Berita

Asian Waterbird Census di Pesisir Surabaya: Jalur Migrasi Vital, tetapi Rapuh

26/02/2026|Irvan Sjafari
Ilustrasi burung migran di kawasan mangrove Wonorejo Surabaya Foto BBKSDA Jawa Timur - Asian Waterbird Census di Pesisir...

Ilustrasi burung migran di kawasan mangrove Wonorejo, Surabaya. | Foto: BBKSDA Jawa Timur.

Gardaanimalia.com - Tim Asian Waterbird Census (AWC) dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, melalui Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, mencatat keberadaan 28 spesies burung pada pelaksanaan AWC Part II di kawasan Mangrove Wonorejo, Jumat (13/2/2026).

Data lapangan menunjukkan, dari total spesies yang teramati, 16 di antaranya merupakan burung air dengan tujuh spesies berstatus dilindungi sesuai regulasi nasional. 

BBKSDA Jawa Timur mencatat, temuan tersebut menegaskan satu hal, pesisir Surabaya masih menjadi bagian dari jalur migrasi internasional yang vital, tetapi rapuh. 

Jalur tersebut menghubungkan kawasan pesisir Jawa Timur dengan ekosistem di belahan Asia lainnya, menjadikan setiap titik singgah memiliki nilai strategis bagi kelangsungan populasi burung air.

Secara ekologis, burung air kerap disebut sebagai indikator kesehatan lahan basah. Kehadiran spesies migran penuh seperti trinil pantai (Actitis hypoleucos) hingga kedidi leher merah (Calidris ruficollis) menjadi indikasi bahwa areal ini masih tersedia pakan, ruang istirahat, dan kondisi habitat yang layak setelah perjalanan ribuan kilometer.

Tidak hanya tempat lalu lintas bagi berbagai spesies migran, lokasi ini juga menjadi tempat beberapa spesies endemik Pulau Jawa yang dilindungi, seperti dara laut (Thalasseus bernsteini), cangak besar (​Ardea alba), serta cerek jawa (Anarhynchus javanicus). Kehadiran mereka menjadi sinyal bahwa kawasan pesisir bukan sekadar ruang marginal, melainkan simpul penting dalam jaringan ekologi lintas negara.

Melansir situs BBKSDA Jatim, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Muda BBKSDA Jatim Fajar Dwi Nur Aji menjelaskan, kawasan mangrove Wonorejo selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu kantong keanekaragaman hayati di wilayah urban. 

Meskipun demikian, seperti banyak kawasan lahan basah pesisir lain, ruang ini juga berhadapan dengan tekanan pembangunan, perubahan bentang pesisir, dan aktivitas manusia yang terus meningkat.

Menurutnya, jumlah spesies bukan hanya catatan statistik tahunan. Fluktuasi kecil sekalipun bisa merekam perubahan kualitas habitat, tekanan manusia, hingga dinamika iklim yang memengaruhi jalur migrasi global.

“AWC bukan sekadar kegiatan monitoring rutin, tetapi juga instrumen ilmiah untuk membaca perubahan yang terjadi secara perlahan, perubahan yang sering kali tak kasat mata,” ujar Fajar, Rabu (18/2/2026).

Tim AWC Seksi KSDA Wilayah III Surabaya menempatkan kegiatan ini sebagai bagian dari upaya menjaga jalur migrasi yang senyap, tetapi vital. 

Pengamatan tahun ini juga mencatat keberadaan burung residen seperti kuntul kecil (Egretta garzetta), blekok sawah (Ardeola speciosa), cekakak sungai (Todiramphus chloris), hingga raja udang biru (Alcedo coerulescens).

Eksistensi burung penetap sering kali menjadi indikator stabilitas lokal, di mana keberadaan mereka menunjukkan ekosistem masih mampu menyediakan pakan sepanjang musim.

Sementara itu, tercatat pula spesies endemik Jawa seperti cerek jawa (Anarhynchus javanicus), kipasan belang (Rhipidura javanica), dan kacamata jawa (Zosterops flavus). Kehadiran jenis endemik memperkuat nilai konservasi kawasan, karena kehilangan habitat lokal akan berarti hilangnya populasi yang tidak tergantikan di wilayah lain.

“Data lapangan ini menunjukkan bahwa bentang mangrove tidak hanya penting bagi burung migran, tetapi juga menjadi rumah bagi spesies lokal yang bergantung pada stabilitas ekosistem pesisir,” ujar Fajar.

Sementara, pendiri  Yayasan Kajian Ekologi dan Lahan Basah (Ecoton) Prigi Arisandi memberikan catatan, pengendalian kawasan mangrove pesisir harus diperjelas antara kota, provinsi, dan pusat. 

“Selain itu ada problem sampah plastik yang memenuhi kawasan pesisir terutama mangrove menjadi ancaman serius kelestarian burung migran, tidak adanya pengendalian sampah plastik yang masuk ke pesisir menjadikan kawasan ini rawan tercemar mikroplastik,” ujar Prigi kepada Garda Animalia, Senin (23/2/2026).

Ia juga menambahkan, perlunya memastikan dan memperjelas penetapan status kawasan terkait fungsi lindung. 

Sebab, masih banyak kepemilikan atas nama pribadi atau perusahaan di daerah pantai timur Surabaya yang berada dalam kawasan lindung.