporan Geopix, menunjukkan bahwa data setelah tanggal tersebut tidak dapat diunduh, meski pemetaan visual dapat dilihat di laman SiPongi.
“Hal ini mungkin bukan permasalahan teknis. Kami juga mendesak adanya keterbukaan informasi publik supaya bisa melakukan survei habitat orangutan secara mendalam,” tutur Annisa.
















