Berita

Banjir Besar Ancam Terumbu Karang Aceh, Peneliti USK Ingatkan Dampak Serius bagi Habitat Laut

11/12/2025|Mardili
Kondisi garis pantai Aceh berubah kecokelatan pascabanjir bandang dua pekan lalu, Selasa (9/12/2025). | Foto: Mardili

Kondisi garis pantai Aceh berubah kecokelatan pascabanjir bandang dua pekan lalu, Selasa (9/12/2025). | Foto: Mardili

Gardaanimalia.com - Banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayahdi  Aceh dua pekan lalu tidak hanya menghancurkan pemukiman dan infrastruktur darat.

Menurut Peneliti Ekologi Laut dan Terumbu Karang Universitas Syiah Kuala (USK), Maria Ulfah, bencana ini juga mengancam keberlangsungan ekosistem laut dan satwa yang bergantung pada terumbu karang.

Maria menjelaskan bahwa banjir membawa limpasan material dari hulu mulai dari lumpur, sampah, nutrien berlebih, hingga potensi polutan, seperti pestisida dan limbah rumah tangga ke arah pesisir.

Kondisi ini menyebabkan air laut di beberapa kawasan menjadi sangat keruh dan menurun salinitasnya, perubahan yang tidak dapat ditoleransi banyak organisme laut.

Pantauan melalui udara memperlihatkan air laut di garis pantai berubah kecokelatan, memperjelas kuatnya aliran sedimen dari sungai menuju laut.

“Ketika air laut menjadi terlalu keruh dan dipenuhi lumpur, karang bisa tertutup dan mati. Cahaya matahari yang sangat dibutuhkan untuk proses fotosintesis juga tidak bisa menembus kolom air,” kata Maria Ulfa, Kamis (11/12/2025).

Maria menegaskan, karang-karang bercabang seperti Acropora, Montipora, dan jenis sensitif lainnya merupakan kelompok yang paling terancam. Karang muda dan larva juga kehilangan tempat untuk menempel karena dasar laut kini didominasi lumpur tebal.

Dia memperingatkan bahwa jika kondisi ini berlangsung lama, dampaknya tidak hanya menghancurkan habitat karang, tetapi juga memukul populasi ikan karang, gurita, moluska, dan berbagai biota yang bergantung pada struktur terumbu.

“Jika sedimen terus teraduk oleh gelombang dan arus muson, dampaknya tidak hanya berlangsung dalam hitungan minggu. Ia bisa berubah menjadi tekanan jangka panjang yang mengganggu seluruh rantai kehidupan laut,” ungkapnya.

Ia menyebut situasi ini dapat memicu pergeseran ekosistem menjadi kawasan pesisir yang didominasi alga dan lumpur, yang pada akhirnya mengurangi keanekaragaman hayati termasuk spesies yang selama ini menjadi ketergantungan bagi masyarakat pesisir.

Selain itu, terumbu karang yang sehat berperan sebagai pelindung alami pantai dari gelombang dan badai. Jika rusak, wilayah pesisir Aceh akan lebih rentan menghadapi bencana.

Maria menegaskan perlunya langkah cepat, mulai dari pemulihan vegetasi hulu, penghentian pencemaran dari darat, hingga edukasi masyarakat untuk menjaga kesehatan sungai dan pesisir.

“Melindungi terumbu karang berarti melindungi masa depan laut Aceh. Jika ekosistem ini runtuh, satwa lautlah yang pertama kali merasakan dampaknya, dan masyarakat akan merasakannya kemudian,” tutupnya.