Gardaanimalia.com - Tiga monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) terlihat berkeliaran di SMPN 1 Sleman pada Rabu (22/07/2026) lalu. Kemunculannya pertama kali diketahui oleh petugas keamanan dari pihak sekolah sewaktu siang.
Petugas keamanan SMPN 1 Sleman, Ahmad Fauzan mengatakan lepasnya kawanan monyet ekor panjang tersebut mengalihkan perhatian para siswa saat jam pembelajaran berlangsung.
“Kalau untuk hari ini ada guru yang mengeluhkan bilangnya mengganggu, agak mengganggu. Karena di saat monyet itu lewat di selasar kelas, otomatis perhatian anak langsung ke situ. Iya mengganggu konsentrasi anak waktu belajar, pembelajaran,” jelasnya dalam detik.com, Minggu (26/7/2026).
Setelah melalui penelusuran oleh pihak sekolah untuk memastikan asal satwa liar tersebut. Dipastikan ketiga monyet ekor panjang telah kabur dari Ibarbo Park. Lokasi Ibarbo Park sendiri keberadaannya tidak jauh dari kawasan sekolah.
“Kalau sementara kita konfirmasikan itu katanya dari Ibarbo. Lepas 10 ekor kemarin, terus katanya sudah ketangkep empat. Nah hari ini, saya mau konfirmasi lagi sudah ketangkep tujuh, berarti masih ada tiga di sekolahan ini,” terangnya.
Sementara, pihak Taman Wisata dan Edukasi Ibarbo Park membenarkan kabar lepasnya sekawanan monyet ekor panjang dari kawasannya.
General Manager Ibarbo Park, Ajris Sufata menjelaskan awalnya monyet ekor panjang akan dipindahkan ke tempat lain. Lantaran, pihaknya mendapat beberapa keluhan dari pengunjung yang merasa terganggu dari bau primata ini.
Kemudian, monyet ekor panjang tersebut diserahkan ke komunitas. Namun, dari total 10 ekor ada tiga ekor yang kabur saat proses pemindahan.
“Setelah dipindahkan dekat SMP 1, bulan November kalau tidak salah, itu lepas. Jadi bukan kandangnya monyet asli ya, kayak kecil-kecil kota-kotak gitu, kayak kandang apa ya, kandang kandang kucing-kucing yang ukuran kecil gitu,” ungkapnya.
Terakhir, keberadaan monyet ekor panjang kembali terlihat di area sekolah pada Jumat (24/07/2026).
Hingga saat ini dilaporkan belum ada insiden primata itu melukai siswa atau para guru. Menurut Ajris, pihaknya hingga kini masih berusaha untuk menangkap ketiga primata tersebut.
Meski begitu, upaya tersebut hingga Sabtu (25/07/2026) belum juga membuahkan hasil. Ajris pun akhirnya menggandeng komunitas dan melaporkan ke pihak BKSDA setempat untuk penanganan satwa itu lebih lanjut.












