Gardaanimalia.com - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, makin meluas. Senior Manager Media dan Komunikasi YIARI Heribertus Suciadi dalam wawancara bersama Garda Animalia pada Rabu (9/9/2026), mengatakan bahwa sebaran titik api dilaporkan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan, bahkan cenderung bertambah di sejumlah wilayah.
Sementara itu, hujan yang diharapkan dapat membantu memadamkan api belum sepenuhnya turun.
Di pusat Kota Ketapang, hujan sama sekali belum terjadi. Namun, beberapa wilayah seperti Ketapang Hulu dan sekitar Tayap sempat diguyur hujan singkat sekitar 10 menit.
Dalam Sebulan, 15 Orangutan Diselamatkan
Salah satu dampak paling mengkhawatirkan dari meluasnya karhutla adalah ancaman terhadap populasi orangutan.
Heribertus mengungkap dalam kurun waktu sekitar satu bulan, sejak 6 Agustus hingga 8 September 2026, YIARI telah mengevakuasi 15 individu orangutan.
Dari 15 orangutan itu, satu individu bernama Sampurna dilaporkan mati karena asap karhutla. Enam individu telah dilepasliarkan, satu individu ke area konsesi PT MPK dan beberapa lainnya ke Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).
“[Sementara], delapan individu lain kami bawa ke pusat rehabilitasi terlebih dahulu. Selain karena kondisi kesehatan, alasan utamanya adalah belum ada lokasi yang cukup aman untuk melepasliarkan mereka selama kebakaran masih berlangsung,” jelasnya.
Angka penyelamatan diperkirakan akan terus bertambah, melihat tim Orangutan Protection Unit (OPU) YIARI masih memantau orangutan lain yang terjebak di kebun-kebun milik warga akibat habitat mereka hangus terbakar.
“Kalau karhutla terus terjadi, otomatis aksi rescue ini bakal terus berjalan dan satwa yang terdampak akan semakin banyak. Bukan cuma orangutan, tetapi ada trenggiling, kukang, serta hewan-hewan kecil seperti ular dan rusa juga turut terdampak,” tambah Heribertus.
Habitat Terputus dan Orangutan Terjebak di Kebun Warga
Heribertus menjelaskan, kemunculan orangutan di permukiman dan kebun warga bukan semata-mata karena mereka mencari makan akibat kekeringan. Sejumlah individu memang sejak tahun lalu sudah terpantau berada di kawasan perbatasan antara ladang dan hutan.
“Selama ini kondisi sebenarnya aman-aman saja karena mereka masih bisa kembali ke dalam hutan. Namun, akibat karhutla, koridor pergerakan mereka putus sehingga mereka tidak bisa pulang ke hutan,” terangnya.
Kondisi ini sangat berisiko bagi orangutan. Selain terkena paparan asap dan api, keberadaan mereka di tengah kebun warga juga dikhawatirkan memicu konflik dengan manusia.
Ancaman Kesehatan Akibat Asap Karhutla
Paparan asap memberikan dampak fatal bagi kesehatan, terutama organ pernapasan. Dampak ini juga dirasakan orangutan.
“Untuk individu yang mati, ditemukan adanya lesi dan kerusakan pada paru-paru. Terindikasi ia sudah menderita ISPA dalam beberapa waktu. Kondisinya kian memburuk hingga tidak tertolong lagi. Gejalanya mengalami sesak nafas sampai muntah, dan tampaknya sempat mencari air karena mulutnya penuh lumpur,” terangnya.
Evakuasi terbaru orangutan bernama Mama Man dan Man pun menunjukkan bahwa keduanya dalam kondisi kesehatan yang buruk.
“Kami masih perlu memeriksa apakah itu karena dehidrasi, kurang nutrisi, atau faktor lain. Bahkan, ada satu anak orangutan yang batuk-batuk, diduga kuat akibat infeksi ISPA dari paparan asap,” ungkap Heribertus.
Ia melanjutkan, penemuan induk dan anak bernama Mama Man dan Man ini sebenarnya bukan yang paling akhir.
“Setelah mereka, kami masih mengevakuasi empat individu orangutan lagi. Lalu menyusul dua anak orangutan lainnya.”
Kebutuhan Dokter Hewan Meningkat
Melonjaknya jumlah orangutan yang membutuhkan penanganan turut meningkatkan kebutuhan tenaga medis, khususnya dokter hewan yang berpengalaman menangani satwa liar.
Heribertus menegaskan, penanganan orangutan liar hasil evakuasi jauh lebih kompleks dibandingkan satwa yang sudah lama berada dalam program rehabilitasi. Hal tersebut karena orangutan liar lebih mudah stres dan memerlukan pendekatan khusus.
“Kami butuh SDM tambahan untuk membantu menangani situasi ini, terlebih jumlah satwa yang terdampak diperkirakan akan terus bertambah selama kebakaran masih terjadi,” ujarnya.
Karhutla juga memaksa YIARI hanya mengaktifkan dua dari tujuh pulau rehabilitasi (island enclosure)–kawasan rehabilitasi berupa pulau buatan yang dipisah oleh kanal.
“[Orangutan di pulau rehabilitasi lain] mau tidak mau harus diamankan di dalam kandang karantina. Artinya, makin banyak satwa yang butuh perhatian dan perawatan khusus,” jelanya.
Menutup wawancara, Heribertus menyampaikan harapannya agar hujan segera turun untuk membantu memadamkan karhutla yang masih berlangsung.
Ia juga berharap, setelah kebakaran mereda, perhatian publik tidak berhenti begitu saja, melainkan berlanjut pada upaya pemulihan habitat yang rusak.
"Harus lebih waspada lagi untuk persiapan di kejadian-kejadian serupa di tahun mendatang," katanya, mengingatkan pentingnya kesiapan menghadapi potensi karhutla di masa depan.

















