Gardaanimalia.com - Hutan di Kalimantan bagai rumah yang tidak terkunci. Penghuninya tidak akan tahu kapan rumah itu dirampok, dirampas, bahkan dibakar. Perasaan takut sudah menjadi makanan sehari-hari bagiku. Rasa takut bahwa rumahku ini akan hilang, takut jika sumber makanan di rumahku akan berkurang drastis, aku juga sangat takut bahwa nyawaku akan hilang sedang anakku direbut untuk diperdagangkan.
Ketakutan itu bukan terjadi tiba-tiba karena empat tahun lalu, aku akhirnya dilepasliarkan dari sekolah hutan yang mengajarkanku untuk kembali “liar”. Ya, aku korban kejahatan manusia terhadap satwa liar.
Saat usiaku masih 1 tahun, aku direnggut dari pelukan indukku lalu dijual untuk dipelihara oleh manusia selama 2 tahun sampai akhirnya diketahui oleh pihak berwenang. Ibuku? Kalian pasti sudah tahu ceritanya… ibuku dibunuh oleh manusia yang menjualku untuk dipelihara.
Dua bulan yang lalu, aku menyambut buah hatiku yang telah ku kandung 9 bulan lamanya. Nadi, nama yang kuberikan padanya. Serupa dengan namaku, Nada. Namun Nadi memiliki arti tersendiri karena ia bagai nadi hidupku. Sekarang Nadi tidak pernah lepas dari gendonganku. Aku harap Nadi dapat terus tumbuh di sisiku.
Seiring berjalannya waktu, Nadi semakin pintar terutama dalam berayun-ayun dari satu dahan kecil ke dahan lainnya. Tentunya, ia belajar hal tersebut juga tidak lepas dari pantauan dan pelukanku.
Saat aku sedang memakan buah kecil di sarangku, aku merasakan kehangatan yang luar biasa. Namun, kehangatan ini bukan suatu yang menyenangkan. Aku tidak menghasilkan asi yang cukup untuk Nadi akhir-akhir ini karena suhu yang ekstrem, ditambah sumber air yang susah sekali didapat.
Malam tiba dan aku berusaha tidur dengan perut yang masih sangat lapar karena buah kecil yang aku makan sebelumnya adalah makanan pertama dan terakhirku hari ini.
Nadi tertidur di gendonganku. Bahkan saat malam, hawa panas ini tidak kunjung hilang. Tunggu sebentar, mengapa ini sangat panas? Lalu mengapa ada gemuruh suara teman-temanku di sisi lain hutan?
Nyala api terlihat!
Rumahku, hutanku ini terbakar. Aku berusaha berayun sekuat tenaga yang aku bisa agar aku dan anakku selamat atau setidaknya bertahan. Teriakan teman satwa yang lain semakin jelas.
Pagi menjelang, aku berlindung di pohon yang tersisa. Asap yang menyelimuti membuat pernapasanku terganggu. Nadi ketakutan dan hanya menenggelamkan wajahnya di dadaku.
Hutan hanya diisi asap dari atas sini. Waktu demi waktu aku bertahan, dengan makan daun pepohonan seadanya. Sampailah aku di kebun sawit manusia. Entah bagaimana, kebun sawit ini aman dari kobaran api. Maka, di sinilah aku melindungi diri untuk sementara waktu.
Manusia datang, tidak lama datang bergerombol. Aku ketakutan setengah mati, Nadi berteriak karena cuaca panas yang ekstrem dan ketakutan pula.
Kemudian beberapa manusia itu menggelar jaring entah untuk apa. Aku pasrah, tubuhku tidak kuat lagi tapi setidaknya aku mohon untuk anakku tetap hidup. Aku dan Nadi terjatuh ke jaring tersebut. Dengan segera, salah satu manusia itu menyuntikkan sesuatu ke tubuhku.
Aku lemas dan pingsan.
Aku bermimpi. Suatu hari yang cerah tiba-tiba berubah suram karena kepulan asap akibat kobaran api yang membakar dan menghanguskan pepohonan yang selama ini menjadi rumahku.
Aku terbangun dalam kandang besar seperti kandang karantina. Nadi tertidur pulas di sampingku, mulutnya bau susu. Sepertinya manusia-manusia ini yang telah menolongku. Di dalam kandang juga sudah tersedia keranjang kecil berisi sayuran seperti wortel, kol, dan labu. Aku memakan perlahan sayur-sayur tersebut dan mulai merasa tubuhku sedikit lebih segar daripada sebelumnya.
Dua hari kemudian, aku dan Nadi dibawa dalam kandang lebih kecil. Kami dalam perjalanan “pulang” menuju rumahku. Rumah? Rumah yang telah terbakar?
Hawa panas masih sangat terasa bahkan menusuk masuk ke dalam kandang besi ini. Mereka berkata bahwa aku telah pulih dan siap dipulangkan. Namun, pulang kemana aku dan anakku?
Jika api dan asap berhasil dipadamkan, apakah hutan tersebut tetap menjadi rumahku? Di mana dan dengan apa aku akan membuat sarang? Bagaimana dengan sarang rayap dan buah-buah kecil yang menjadi makanan sehari-hariku jika pohon-pohon besar itu terbakar?
Beberapa manusia yang menolongku memang sangat baik. Tapi mereka hanya sebagian kecil manusia yang peduli dengan aku dan teman-temanku serta lingkungan yang sehat. Sebagian besar lainnya hanya peduli pada keuntungan pribadi dan tega mengeruk sesuatu yang bukan hak mereka untuk mengeruk uang dan makanan dengan anak-anaknya.
Jika bencana terjadi, kami juga para satwa liar yang jadi korban. Manusia yang tinggal berdekatan dengan kami juga jadi korban. Mereka yang serakah dan justru dalang di balik kerusakan alam tetap tersenyum di hadapan kamera, memamerkan tas atau jam mahalnya, dan tidur nyenyak dengan nyaman.
Catatan Penulis:
Cerita ini terinspirasi dari Raya dan Rayu, induk orangutan dan bayinya yang dievakuasi oleh tim Orangutan Foundation International (OFI) pada 2 September 2026 saat kebakaran hutan di Kalimantan Tengah.
Mereka bertahan dengan berpelukan erat di atas pohon di tengah kepulan asap dan lahan gambut yang terbakar.
Cerita ini juga mewakili orangutan lain serta para satwa liar di seluruh Indonesia, khususnya di Kalimantan, yang sedang menghadapi pengikisan habitat akibat dibakar.
Penulis menulis cerita ini dengan harapan bahwa suara para satwa dapat didengar oleh manusia lewat cerita pendek ini.
















