Gardaanimalia.com - Bulan Oktober ini adalah bulan yang sangat berbahagia bagi tangkur kuda jantan (Hippocampus kuda) sepertiku. Di bulan ini, spesies kami masuk ke dalam siklus musim kawin.
Saat ini, aku bahkan sudah mengandung anakku di dalam kantong di perutku. Aku belum tahu jumlahnya—karena aku tidak menghitungnya saat aku memasukkannya bersama pasanganku. Namun, katanya anak tangkur kuda dapat mencapai jumlah 1.750 ekor. Jumlah yang fantastis bagiku.
Mengandung anak sebanyak itu tentu melelahkan karena aku perlu memberi makan mereka dengan tubuhku sendiri, yaitu memberi lemak dan protein dari tubuhku kepada mereka. Oleh karena itu, akan sangat wajar jika aku akhir–akhir ini sering merasa lemas yang luar biasa.
Hal yang membuat aku senang saat aku sedang hamil seperti ini adalah bagaimana pasanganku memperlakukanku. Bayangkan, selama aku hamil, setiap pagi ia akan menghampiriku dan menari bersama sembari mengaitkan ekor kami. Sungguh romantis sekali yang aku rasakan.
Betul, tangkur kuda memanglah spesies kuda laut yang bersifat monogami. Biasanya, kami tidak akan memiliki pasangan lagi, kecuali pasangan kami mati. Setia, itulah kami.
Hari ini adalah hari ke-12 masa kehamilanku—biasanya tangkur kuda jantan akan mengandung selama 10–17 hari. Dapat dikatakan, hari ini sudah hampir memasuki masa–masa akhir kehamilanku, aku tinggal menunggu saja.
Senang sekali aku dapat melewati masa kehamilanku dengan baik, ditemani pasangan yang perhatian padaku. Rasa lelah yang aku rasakan sering kali mudah menghilang.
Saat ini aku sedang mencari makan di daerah air keruh. Walau warnanya tidak cantik, daerah ini menyimpan banyak sekali makanan bagiku.
Banyak sekali plankton di sini. Oleh karena itu, airnya keruh. Kuhisap semua plankton itu dengan mulut corongku. Sejujurnya walau bukan yang terkeren, memiliki mulut seperti ini tidak buruk juga. Justru cukup membantuku dalam mencari makan.
Aku berenang ke sana kemari untuk mencari makan. Namun, tak lama, aku merasakan hal yang tidak benar. Tubuhku benar–benar lemas kali ini. Dengan panik, menggunakan sisa tenagaku, aku mencari rumput laut untuk menjadi tempatku mengaitkan ekor.
Di depan, aku melihat sebuah rumput laut yang menjuntai cukup tinggi. Bergegas aku berenang ke sana.
“Sayang!”
Terdengar suara memanggil dengan begitu panik. Aku dengan luar biasa berat membuka mataku, pasanganku. Kenapa dia ada di sini? Bukankah aku sedang berenang kencang menuju rumput laut?
“Kenapa aku? Apa yang membuatmu panik sayangku?” kataku. Aku benar–benar merasa bingung. Kepalaku pusing.
“Kamu pingsan, sayang,” begitu ucapnya.
Sungguh aku ragu. Bukannya tidak mempercayainya, tetapi aku rasa sebelumnya aku benar–benar baik–baik saja.
“Aku tadi menemukanmu ada di sekitar sana, di daerah sebelum rumput laut tumbuh cukup lebat di sini.”
Sial, aku ternyata hampir berhasil sampai di rumput laut yang kutuju. Sepertinya benar, kuda laut jantan akan merasakan lelah ekstrem saat sedang hamil.
Kutatap wajah pasanganku lalu aku peluk dirinya, “Terima kasih sayang, aku tidak tahu bagaimana nasibku jika kau tidak menemukanku. Mungkin aku sudah dimakan kepiting.”
