Cerita Pendek

Seharusnya Ini Rumahku

15/07/2026|Ahmad Daris
Ilustrasi ikan batak yang populasinya terancam oleh ikan-ikan invasif Foto Batakeren - Seharusnya Ini Rumahku

Ilustrasi ikan batak yang populasinya terancam oleh ikan-ikan invasif. | Foto: Batakeren

Gardaanimalia.com -"Berenang!" ucapku kepada saudara-saudaraku. Kami dikejar seekor ikan merah misterius yang bahkan belum pernah kami lihat sebelumnya.

"Itu! Ada ranting besar di depan sana!" 

Ah, untung saja kakak tertuaku melihat ranting itu. "Untung saja Kakak menemukan ranting ini." 

"Untung saja. Hampir saja ikan merah aneh itu memakan kita, Tob," ucap kakakku lega. 

Namun, ekspresinya seketika berubah. 

"Toba! Di mana adikmu?" 

"Hah? Adik?" Aku panik hingga tak mampu berpikir. 

"Sial... dia tertinggal." 

Tatapan kakakku menyapu ke segala arah. Namun, di luar ranting tempat kami bersembunyi hanya tampak hamparan air keruh kehijauan. 

"Toba, kamu tetap di sini, ya. Kakak harus mencari adik kita. Semoga dia belum berenang terlalu jauh." 

Tanpa menunggu jawabanku, kakakku berenang menuju hamparan air yang berkabut itu. Ia terus menjauh hingga wujudnya perlahan menghilang dari pandanganku. Itulah yang terjadi beberapa bulan lalu. 

Kini kekosongan dan kebingungan itu masih menyelimuti hari-hariku. Aku belum pernah melihat kakak maupun adikku lagi sejak hari itu. Kini tubuhku sudah cukup besar untuk seekor ikan batak (Neolissochilus thienemanni). 

Kini kulakukan setiap hari hanyalah memandangi hamparan Danau Toba yang keruh, tetapi tetap indah. Entah apa yang akan kulakukan setelah ini. Sejujurnya, aku sendiri tidak yakin. 

Danau ini sudah banyak berubah. Tidak lagi seperti yang diceritakan dalam dongeng-dongeng orang tuaku. Kau pikir yang kumaksud adalah Legenda Danau Toba itu? Tidak. Jauh sekali. Kami membenci kisah itu. Bagi kami, cerita itu hanyalah sebuah propaganda. Suatu saat akan ku ceritakan, tapi   sekarang aku ingin lebih dulu menceritakan kisahku—kisah sebelum semua kejadian mengerikan dan membingungkan itu terjadi. 

Aku lahir di Danau Toba pada 13 Maret. Sejujurnya aku lupa tahun berapa, tetapi menurut orang tua dan saudara-saudaraku, tanggal itu sangat istimewa. Konon, 13 Maret adalah hari ketika letusan pertama Gunung Toba terjadi. Kalian mungkin tidak akan percaya, tetapi kami, para penghuni danau, memiliki catatan sejarah yang lebih lengkap daripada manusia. 

Walaupun, aku sendiri masih heran bagaimana para tetua kami bisa mencatatnya. Bukankah saat letusan itu terjadi seharusnya belum ada satwa air di sini? Entahlah. Yang jelas, itulah alasan mengapa aku dinamai Toba. 

Aku lahir di bagian danau yang airnya cukup keruh. Ya, tentu saja aku tidak bersyukur akan hal itu. 

Di sisi danau yang lain masih ada tempat-tempat dengan air yang jauh lebih jernih. Keruhnya air juga menjadi pertanda bahwa aku tinggal di dekat kawasan aktivitas manusia, seperti keramba dan berbagai kegiatan lainnya. 

Sejak kecil aku sudah terbiasa melihat begitu banyak jenis ikan hidup di danau ini. Walaupun, sejujurnya aku lebih suka menyebutnya sebagai keanekaragaman semu. Bagaimana tidak? Banyak ikan yang hidup di sini bukanlah penghuni asli Danau Toba. 

Bukannya aku membenci mereka hanya karena berbeda. Masalahnya, mereka memang membawa dampak buruk bagi kami. Ikan nila (Oreochromis niloticus) dan red devil (Amphilophus labiatus), misalnya, berkembang biak dengan sangat cepat. Sementara kami, ikan batak, membutuhkan waktu lebih dari satu tahun hanya untuk mencapai usia dewasa—katanya ketika panjang tubuh kami mencapai sekitar 25,89 sentimeter. 

Akibatnya, kami sering kalah bersaing mencari makanan karena jumlah mereka terus bertambah. 

Belum lagi, ikan-ikan invasif itu tak jarang memangsa anakan ikan seperti camilan sehari-hari. Itulah latar belakang kisah yang kuceritakan di awal. Bukannya aku ingin berprasangka buruk, tetapi rasanya sulit membayangkan adikku masih berenang dengan bahagia di danau yang penuh pilu ini.