Gardaanimalia.com - Air masih mengalir deras bak aliran air laut, sementara diriku dan saudaraku berlindung hingga memanjat pohon sambil berharap kondisi ini usai.
Pohon tempatku berlindung bahkan sudah hampir goyah akibat hantaman air yang deras. Kini aku berusaha mencari di manakah anakku… Sedari tadi tak dapat kutemukan si kecil manisku itu.
“Lihatkah kau anakku?” ucapku pada salah satu orangutan tertua di antara kami. Si tetua hanya menatap sedih, ia pun ternyata tak tahu di mana beberapa anggota keluarganya.
Ingin rasanya mencari anakku. Namun, melihat kondisi air yang tak kunjung reda ini tak mungkin bagiku mencari dirinya.
Kini kami hanya terdiam memandangi air yang deras. Mencari dan berbagi sedikit makanan yang didapat bersusah payah karena tempat kami mencari makan dan berlindung kini tengah dilanda amukan alam. Di atas dahan pepohonan yang tidak tersapu air ini kami saling berbagi tempat dan makanan yang tidak seberapa itu.
“Makanlah sedikit,” ucap betina yang tengah menyusui bayinya sembari memberikan dua pisang yang sudah terlihat cukup menghitam. Tidak lagi terasa rasa lapar itu, tergantikan oleh kekhawatiran keberadaan buah hatiku.
Pada akhirnya kuabaikan pisang itu dan terus saja menoleh dan menilik setiap pohon yang ada di seberang sana. Berharap ada secercah harapan buah hatiku sedang bergelayut di sana. Aku menoleh pula ke arah dahan-dahan tempat kami bertumpang-tindih, berharap anakku ada di dekatku, hanya saja mataku yang luput melihatnya.
Tak satupun dari kami yang berniat pergi, semuanya hanya berdiam diri. Dari pagi hingga pagi kembali, bahkan hingga berhari-hari. Tempat ini sekarangi menjadi rumah perlindungan sementara kami dari alam yang sedang meluapkan amarahnya.
“Di mana anakku?” gumamku perlahan dengan suara bergetar, kembali melirik aliran air yang memang tak sederas dan sedalam sebelumnya, sehingga perlahan terlihat banyak pepohonan.
Ah, aku kenal pohon itu. Benar, pohon itu pernah menjadi sarang kami, kini tertumpuk basah tak berguna. Terpotong rapi oleh para perusak itu. Rusak sudah rumah-rumah kami, padahal kami pun tidak menyentuh permukiman mereka.
Kualihkan semua keluhan itu, kembali melirik ke arah tumpukan lainnya. Ada benda yang entah apa disebutnya, tetapi seringkali kulihat benda itu membawa potongan-potongan rumah kami untuk dibawa pergi.
Benda besar yang bunyinya meraung jahat itu kini juga terbengkalai di sana. Masih tak dapat kujumpai anakku itu. Apa mungkin ia ketakutan dan akhirnya bersembunyi? Kuharap benar.
Saat ini, mulai banyak terlihat makhluk berkaki dua yang disebut manusia itu berlalu lalang.
Aku hanya melihatnya sekilas, tak tertarik melihat kegiatan para manusia itu. Hingga akhirnya kulihat banyak sekali manusia berkumpul di satu titik. Mereka berusaha memindahkan tumpukan kayu dan menggali tanah basah itu.
Kenapa? Apakah ada kaum mereka yang terhimpit di sana? Terus saja kupandangi. Bahkan beberapa orangutan pun turut menatap kumpulan manusia itu.
Satu persatu tumpukan pohon berhasil disingkirkan. Katakan aku terlalu baik dengan para perusak itu, tetapi sejujurnya aku berharap setidaknya entah siapapun di bawah sana, kuharap tak pergi untuk selamanya.
Perlahan tumpukan kayu tampak mulai sedikit bersih di titik mereka berkumpul. Mereka terdiam. Kenapa terdiam? Apakah semalang itu nasibnya? Aku pun ikut takut melihat ekspresi itu. Jantung perlahan berdegup kencang, tak nyaman.
Hingga akhirnya terlihat tangan itu. Tangan berbulu lebat. Tangan itu terkulai lemah. Tapi tunggu. Aku mempertajam pandanganku, berharap yang kulihat hanya kesalahan penglihatan.
Jarinya hilang? Bukan luka yang baru terbentuk, tetapi seperti luka lama. Aku tahu itu anakku! Aku berteriak-teriak penuh penyesalan dan kemarahan.
“ANAKKU! KEMARIKAN ANAKKU!” teriakan itu keluar sangat keras.
Para perusak itu juga mengabaikan ku.
“JANGAN KAU BAWA ANAKKU! JANGAN KAU RAMPAS PUTRI KECILKU!”
Mereka hanya menatap sekilas dan melanjutkan kegiatannya.
Mereka mengangkat anakku, tangan itu terkulai lemah. Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan pada tubuh mungilnya. Aku tak kuasa menahan tangis hingga akhirnya semua pecah. Kesedihan, amarah, penyesalan menyatu menjadi satu perasaan.
Mereka beranjak begitu saja setelah membungkus tubuh kecil anakku bak benda mati dengan kain. Menoleh pada kami pun tidak.
Aku tak ingin mereka memisahkanku dari anakku. Teriakan membabi buta tak kuhentikan, berharap mereka menoleh. Aku tak akan menyerang apapun, hanya saja kembalikan buah hatiku. Jangan bawa ia pergi. Jangan pisahkan aku dengan buah hatiku seperti yang kalian lakukan pada salah satu anak dari seekor induk lain di wilayahku.
Mereka semakin jauh, teriakanku berganti menjadi teriakan putus asa. Mereka tak menoleh. Mereka membawa buah hatiku pergi. Anakku yang kujaga sepenuh hati itu mereka rampas.
Ia penuh luka dan aku tak ingin meyakini bahwa anakku tak lagi bernyawa.
Tuhan.. Salah siapa ini? Mereka yang merusak alam, mereka yang merampas rumah kami, tetapi kami yang kehilangan anak kami, nyawa kami.