“Hei! Jangan kau berkata seperti itu. Sangat sulit bertahan hidup di zaman sekarang. Aku tidak ingin kau membayangkan hal yang tidak–tidak,” tuturnya dengan wajah sedikit kesal. Namun, aku tahu ada kekhawatiran luar biasa di dalamnya. Aku tersenyum, sedikit tertawa malu dengannya.
Hari ini adalah hari ke 13 kehamilanku. Pagi ini aku bangun sedikit lebih pagi. Cahaya matahari masih tidak sudi menyemprot lautan ini. Jadi, aku berenang dengan hati–hati. Tiba–tiba ada yang menyundulku dari belakang. Siripku setengah merinding.
Dengan cepat aku berbalik. Pasanganku. Dia tersenyum padaku. Seketika warnaku berubah menjadi lebih cerah. Tak lama ia mengajakku menari. Kami saling mengaitkan ekor kami. Pagi yang luar biasa, aku merasa begitu bahagia. Bahkan lama kelamaan matahari pun mulai melihat kami dan menyinari lautan ini. Hingga akhirnya dia pun pergi kembali.
Aku tidak merasa ditinggal, aku senang. Ada dia yang selalu mendukungku saat aku dalam kondisi yang rentan seperti ini.
Hari ke-14 pun aku rasakan. Rasanya anak–anakku sudah menjadi sedikit lebih besar. Kali ini aku terbangun agak siang kurasa.
Tepat setelah aku membuka mata, tepat di sampingku, pasanganku menatapku dengan senyum tenangnya. “Menari, yuk,” ujarnya lembut sembari tersenyum.
Tubuhku berubah warna lagi. Tanpa berpikir kepalaku mengangguk. Kita menari cukup lama hari ini, hingga aku merasa sedikit lemas. Tentu pasanganku membantuku setelahnya. Ia memastikan aku baik–baik saja sebelum dia kembali pergi.
“Sayang!” terdengar suara kencang dari arah yang sedikit jauh, pasanganku.
Dengan mata bagai bunglonku aku mencari di sekitar dari mana suara itu. Kanan, aku melihatnya. Aku berenang dengan sekuat tenaga. Namun, pasanganku sedang ditarik ekornya oleh seekor kepiting. Dengan sekuat tenaga aku memukul–mukul capit kepiting itu, tubuhnya, semuanya. Dia terlihat begitu ketakutan.
Tanpa kusadar, dengan kecepatan yang tak tertangkap mata, kepiting itu masuk ke dalam tanah bersama dengan pasanganku.
Aku panik luar biasa. Aku coba gali dengan segala yang aku bisa. Aku terbangun. Air disekitar semakin keruh karena pasir. Pasanganku!
Aku menatap kembali pasir di sekitar. Tidak ada. Tidak ada tanda-tanda pergerakan.
Sial! Sial!
Aku begitu marah. Aku kecewa dengan diriku sendiri. Sungguh pasangan yang tidak berguna. Setiap pagi dia mengajak dan menemaniku menari, membantuku saat aku kelelahan. Namun, saat dia membutuhkanku, tubuh lemah ini malah menyerah dan pingsan.
Aku benar-benar tidak paham. Kenapa jadi seperti ini? Aku hampir bahagia bersamanya. Namun, karena kelalaianku, dia tidak tertolong.
Sial! Sial!
Air mata mengalir dari mataku, bersatu dengan keruhnya laut ini. Begitu pula hatiku, keruh. Hingga aku hampir lupa ini adalah hari ke-15 kehamilanku.
Hari ke-16.
Pagi ini air keruh seperti biasa. Matahari pun tak semalu itu dalam menyinari laut ini. Namun, ada yang hilang, dia, pasanganku. Yang bisa kulakukan hanya berpegangan dengan rumput laut sembari menatap hamparan laut keruh ini.
Tidak ada senyum di pagi hari, tidak ada tarian, tidak ada kebahagiaan. Namun, aku merasakan sesuatu di perutku. Ah iya, anak-anakku. Aku masih bertanggung jawab terhadap mereka.
