Berita

Cerita dari PPBI XII: Mengamati lalu Mengambil Langkah untuk Konservasi Indonesia

05/07/2025|Garda Animalia
Antusiasme peserta PPBI XII dalam pengamatan di kawasan TNGHS. | Foto: Sunarto, PPBI XII

Antusiasme peserta PPBI XII dalam pengamatan di kawasan TNGHS. | Foto: Sunarto, PPBI XII

Gardaanimalia.com - Enam truk TNI Angkatan Udara dan tiga mobil melaju beriringan selama sekitar enam jam melewati jalan yang didominasi batu, Kamis (26/6/2025) sore.

Sembilan kendaraan itu mengantar sekitar 130 peserta dan panitia Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) XII menuju Kampung Citalahab Sentral, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

Kampung ekowisata yang terletak di jantung Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) itu menjadi tuan rumah perhelatan fieldtrip pertemuan pengamat burung terbesar di Indonesia.

Mengambil tema besar “Merajut Pegiat Konservasi di Indonesia”, PPBI XII dilaksanakan selama empat hari dengan pembahasan tentang Citizen Science, Illegal Wildlife Trade, One Health, dan Community Based Conservation.

Penggerak PPBI XII Aris Hidayat mengatakan, PPBI XII yang digelar di Bogor merupakan PPBI terpanjang sejak acara tahunan ini dimulai pada 2007.

Ia mengungkapkan, rangkaian panjang mulai dari “Road to PPBI XII” yang terdiri dari diskusi, pengamatan burung di Kebun Raya Bogor serta siniar, sampai pada seminar dan fieldtrip digelar agar dapat menjangkau kalangan yang lebih luas.

“Kami ingin PPBI menjangkau banyak ruang, dengan latar belakang peserta yang berbeda, ya. Ada peneliti, PNS, pengamat, penjual gorengan, mantan pemburu, masyarakat sekitar hutan yang sedang mengembangkan ekowisata dan mahasiswa,” kata Aris, Rabu (2/7/2025).

PPBI kali ini semakin berwarna karena peserta datang dari rentang usia anak SD hingga di atas 70 tahun.

Salah satu peserta PPBI XII adalah Tara, perempuan berusia 13 tahun yang menyukai birdwatching dan menulis jurnal tentang hal-hal menarik yang ditemukannya di alam.

Tara mengaku, kegemarannya itu dipengaruhi oleh mamanya yang senang mengajaknya main ke alam sejak kecil.

Ia kemudian mengabadikan perjalanan birdwatching-nya, dari sekadar mengamati burung di Jakarta, hingga akhirnya ikut PPBI XI di Mendolo dalam sebuah buku berjudul “Terbang”.

Keputusannya untuk kembali mengikuti PPBI didorong oleh keinginan mengeksplorasi burung di luar Jakarta—tempat tinggalnya—serta bertemu teman baru dan memperoleh pengetahuan baru.

“Aku merasa bahwa pertemuan pengamat burung ini bisa menjadi bagian dari perjalananku untuk meraih mimpiku yang sudah ada dari kecil, yaitu menyelamatkan bumi dari kehancuran,” ujarnya.  

Uploaded content
Foto bersama peserta dan panitia PPBI XII di Kampung Citalahab Sentral. | Foto: Dok. PPBI XII

Menuju Mandiri Data dan Publikasi Ilmiah

Fieldtrip diisi oleh agenda pengamatan burung di TNGHS dan perkebunan teh sekitar Kampung Citalahab Sentral. Pengamatan dimulai sekitar pukul 06.00 WIB, diselingi diskusi, dan dilanjutkan dengan pengamatan herpetofauna sekitar pukul 22.00 WIB. 

Peserta perlu menempuh jarak lebih dari 4 kilometer untuk melewati jalur yang sudah ditentukan. Beberapa spesies burung pun berhasil terekam, di antaranya meninting besar (Enicurus leschenaulti), cekakak batu (Lacedo pulchella), cabai bunga api (Dicaeum trigonostigma), dan beragam spesies lainnya.

Tidak hanya burung, satwa dari taksa lain juga tampak di tengah pengamatan, seperti owa jawa (Hylobates moloch), lutung (Trachypithecus auratus), dan surili (Presbytis comata).

Pada Jumat (27/6/2025) siang setelah pengamatan, dilaksanakan diskusi terkait program SafeNest oleh Asman Adi Purwanto dari BISA Indonesia, serta program Unit Tapak Lestari oleh Sahdi Sutisna dari Burung Indonesia. 

