Berita

Peneliti UM Sumbar Dokumentasikan Reproduksi Alamiah Enggang Cula di TNKS

28/07/2026|Andri Mardiansyah
Sepasang enggang cula di tajuk pohon Foto Pemerhati Aves Ducula bicolor Sylva - Peneliti UM Sumbar Dokumentasikan Reprodu...

Sepasang enggang cula di tajuk pohon. | Foto: Pemerhati Aves Ducula bicolor Sylva

Gardaanimalia.com - Temuan penting dalam riset keanekaragaman hayati dan sains konservasi berhasil dicatatkan di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Kelompok Pemerhati Aves Ducula bicolor Sylva Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat mendokumentasikan bukti otentik aktivitas pembiakan (breeding activity) satwa terancam punah di wilayah Gambir Sako, Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan, Kabupaten Pesisir Selatan.

Melalui metodologi pemantauan avifauna (bird monitoring) secara berkala, tim peneliti berhasil merekam presensi sepasang induk bersama satu individu juvenile (anakan) burung enggang cula (Buceros rhinoceros).

Penemuan ini mengonfirmasi keberhasilan proses reproduksi secara alamiah dari spesies frugivora (pemakan buah) berukuran besar tersebut di bentang alam hutan hujan tropis Sumatera.

Pengamatan terfokus di strata tajuk (canopy layer) vegetasi hutan primer. Mereka berhasil merekam morfologi khas dari enggang cula dewasa, seperti struktur cula (casque) berwarna merah oranye yang mencolok serta paruh kokoh penanda maturitas biologis.

Pendampingan induk terhadap anakan menjadi bukti empiris keberlanjutan siklus hidup spesies yang dilindungi tersebut.

Ketua Tim Monitoring Aves Ducula bicolor Sylva UM Sumatera Barat, Azmi, menyatakan bahwa ketersediaan sarana bersarang dan keberhasilan penetasan anakan di habitat alami, merupakan indikator bio-ekologis yang sangat krusial.

Temuan ini menandakan bahwa fungsi ekosistem di Gambir Sako masih berada dalam kondisi yang baik. Secara ekologis, Buceros rhinoceros memegang peranan sebagai spesies kunci (keystone species) yang bertindak sebagai agen pemencar biji berkapasitas besar.

Luasnya daya jelajah (home range) serta preferensi pakan burung ini sangat menentukan regenerasi vegetasi pohon-pohon klimaks berpohon keras di Hutan Hujan Tropis Sumatera.

"Kehadiran anakan ini mengindikasikan bahwa daya dukung lingkungan (carrying capacity) serta struktur rantai pakan (food web) di kawasan Gambir Sako masih relatif stabil untuk menopang keberlanjutan demografi populasi mereka," papar Azmi dalam rilis ilmiahnya pada Senin (27/7/2026).

Pengamatan untuk Merumuskan Strategi Konservasi 

Lanskap Gambir Sako di Ranah Ampek Hulu Tapan, kata Azmi, memiliki karakteristik kerapatan vegetasi yang cukup lebat dan relatif utuh.

Kondisi mikroiklim serta heterogenitas struktur hutan tersebut menyediakan ketersediaan pakan yang mencukupi serta perlindungan alami dari ancaman predator maupun gangguan eksternal.

Kendati data lapangan menunjukkan performa ekosistem yang relatif terjaga, menurut Azmi, kerentanan ekologis akibat fragmentasi habitat tetap menjadi ancaman serius.

Tekanan antropogenik, seperti alih fungsi lahan dan potensi perambahan liar di sekitar zona penyangga (buffer zone) TNKS, terus membayangi daya dukung habitat spesifik ini.

Oleh karena itu, Azmi berkata bahwa data spasial dan dokumentasi ilmiah dari kegiatan inventarisasi ini dirancang untuk memberikan masukan berbasis bukti (evidence-based policy) bagi Balai Besar TNKS.

Data ini diharapkan menjadi rujukan faktual dalam formulasi zonasi perlindungan serta evaluasi tata kelola kawasan konservasi secara berkala.

"Melalui publikasi temuan akademik ini, kita juga akan melakukan penguatan kolaborasi multidisiplin antara akademisi, pengelola kawasan, dan masyarakat lokal. Sinergi berbasis riset menjadi basis utama dalam merumuskan strategi konservasi adaptif guna menjamin eksistensi keanekaragaman hayati di benteng Hutan Hujan Tropis Sumatera," tutup Azmi.