Mataku kembali menggenang. Aku ingin menjadi ayah yang luar biasa bagi mereka. Aku tidak bisa dilarut oleh kesedihan. Pada akhirnya aku tutup hari ini dengan senyum dan tangisan.
Astaga!
Ternyata lebih sakit dari yang kubayangkan. Sembari memegangi rumput laut aku mulai melahirkan anak-anakku.
Dengan menggunakan ototku aku keluarkan mereka dengan perlahan, namun efektif. Akhirnya, kalian lahir juga. Mataku penuh dengan air bahagia. Mereka menatapku dengan penuh kebingungan. Akan tetapi aku tahu, mereka mengakuiku sebagai ayah mereka.
Aku tersenyum kepada mereka. Aku berjanji pada mereka bahwa aku akan menjadi ayah yang baik dan akan melindungi mereka apapun yang terjadi.
Tak lama mereka tersenyum kembali padaku. Satu persatu mereka berjalan mengerumuniku dan memelukku dengan ekor mungil mereka.
Sungguh aku terharu. Satu yang kubayangkan. Pasanganku.
“Sayang, aku berhasil melahirkan mereka, anak kita. Aku berjanji akan mempertaruhkan semuanya demi mereka. Tenanglah di sana sayang. Maafkan aku. Aku mencintaimu.”
Referensi:
BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA LAUT LAMPUNG (2018). BUDIDAYA KUDA LAUT (Hippocampus spp.). Lampung: KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA LAUT LAMPUNG.
Dody, S., Manuputty, G.D. and Limmon, G.V. (2021). Habitat characteristcs and density of spotted seahorse Hippocampus kuda at waters of Ternate Island and surroundings, Maluku Utara, Indonesia. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 805(1), p.012006. doi:https://doi.org/10.1088/1755-1315/805/1/012006.
Lourie, S.A., Foster, S.J., Cooper, E.W.T. and Vincent, A.C.J. (2004). A Guide to the Identification of Seahorses. [online] Project Seahorse and TRAFFIC North America. Available at: https://projectseahorse.org/resource/a-guide-to-the-identification-of-seahorses/ [Accessed 12 Jun. 2026].
Lukyani, L. (2022). 12 Jenis Kuda Laut di Indonesia. [online] KOMPAS.com. Available at: https://www.kompas.com/sains/read/2022/10/10/130000123/12-jenis-kuda-laut-di-indonesia- [Accessed 12 Jun. 2026].
Mushtaq, R. (2025). Seahorses: The Ocean’s Power Couple - Project Seahorse. [online] Project Seahorse. Available at: https://projectseahorse.org/seahorses-the-oceans-power-couple/.
Parker, J., Dubin, A. and Roth, O. (2023). Genome rearrangements, male pregnancy and immunological tolerance – the curious case of the syngnathid immune system. Frontiers in Marine Science, 10. doi:https://doi.org/10.3389/fmars.2023.1099231.
Skalkos, Z.M.G., Van Dyke, J.U., Dowland, S.N. and Whittington, C.M. (2024). Paternal protein provisioning to embryos during male seahorse pregnancy. Reproduction, 167(4). doi:https://doi.org/10.1530/rep-23-0420.
Whittington, C.M., Griffith, O.W., Qi, W., Thompson, M.B. and Wilson, A.B. (2015). Seahorse Brood Pouch Transcriptome Reveals Common Genes Associated with Vertebrate Pregnancy. Molecular Biology and Evolution, 32(12), p.msv177. doi:https://doi.org/10.1093/molbev/msv177.
Whittington, C.M., Griffith, O.W., Qi, W., Thompson, M.B. and Wilson, A.B. (2015). Seahorse Brood Pouch Transcriptome Reveals Common Genes Associated with Vertebrate Pregnancy. Molecular Biology and Evolution, 32(12), p.msv177. doi:https://doi.org/10.1093/molbev/msv177.
















