Gardaanimalia.com - Pekikan itu membelah langit, bersahutan di antara gumpalan awan. Birunya atap dunia bak berhiaskan ratusan layang-layang tanpa benang. Di antara mereka, Nisaetus dan Bartelsi mengarungi udara terik setelah tak demikian selama ratusan purnama. Keduanya mengelus dada menyaksikan pemandangan di bawah tak lagi hijau, berganti gedung berlantai dua digit, kompleks hunian, dan simpang susun penuh asap kendaraan.
“Aku yakin, dulu tidak seperti ini,” heran Nisaetus.
“Kalau begini, bagaimana misi kita?” Bartelsi tampak tercengang.
Nisaetus dan Bartelsi beserta ratusan Elang Jawa ragu apakah bisa melakukan sesuatu yang sudah direncanakan sebelum perjalanan panjang ini. Terlebih, mereka melihat kawanan Manusia di bawah sana tidak seperti biasanya.
“Bukannya harusnya mereka sudah berubah?” kata Bartelsi mengernyitkan dahi.
“Ini pasti ada yang salah,” tutur Nisaetus.
“Apa kita perlu memeriksanya? Ini sudah setengah abad loh,” ajak Bartelsi.
“Tunggu dulu!”
Ratusan Satwa berjambul itu melesat dari tempat yang membuat Manusia menahan napas dengan wajah pucat pasi. Itu adalah Hutan Hantu yang muncul tiba-tiba setelah lenyap entah ke mana. Sorot mata Manusia di bawahnya seperti mengkhawatirkan akan terjadi bencana. “Itu Burung Ababil?”
“Apa maksudmu? Jadi Raja Abrahah hidup lagi di hutan itu?”
“Kiamat! Ada kiamat! Selamatkan diri!”
***
Nisaetus dan Bartelsi memicingkan mata dari luar jendela menyaksikan berlembar-lembar HVS lusuh diobrak-abrik jari jemari Manusia. Bertumpuk-tumpuk buku pasrah digeledah di ruangan berbau bibliosmia itu demi mendapati kebenaran. Hilang akal sehat Manusia usai menyaksikan ratusan Elang Jawa mengangkasa di atas mereka. Peristiwa itu cukup menggugah Manusia1 dan Manusia2 karena sudah lama mereka tak membaca data layaknya cendekia, membaca fakta di alam semesta.
“Aku tidak percaya apa yang kulihat.”
“Kita tidak sedang bermimpi, kan?”
“Bukannya kita sedang kiamat?”
“Bukan, maksudku Elang Jawa itu harusnya terbang sendirian, kan? Soliter?”
“Tidak, aku ingat kakekku cerita masa kecilnya menyenangkan karena bisa menyaksikan mereka bergerombol.”
“Tapi itu dulu. Sekarang harusnya kita melihat mereka di atas pegunungan, perbukitan, atau dataran tinggi yang angker!”
Lalu grafik itu muncul di hadapan mereka, Nisaetus dan Bartelsi menyaksikannya dengan hati bergejolak.
Sudah jutaan hektare istana hijau itu lenyap disapu besi dan baja raksasa. Penghuninya tunggang-langgang mendengar desingan senjata. Keyakinan supranatural dihajar secarik kertas lalu diterjang begitu saja. Satu pertanyaan tersimpan di benak Manusia: mengapa Elang Jawa itu kembali datang bersama dalam jumlah tak terhingga di masa ketika sulit ditemukan rumahnya. Sebuah potret di dinding pun menyapa mereka, potret Burung Garuda yang menjadi dasar negara.
“Apakah ini tanda negara kita akan runtuh?”
“Aku tidak mau mati. Aku masih ingin makan enak.”
“Dengarkan dulu. Sudah banyak ilmuwan, peneliti, media internasional memprediksi negara kita akan hancur. Masih ingat?” Lawan bicara itu termenung lalu matanya membelalak.
“Gawat! Pemimpin kita juga bicara seperti itu beberapa tahun lalu.”
Kedua Manusia itu seketika merogoh telepon genggam dalam tas. Berselancar di dunia maya. Mencari satu nomor yang sudah bukan legenda, si Jagal Alas. Nisaetus dan Bartelsi tidak bisa menahan napas.