Malam harinya, Swiss Winasis dari Birdpacker memperkenalkan AMATURALIST, sebuah portal untuk mengunggah dan memverifikasi setiap temuan multi-taksa dari para pengamat di lapangan.

Di sesi yang sama, Hariyawan A. Wahyudi turut menyampaikan tentang Journal of Indonesian Natural History (JINH). Pria yang akrab disapa Yudi ini mengutarakan keresahannya, sebab menurutnya, hanya sedikit data dari pengamat yang akhirnya menjadi karya ilmiah.

Melalui JINH, ia mendorong para pengamat untuk menulis dan mengabadikan temuannya dalam bentuk jurnal. 

“Kami berharap dua platform itu sama-sama mendorong kita dalam hal kemandirian data. Lalu, penulisan karya ilmiah dari anak bangsa, jadi kita punya wadah untuk temuan sederhana di lapangan bisa menjadi catatan ilmiah,” lanjut Aris Hidayat, menanggapi lahirnya dua platform tersebut.

Tidak selesai di situ, esok harinya peserta juga diajak untuk berdiskusi langsung dengan masyarakat pegiat ekowisata, yaitu Ade dari Kampung Citalahab Sentral dan Kelik Suparno dari Desa Jatimulyo. 

Malam terakhir di Citalahab diisi diskusi dengan Kepala Balai TNGHS Budhi Chandra tentang peluang burung sebagai obyek wisata minat khusus di TNGHS.

Uploaded content
Potret cabai bunga api. | Foto: Muhamad Azriel, peserta PPBI XII

Ragam Topik dalam Seminar

Sebelum fieldtrip, PPBI XII dibuka dengan seminar pada Kamis (26/6/2025) pagi di Aula Transformasi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) Institut Pertanian Bogor (IPB).

Dalam seminar tersebut, Prof. Dr. Ir. Ani Mardiastuti, M.Sc dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB hadir sebagai keynote speaker.

Prof Ani bercerita tentang perjalanan pengamatan burung di Indonesia dari tahun 90-an, saat akses informasi masih sangat terbatas, hingga saat ini mulai dikenal gerakan-gerakan citizen science.

Berbicara mengenai citizen science, pada sesi 1 seminar, dihadirkan Ganjar Cahyadi, seorang kurator Museum Zoologi ITB yang merupakan pemenang lomba AKAR–kompetisi mengumpulkan data perdagangan dan pemeliharaan satwa liar melalui aplikasi Amati Sangkar (AKAR).

Berlanjut pada sesi 2, drh. Dedi Candra dari Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Spesies dan Genetik (KKHSG) menjabarkan mengenai Regulasi Konservasi Spesies dan Genetik dalam Mendukung Perlindungan Satwa Liar di Indonesia.

Dalam sesi yang sama, Co-Chair IUCN IdSSG Prof. Dr. Ir. Mirza Dikari Kusrini, M.Si memaparkan Peran Citizen Science dalam IUCN National Red List Indonesia.

Dorongan untuk berkolaborasi antara sains warga, pemerintahan melalui KKHSG, serta IUCN Red List Indonesia menjadi poin inti yang didiskusikan. Tujuannya, agar data yang dikumpulkan para peneliti warga menjadi valid dan dapat berkontribusi terhadap konservasi di Indonesia.

Uploaded content
Sesi seminar di SKHB IPB tentang One Health dan perdagangan satwa liar. | Foto: Dok. PPBI XII

Di sesi terakhir seminar, hadir Hendry Pramono dari Wildlife Conservation Society - Indonesia Program (WCS-IP) dan drh. Wendi Prameswari dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Kehadiran mereka melengkapi sesi seminar dengan pembahasan seputar Perdagangan Satwa Liar dan Tantangan Program One Health di Pasar Burung di Indonesia.

Aris mengatakan, ciri khas PPBI adalah “gerakan akar rumput”-nya. Sebagaimana dahulu PPBI tercetus dari klub pengamat burung di kampus-kampus dan populernya lomba pengamat burung pada awal 2000-an.

Harapan Aris sederhana: pertemuan-pertemuan ini berjalan konsisten ke depan.

“Kami tidak mau terlalu muluk-muluk. Sebenarnya dari apa yang sudah dilakukan teman-teman, itu sudah luar biasa: menghasilkan data yang bisa diakses masyarakat dan pemerintah secara gratis merupakan bentuk nyata kontribusi peserta PPBI pada konservasi burung di Indonesia. Itu sudah luar biasa,” tuturnya.


Penulis: Bayu Nanda