Berita

Anak Gajah Laila Terkonfirmasi Mati karena Infeksi EEHV

16/12/2025|Atis Warna Sita
Anak gajah Laila bersama petugas medis. | Foto: Media Center Riau

Anak gajah Laila bersama petugas medis. | Foto: Media Center Riau

Gardaanimalia.com - Laila, anak gajah berumur 1 tahun 6 bulan dinyatakan mati pada 22 November 2025 pukul 05.30 WIB dalam kondisi terbaring. Penyebab kematian Laila tentu menjadi tanda tanya besar bagi pemerhati konservasi gajah sumatera.

Tim dokter hewan BBKSDA Riau segera melakukan nekropsi dan melakukan pengambilan sampel jaringan serta organ vital. Sampel tersebut dikirim ke laboratorium Medica Satwa Laboratoris di Bogor untuk mengetahui penyebab pasti kematiannya.

Hasil pemeriksaan laboratorium telah tuntas dan menyatakan bahwa Laila positif terinfeksi Elephant Endotheliotropic Herpes Virus (EEHV).

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Supartono, menjelaskan, virus tersebut menyerang organ hati (hepar) Laila.

“Berdasarkan pemeriksaan laboratorium, penyebab kematian Laila adalah infeksi virus EEHV,” kata Supartono di Pekanbaru, mengutip Media Center Riau, Senin (15/12/2025).

Supartono menambahkan bahwa EEHV merupakan virus khusus yang menyerang gajah, terutama anak gajah dengan tingkat kematian tinggi.

“Penyakit ini berkembang dengan cepat dan sulit ditangani, serta hanya menular antar gajah,” jelasnya.

Laila merupakan anak gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang berada di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Sebanga, Kabupaten Bengkalis. Ia adalah anak hasil perkawinan induk bernama Puja dan pejantan Sarma melalui kelahiran alami.

Kronologi Kematian Laila

Supartono juga menjelaskan bahwa kondisi Laila menurun sejak tanggal 20 November 2025.

“Laila terlihat kurang aktif meski nafsu makan dan minum masih normal,” papar Supartono.

Dengan kondisi tersebut, tim medis BBKSDA Riau segera melakukan pemeriksaan dan penanganan awal, seperti memberi cairan infus, obat-obatan, dan pemantauan intensif setiap dua jam.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan kondisi Laila masih dalam batas normal. Meskipun demikian, anak gajah ini terus dipantau ketat.

“Tanggal 21 November 2025 pukul 22.00 WIB, Laila masih terpantau makan, minum, dan menyusu. Sekitar jam 00.30 WIB, Laila terdengar menjerit. Meski sempat berdiri dan menyusu kembali setelah penanganan, kondisi kritis berlanjut sampai dini hari,” jelas Supartono.

EEHV menjadi momok menakutkan bagi gajah. Menurut World Organisation for Animal Health (WOAH), EEHV menyebabkan hemoragik akut, terutama pada gajah asia muda dengan tingkat kematian mencapai 85 persen.

Selain itu, sumber alami dan patogenisitas EEHV belum sepenuhnya dipahami.

Gajah yang terinfeksi EEHV biasanya mengeluarkan virus melalui sekresi belalai, saliva, dan cairan tubuh lainnya. Penularannya melalui kontak langsung dengan cairan tubuh gajah dan virus ini tidak menular pada manusia.