Berita

Harimau Diduga Berkonflik Tertangkap di Lampung, Penanganan Dinilai Belum Menyentuh Akar Masalah

31/10/2025|Irvan Sjafari
Harimau yang berhasil masuk kandang jebak dibius lalu ditandu oleh tim gabungan. | Foto: RMOL Lampung

Harimau yang berhasil masuk kandang jebak dibius lalu ditandu oleh tim gabungan. | Foto: RMOL Lampung

Gardaanimalia.com - Menjebak dan memindahkan harimau bukan solusi sebenarnya, kata representatif forum HarimauKita. Karena yang menang justru perambah hutan.

Usai masuk kandang jebak milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu sejak Selasa (28/10/2025), seekor harimau harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) berhasil dievakuasi pada Rabu (29/10/2025).

Harimau itu tertangkap di kawasan kebun kopi milik warga setempat di Pemangku Kali Pasir, Pekon (Desa) Sukabumi Kecamatan Batu Brak, Kabupaten Lampung Barat.

Kebun kopi itu memang berbatasan langsung dengan hutan konservasi tempat habitat hewan tersebut berasal.

Diberitakan, kandang jebak tersebut telah dipasang sejak 20 September bersama dengan camera trap. 

Proses pemindahan berjalan dramatis. Satuan Tugas (Satgas) yang terdiri dari petugas Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), BKSDA, TNI, Polri, Satpol-PP dibantu oleh masyarakat setempat dan petugas desa saling bahu membahu menggotong harimau dengan panjang 150 sentimeter tersebut menggunakan tandu.

Sebelum dievakuasi, harimau tersebut sempat dibius terlebih dahulu oleh dokter hewan dan Polhut dari BKSDA.

Ketua Satgas Konflik antar manusia Harimau Letkol Inf Rizky Kurniawan yang juga Dandim 0422 Lampung Barat, mengatakan bahwa evakuasi tersebut berjalan lancar tanpa ada hambatan.

Pemasangan kandang jebak ini dilakukan karena sempat terjadi konflik antara manusia dan harimau yang menewaskan warga setempat bernama Misri (60) pada Juli lalu di desa yang sama.

Konflik dengan petani asal Jawa Tengah ini mengakibatkan Misri ditemukan dalam keadaan tubuh tak utuh. 

“Kita berharap untuk yang kita dapatkan ini adalah harimau yang kemarin pernah menyerang warga setempat,” ujar Letkol infantry Rifky seperti dikutip dari Rmol Lampung.

Empat Fisik dan Satu Domain Mental Harimau 

Menanggapi hal itu, representatif Forum HarimauKita Sugeng Dwi Hastono menyampaikan perlunya mencari tahu lokasi tempat harimau itu masuk kandang jebak, apakah dari dulu memang kebun, atau kah hutan sebagai rumah harimau. 

Menurut Sugeng, menjebak harimau dalam kandang jebakan bukanlah solusi sebenarnya, melainkan kita harus mencari tahu akar masalahnya. 

Ia menjelaskan bahwa konsep kesejahteraan satwa liar itu ada empat fisik dan satu domain mental.

Pertama, nutrisi. Dalam hal ini adalah ketersedian pakan atau mangsa yang sesuai.

Kedua, environment atau lingkungan yang membuatnya nyaman untuk bersembunyi dan berburu.

Ketiga, kebutuhan kesehatan akan terwujud jika tidak banyak manusia masuk hutan. Sebab manusia bisa membawa penyakit. Kebutuhan kesehatan ini juga terwujud jika pakannya sehat.

Keempat, behavior, perilaku mengendap-endap, berenang, memanjat secara alami harus terwujud.

“Domain mental harimau akan terganggu jika mendengar suara motor, suara alat berat, suara gergaji mesin. Jika salah satu atau lebih faktor fisik dan mental terganggu, maka harimau itu akan mencari tempat lain,” ujar alumni Fakultas Kedokteran Hewan UGM ini kepada Garda Animalia, Rabu (29/10/2025).  

Ketika tempat berekspresinya terganggu, mangsanya terbatas, hutan tidak nyaman lagi, maka harimau akan memangsa ternak.

Masalah Habitat yang Perlu Penyelesaian

Masalahnya, lanjut Sugeng,  jika solusinya terus menerus dengan menggunakan kandang jebak, akan muncul rasa nyaman bagi perambah hutan untuk terus masuk ke dalam hutan.

Bila melihat korban yang diterkam harimau, sebagian bukan masyarakat asli Lampung. Itu artinya makin banyak orang datang Lampung untuk merambah hutan. 

Sugeng juga bercerita, bahkan berapa waktu yang lalu ditemukan 121 sertifikat hak milik di kawasan TNBBS.

“Ancaman lain datang dari rencana pemanfaatan sumber panas geothermal di kawasan yang termasuk TNBBS yang saat ini sedang dikomunikasikan pemerintah dengan UNESCO,” papar praktisi dokter hewan dari Amanah Veterinary Services ini. 

Menurut situs Dunia Energi, pemerintah bertekad untuk memaksimalkan potensi panas bumi (geothermal) termasuk yang sumber dayanya berada di hutan warisan dunia yang sudah ditetapkan oleh UNESCO. 

Potensi panas bumi mencapai 5 gigawatt (GW) yang akan digarap  termasuk di dalam area Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS) yang berdasarkan regulasi tidak boleh dialihfungsikan.

Pemerintah Indonesia saat ini tengah mengajukan untuk mengubah batas dari THRS ke UNESCO, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat serta Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Jika disetujui, maka diharapkan bisa memuluskan langkah untuk bisa mengembangkan panas bumi di sana. 

Jangan Menyalahkan Harimau

Kembali ke konflik manusia-harimau, bagi Sugeng, ketika harimau selalu disalahkan, ujung-ujungnya dikandangkan dan dijebak, maka akan selalu ada kesempatan bagi perambah hutan menjadikannya lahan perkebunan.  

Lalu, pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab: dipindahkan ke mana setelah masuk ke kandang jebak? Berapa lama? Dikembalikan (dilepasliarkan) ke mana? Apakah ke dalam hutan sesuai habitatnya?

Sugeng melanjutkan, harus dilakukan kajian komprehensif mengenai akar masalah utama dari konflik, agar harimau tetap lestari hutannya, manusia hidup di kawasan yang sudah ditentukan. Hutan tetap menjadi hutan meskipun ada manfaat yang diambil darinya, entah dengan cara ekonomi kreatif, ekonomi wisata, dan lainnya. 

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengakui Forum Koordinasi Penanganan Konflik yang dibentuk sejak 2021 belum berjalan optimal. 

Pemerintah provinsi, kata dia, akan memverifikasi ulang Surat Keputusan Tim Koordinasi Penanganan Konflik Manusia-Satwa Liar, memperluas keanggotaan dengan melibatkan bupati atau wali kota, akademisi, dan media.

“Akadmisi harus terlibat melakukan riset berkala terkait populasi satwa dan kondisi habitatnya  yang akan menjadi sadar kebijakan penanganan,” ujar Jihan seperti dikutip dari Liputan6.

Sugeng berharap mudah-mudahan penanganan konflik ini menyentuh akar permasalahan. Jangan sampai malah memberikan angin segar kepada perambah hutan untuk lebih masuk jauh ke dalam. 

Lama kelamaan harimau akan habis dari hutan di Bukit Barisan kalau kebijakan ‘demi ekonomi dan energi’ dianggap lebih penting.