Hindari Konflik, BKSDA Petakan Pergerakan Gajah Liar

Azenobia
3 min read
2023-02-13 11:22:59
Iklan
Belum ada deskripsim Lorem ipsum dolor sit amet, corrupti tempore omnis esse rem.



Gardaanimalia.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh terus melakukan penelusuran terhadap tujuh kelompok gajah liar di wilayah hutan Aceh untuk dipasangi GPS Collar.

Dilansir dari Antara News, pemasangan kalung GPS Collar ini ditujukan untuk memantau pergerakan gajah sehingga angka konflik satwa liar dengan masyarakat dapat ditekan.

"Sekarang di Aceh ada sekitar tujuh kelompok gajah liar. Setiap kelompok ada satu ekor yang dipasangi GPS Collar untuk memantau pergerakannya," kata Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto, Kamis (9/2/2023).

Agus menyebut, kawanan gajah di Tanah Rencong terus bertambah. Sementara, daerah jelajah satwa pemilik nama latin Elephas maximus sumatrensis itu terdegradasi. Hal ini diakibatkan oleh perambahan hutan yang dilakukan manusia.

Pihaknya terus berupaya menelusuri pecahan kelompok baru dari kelompok-kelompok gajah yang sudah ada supaya salah satu anggota kelompok dapat dipasangi GPS Collar.

"Kami sedang telusuri dan nanti kami pasang secara keseluruhan GPS Collar sehingga kami tahu peta pergerakan gajah secara lengkap," ujarnya.

Data dari GPS Collar kemudian akan dianalisis setiap wilayah jelajah gajahnya, termasuk saat masuk ke perkampungan.

"Dari tujuh kelompok yang sudah ada ini, kami buat peta pergerakannya. Nanti kami analisis apa sebetulnya yang ada dalam kawasan hutan yang berkonflik itu," tuturnya

Kajian tersebut, kata Agus, juga untuk di luar kawasan hutan. "Ada apa? Dulunya daerah itu apa? Karena gajah cenderung lokasi pergerakannya tetap. Itu yang kami gali bersama para pihak sehingga penanganan lebih efektif dan terarah," ucapnya.

Daerah yang Kerap Terjadi Konflik Gajah Liar dan Manusia


Agus juga menjelaskan, terdapat beberapa daerah yang sering kali menjadi lokasi konflik gajah sumatra dengan manusia.

Daerah tersebut adalah Kabupaten Pidie, Aceh Timur, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Selatan. Dari delapan daerah itu, Kabupaten Pidie terdeteksi memiliki kelompok kawanan gajah paling besar.

Upaya penanganan konflik dilakukan BKSDA bersama para pihak, yaitu Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Badan Pertanahan Nasional, Dinas Pertanian dan Perkebunan, Dinas Peternakan, serta instansi lainnya.

Sebelumnya, konflik antara mamalia besar dan petani terjadi di Desa Kekuyang, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah pada Senin (6/2/2023).

Setelah tim gabungan BKSDA Aceh, Koramil ketol, Babinkamtibnas Polsek Ketol, Konsorsium CRU Aceh, dan FKGI meninjau lokasi, terungkap bahwa lokasi konflik merupakan kawasan hutan lindung.

BKSDA kemudian memberikan paparan terkait analisa spasial interaksi negatif antara manusia dan gajah dalam peristiwa itu. Peta tersebut diunggah di akun Instagram Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) pada Jumat (10/2/2022).

Pelu diketahui, satwa endemik Pulau Sumatra yang memiliki gading ini berstatus konservasi terancam (endangered) pada situs The International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Tags :
satwa liar gajah gajah sumatera BKSDA Aceh hewan dilindungi satwa endemik Sumatra
Writer: Azenobia