Gardaanimalia.com – Peringatan Global Tiger Day 2025 dijadikan ajang untuk mengedukasi siswa tentang pentingnya menjaga harimau sumatera dan habitatnya oleh SMPN 2 Banda Aceh.
Kegiatan ini berlangsung Senin (21/7/2025), bekerja sama dengan sejumlah komunitas lingkungan dan kampus. Komunitas yang terlibat antara lain Forum Konservasi Leuser (FKL), Kami Sahabat Leuser (KSL), HAkA, PMI, Forum Harimau Kita (FHK), Tiger Aceh, Fakultas Aqidah dan Filsafat UIN Ar-Raniry, serta Kofakaha-USK.
Materi yang disampaikan meliputi jenis-jenis harimau di dunia, status konservasi harimau sumatera, serta peran generasi muda dalam menjaga lingkungan.
Siswa juga diajak memahami kaitan antara rusaknya hutan, perubahan iklim, dan punahnya satwa liar. Dalam kegiatan tersebut, siswa juga diajak bermain bagaimana menjaga hutan dan satwa dari para pemburu.
Ketua KSL, Feri Irawan, menyebutkan kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan jenis-jenis harimau di dunia, khususnya harimau sumatera sebagai satwa endemik Indonesia yang saat ini berstatus kritis.
Melalui penyuluhan dan diskusi interaktif, para siswa diajak untuk memahami pentingnya pelestarian satwa liar dan habitatnya.
"Generasi muda perlu dibekali pengetahuan tentang konservasi agar ke depan mereka dapat menjadi kader konservasi yang peduli terhadap lingkungan," kata Feri Irawan, Senin (21/7/2025).
Lanjutnya, siswa juga diedukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian alam demi keseimbangan iklim global. Harapannya, kegiatan seperti ini mampu menanamkan kepedulian sejak dini dan mendorong aksi nyata dalam pelestarian lingkungan.
“Global Tiger Day yang diperingati setiap 29 Juli menjadi momentum untuk mengingatkan kembali pentingnya perlindungan harimau sumatera yang populasinya terus menurun akibat perburuan liar dan kerusakan habitat,” ungkapnya.
Guru SMPN 2 Banda Aceh, Kurniawati, mengatakan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk membuka wawasan siswa tentang isu lingkungan yang ada di sekitar mereka.
“Dengan hadirnya komunitas seperti ini, siswa jadi lebih tahu tentang pentingnya menjaga hutan. Kita punya Kawasan Ekosistem Leuser yang kaya flora dan fauna, termasuk empat satwa kunci. Ini sangat bermanfaat bagi mereka,” kata Kurniawati.
Kurniawati melanjutkan, banyak siswa yang tinggal di Aceh, tetapi belum mengetahui kekayaan alam yang kita punya Ia berharap kegiatan seperti ini bisa berlanjut secara rutin.
“Kami berharap KSL dan komunitas lainnya bisa lebih aktif hadir dan mengedukasi siswa SMPN 2 Banda Aceh, setidaknya dua kali dalam setahun,” tambahnya.
Lewat kegiatan ini, siswa diharapkan mulai terlibat dalam aksi nyata menjaga alam sekitar. Pesannya sederhana tapi kuat: kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Hutan adalah warisan untuk anak cucu kita.
Penulis: Mardili