***
Bucket dan Arm sudah siap menerjang empat mata angin berkat silinder hidrolik yang dikemudikan sepasang mata dari dalam kabin. Tracker yang terdiri atas rantai track, idler, dan travel motor sudah cukup memandunya menargetkan dari satu rumah Satwa menuju rumah yang lain. Melayangnya debu di udara mewarnai proses diturunkannya si Jagal Alas dari lowboy trailer.
FX Impact MK2 dengan peluru Kaliber .30 sudah siap di tangan seratus pria dewasa. Di depannya berdiri gagah gerbang menuju hutan yang sudah lama tidak muncul di pandangan mata Manusia.
“Ini yang mau kita hajar?”
“Jaga ucapanmu. Ini hutan hantu yang misterius itu.”
“Kamu yang jaga ucapanmu. Sepengalamanku membuka lahan, yang namanya angker-angker itu tidak ada.”
“Bagaimana dengan senapan kita? Sudah cocok?”
“Tenang saja, kecepatan pelurunya melebihi buruan kita.”
Sementara itu di atas mereka, ratusan Elang Jawa melayang menuju hutan di hadapan Manusia. Dua di antaranya, Nisaetus dan Bartelsi, harap-harap cemas menanti nasib dan rumah mereka kini.
Pembicaraan Manusia yang mereka saksikan beberapa saat lalu sudah cukup membuat nasib mereka di ujung tanduk. Jika tidak dicegah, perjalanan panjang mereka kali ini akan berakhir sia-sia.
“Mereka akan melakukannya lagi,” kata Nisaetus.
“Kita pasti bisa mencegahnya.”
“Tapi aku lelah kalau harus terus begini. Masih ingat kan pengalaman terakhir kita saat Manusia dipimpin raja 32 tahun itu?”
“Yang penting kita sudah melakukan apa yang kita rencanakan.”
Bartelsi menenangkan kawannya. Lalu percakapan mereka dikejutkan ledakan dari bawah. Gerbang hutan itu sudah lebur dihajar peledak.
Deru si Jagal Alas membangunkan ribuan organisme dari tidurnya. Bukan hanya satu, puluhan sudah berbaris menanti instruksi seseorang bertopi rimba berpakaian warna milky white dan khaky. Megafon dan pelantang di tangan tanda ia siap memekik sebelum hutan di hadapannya tiba-tiba lenyap bertahap.
***
Hutan yang menghilang perlahan membuat Manusia mematung. Senapan di tangan dan si Jagal Alas terdiam. Namun, para Manusia tetap menjejakkan sepatu boots di tanah bekas berdirinya hutan misterius itu karena kepalang tanggung senapan sudah dikokang, mesin sudah bergetar.
Lengan ekskavator meremukkan pepohonan kecil di depan, peluru 7.62mm tak lupa ditembakkan. Sebatang kayu dan seekor Elang Jawa tidak masalah bagi mereka asal bisa dibawa pulang.
Baru seratus meter berjalan, para Manusia tertegun dan saling berpandangan. Lahan kosong di depan disambut keheningan dan detak jantung yang hampir bisa ditangkap telinga.
Lalu terdengar sayup-sayup dari depan, atas-bawah, kiri-kanan. Langit biru pagi itu menghitam perlahan diselingi jutaan tikus, bajing, ayam hutan, dan kelelawar datang menerjang.
Manusia tak sanggup menahan. Senapan di tangan sama tak berandil signifikan.
“Aku sebenarnya menolak cara-cara seperti ini,” ucap Nisaetus berjarak satu kilometer di depan.
“Kalau tidak seperti ini, mereka tidak akan paham dengan ledakan populasi itu.”
“Kamu ada benarnya juga.”
“Sudah, tak perlu dipikirkan. Kita sudah menjalankan misi kita sebelum terpaksa melakukan cara-cara itu.”
Tak hanya Nisaetus dan Bartelsi, ratusan Elang Jawa di dekatnya menatap Manusia dengan pilu. Tak ada niat menyakiti jika bukan terdesak kondisi.
Mahkamah Rimba terpaksa mengembalikan lagi hutan itu ke dimensi lain setiap lima puluh lima tahun dengan harapan karakter Manusia sudah berubah.
Elang Jawa satu demi satu memasuki dimensi lain lagi, hidup sendiri lagi, dan baru bisa ziarah ke pusara pasangannya nanti lima puluh tahun lagi.
Bandung, 23 Mei 2026
















