Gardaanimalia.com - Lima ekor trenggiling ditemukan di luar habitatnya diduga berkaitan dengan perubahan iklim.
Hanya dalam dua minggu pada Oktober 2026, lima ekor trenggiling (Manis javanica) ditemukan warga dan dilaporkan kepada BBKSDA Jawa Timur. Kelimanya ditemukan dalam kondisi sehat dan dapat dilepasliarkan.
Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Muda BBKSDA Jawa Timur, Fajar Dwi Nur Aji, menyebutkan tiga perjumpaan dalam waktu berdekatan (pada 15-17 Oktober) memang menarik. Akan tetapi, menurutnya belum cukup untuk menyimpulkan peningkatan populasi, perubahan pola pergerakan, ataupun perubahan habitat trenggiling.
“Kemungkinan salah satunya penyebab ada juga dari perubahan iklim yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Kadang insting satwa liar lebih peka dari manusia, tetapi belum bisa menjadi kesimpulan,” ujar Fajar ketika dihubungi Garda Animalia, Selasa (20/10/2026).
Fajar mengapresiasi kesadaran warga yang melapor dan menyerahkan trenggiling kepada BKSDA. Menurutnya, informasi masif di media sosial dan pemberitaan media lingkungan saat ini memengaruhi kesadaran masyarakat tentang satwa dilindungi trenggiling, sekaligus membantu menyebarluaskan informasi pentingnya konservasi ke masyarakat.
Dalam merespons temuan satwa liar, Fajar menyampaikan bahwa Tim Matawali BBKSDA Jawa Timur menerapkan 3R, yaitu rescue, rehabilitation, dan release. Pada tahap pertama, BKSDA akan melakukan rapid assessment untuk menentukan langkah yang diambil berdasarkan kondisi satwa.
Jika satwa yang ditemukan masih liar, maka dapat langsung dilepasliarkan jika habitatnya berada di Jawa Timur.
“Lain cerita jika satwa yang kita selamatkan sebaran alaminya bukan di Jawa Timur, atau dalam kondisi kurang sehat. Maka, harus kita rehabilitasi sebelum langkah selanjutnya,” ucapnya.
Penjelasan tersebut menjawa pertanyaan, mengapa trenggiling yang ditemukan warga dapat segera dilepasliarkan.
“Berdasarkan pengalaman kami di lapangan, trenggiling terkonsentrasi di kawasan hutan, baik konservasi, lindung maupun produksi yang memiliki daya dukung yang sesuai,” pungkasnya.
Meskipun beberapa lokasi di Jawa Timur potensial sebagai habitat, Fajar mengaku pihaknya belum mengantongi estimasi populasi trenggiling.
Satwa Langka yang Kian Terancam
Mengutip laman Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), trenggiling tersebar di kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia, spesies trenggiling yang ditemukan adalah trenggiling sunda (Manis javanica).
Mamalia bersisik ini tersebar di beberapa wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, dan Jawa, serta sejumlah pulau kecil seperti Bangka, Belitung, dan Nias.
Habitat trenggiling sangat beragam, mulai dari hutan hujan tropis, sabana, padang rumput, hingga lahan pertanian di dataran rendah. Makanan utamanya adalah semut dan rayap, yang ditangkap menggunakan lidah panjang dan lengket—ciri khas trenggiling yang membantunya menjangkau mangsa di dalam sarang.
Perilaku makan trenggiling memungkinkan mereka untuk berada di sekitar pekarangan rumah, kebun, atau celah bangunan karena mengikuti keberadaan koloni semut atau rayap.
Trenggiling sunda saat ini dikategorikan sebagai spesies sangat kritis (critically endangered) dalam Daftar Merah Spesies Terancam IUCN.








![Harapan Memutus Siklus Api [Bagian 4]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/harapan-memutus-siklus-api-bagian-4.webp)






