Berita

BBKSDA Jatim Evakuasi Piton Afrika di Gresik, Masuknya Spesies Asing jadi Sorotan

22/04/2026|Irvan Sjafari
Seekor python afrika yang dievakuasi BBKSDA Jawa Timur Foto Dok BBKSDA Jatim - BBKSDA Jatim Evakuasi Piton Afrika di Gres...

Seekor python afrika yang dievakuasi BBKSDA Jawa Timur. | Foto: Dok BBKSDA Jatim

Gardaanimalia.com - Kasus lepasnya satwa spesies asing di Indonesia bukan hanya terjadi pada ikan sapu-sapu yang baru-baru ini menjadi kehebohan karena lambat laun bisa menguasai sungai dan menjadi ancaman ekologis baru.

Pada 17 April 2026, warga di Gresik gempar ketika melihat seekor ball python atau sanca bola yang merupakan satwa dari Afrika Barat dan Tengah berkeliaran.

Pihak UPT Damkar Kabupaten Gresik segera menangkapnya dan menghubungi Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur untuk mengevakuasi.

Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Muda BBKSDA Jawa Timur Fajar Dwi Nur Aji meningatkan bahwa lepasnya piton afrika ini merupakan kecerobohan pemeliharanya. Kemungkinannya adalah lepas sendiri dari pemeliharaan dan masuk ke pemukiman penduduk, atau dilepas secara sengaja karena tidak sanggup memeliharanya, jelasnya. 

Lanjut dia, kemunculan spesies ini bukan sekadar kejadian insidental. Ia adalah pesan ekologis yang tegas bahwa batas geografis yang selama ini memisahkan ekosistem dunia mulai runtuh karena dorongan aktivitas manusia.

“Kalau hal seperti ini dibiarkan, piton afrika ini bisa menjadi pesaing piton lokal, seperti perebutan pakan. Kalau sampai bersilang kawin dengan piton lokal bisa merusak genetik,” ujar Fajar kepada Garda Animalia, Senin (20/4/2026).

Fajar mengingatkan bahwa burung gereja sebelumnya merupakan burung asing yang akhirnya mendominasi hingga menggeser keberadaan burung lokal seperti gelatik.

Namun, pihaknya belum mengetahui jenis kelamin piton afrika ini. Untuk sementara, ular itu dirawat di Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk observasi dan penanganan lanjutan.

Dalam kacamata ekologi, fenomena ini dikenal sebagai biological invasion. Sejarah telah berulang kali menunjukkan dampaknya, spesies asing yang mampu beradaptasi dapat menjadi predator baru, pesaing bagi spesies lokal, atau bahkan mengganggu keseimbangan rantai makanan.

Faktanya, piton dengan nama latin Python regius ini mampu bertahan hidup di lingkungan Gresik yang memiliki suhu, kelembapan, dan tekanan antropogenik yang berbeda dari habitat asalnya. Ini menjadi indikator awal kemampuan adaptasi yang tidak bisa diabaikan.

Dalam skenario terburuk, jika lebih banyak individu dilepas atau lolos ke alam, peluang terbentuknya populasi liar bukan sekadar hipotesis.

Sementara itu, Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Jawa Timur Ferdinan Sabastian yang juga dikenal memiliki ketertarikan pada kehidupan reptil di kawasan urban menegaskan bahwa fenomena ini bukan hal yang bisa dianggap remeh.

“Kemunculan piton ini di wilayah urban seperti Gresik adalah indikator kuat adanya rantai pemeliharaan satwa eksotik yang tidak diikuti tanggung jawab. Reptil, khususnya ular, sering dianggap menarik saat masih kecil, tetapi ketika tumbuh dan membutuhkan perawatan lebih, tidak sedikit yang akhirnya dilepas begitu saja ke alam,” ujarnya dikutip dari laman BBKSDA Jatim.

Ia menegaskan, "Kunci utamanya ada pada kesadaran. Memelihara satwa liar, apalagi spesies eksotik, bukan sekadar hobi. Ada tanggung jawab hukum, etika, dan ekologis. Melepas satwa ke alam bukan solusi, justru itu awal dari masalah baru.”

BKSDA mengatakan, setiap langkah yang diambil terhadap individu ini akan mempertimbangkan aspek kesejahteraan satwa sekaligus mitigasi risiko ekologis.

Pihaknya akan mengedepankan  langkah strategis, penguatan pengawasan perdagangan satwa eksotik, edukasi publik yang lebih masif, serta sistem deteksi dini terhadap kemunculan spesies non-native di alam.