Gardaanimalia.com – Balai Taman Nasional Tesso Nilo (BTNTN) mengumumkan penyebab kematian anak gajah Kalistha Lestari atau yang akrab disapa Tari. Dalam unggahan akun Instagram resmi @btn_tessonilo, Selasa (16/9/2025), disebutkan Tari positif terinfeksi Elephant Endotheliotropic Herpes Virus (EEHV).
“Berdasarkan hasil uji laboratorium yang telah dilakukan oleh tim berwenang, Tari dinyatakan positif terinfeksi EEHV. Pada kasus Tari, virus ini menyerang organ hati,” tulis akun @btn_tessonilo.
EEHV merupakan jenis virus herpes yang khusus menyerang gajah, terutama anak gajah. Penyakit ini dikenal mematikan karena perkembangannya sangat cepat dan sulit ditangani. Virus ini hanya menular antargajah dan tidak ada pengaruh dari pengunjung maupun interaksi manusia.
“Penting untuk dipahami bersama, virus ini hanya menular antar gajah dan tidak ada pengaruh dari pengunjung maupun interaksi manusia,” tegas BTNTN.
BTNTN Tesso Nilo menyampaikan bahwa Tim Elephants Flying Squad telah berupaya maksimal dan memberikan perawatan terbaik bagi gajah Tari.
Kepergian Tari menjadi pengingat pentingnya upaya bersama dalam menjaga dan melindungi satwa liar, khususnya gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang populasinya kian terancam.
"Mari terus bersama menjaga kelestarian hutan dan satwa di dalamnya," lanjutan dari pernyataan BTNTN.
Mengenal Virus EEHV
EEHV menjadi salah satu ancaman utama dalam lingkup konservasi gajah. Tidak sedikit laporan yang menjelaskan EEHV menjadi penyebab kematian gajah, khususnya anak gajah.
Melansir Unair News, EEHV memang mendominasi penyebab kematian anak-anak gajah. Bahkan tingkat mortalitas (kematian) pada anak gajah yang terinfeksi virus ini mencapai 80 persen.
EEHV menargetkan anak gajah karena usia mereka yang muda, di mana sistem kekebalan tubuh mereka belum sepenuhnya matang, membuat mereka lebih rentan terhadap virus ini dibandingkan gajah dewasa.
Virus ini dapat menyebabkan penyakit hemoragik yang agresif, menyerang pembuluh darah, menyebabkan pendarahan internal dan pembengkakan organ, yang pada akhirnya dapat berujung pada kematian anak gajah dengan cepat.
Hingga kini belum ada vaksin yang efektif untuk menyembuhkan virus ini, sehingga langkah medis yang dapat dilakukan mahout maupun dokter hewan adalah pemeriksaan rutin secara berkala.
Menurut pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM), drh. Raden Wisnu Nurcahyo, dari penyebarannya yang cepat, Wisnu menduga itu berasal dari gajah liar yang kemudian melakukan kontak dengan gajah di penangkaran atau terdapat media virus lain, seperti lalat.
“Jadi, sebetulnya itu kan edema (pembengkakan yang disebabkan oleh penumpukan cairan). Kejadiannya dia menyerang pembuluh darah, pembuluh darah mengalami pendarahan, lalu organ-organ dalam membengkak yang kemudian mungkin terakumulasi juga bisa, ada cairan di dalam perutnya sehingga membesar,” jelasnya.
Sebagai langkah preventif, Wisnu menjelaskan pentingnya pemeriksaan dini yang dapat membantu mendeteksi indikasi infeksi sehingga dokter hewan bisa segera memberikan vitamin, mineral, maupun obat-obatan pendukung.
Anak-Anak Mama Lisa
Kasus kematian anak gajah bukan hal yang baru di TNTN, Tari merupakan salah satu anak dari gajah betina bernama Lisa, penghuni TNTN. Tari memiliki beberapa saudara yang tidak dapat bertahan hidup karena sakit.
Sebelumnya, ada Ryu, anak gajah yang juga mati karena EEHV pada akhir Februari 2023.
Selain itu ada Rimbani, seekor gajah berjenis kelamin betina yang mati di usia 8 tahun 5 bulan. Rimbani merupakan hasil perkawinan antara gajah Lisa dengan gajah liar. Sehari sebelum ditemukan mati atau 11 November 2024, Rimbani masih dalam kondisi sehat dan tak menunjukkan gejala sakit.
Berdasarkan hasil laboratorium dari sampel organ dan feses yang diunggah @btn_tessonilo pada bulan Desember 2024 lalu, kematian gajah Rimbani diakibatkan oleh infeksi pencernaan.











