Gardaanimalia.com - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat mengonfirmasi kematian dua ekor anak harimau benggala (Panthera tigris tigris) koleksi eks Kebun Binatang Bandung akibat infeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV), yakni penyakit virus yang sangat menular dengan tingkat kematian tinggi pada satwa famili Felidae, khususnya di usia muda.
Kedua anakan tersebut bernama Huru dan Hara, masing-masing berusia delapan bulan. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan nekropsi, keduanya dinyatakan mati. Hara dan Huru lahir pada 12 Juli 2025 dari pasangan indukan jantan Sahrulkan dan betina Jelita.
Plt. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Ammy Nurwaty, menjelaskan bahwa kejadian bermula pada 22 Maret 2026 ketika tim medis eks Kebun Binatang Bandung melaporkan kepada petugas piket BBKSDA Jawa Barat bahwa Hara menunjukkan gejala penurunan aktivitas, muntah, dan diare. Dari hasil pemeriksaan ditemukan parasit cacing pada muntahan, sehingga satwa diberikan obat antiparasit, penurun asam lambung, dan vitamin.
"Sebagai langkah antisipasi, harimau Huru yang berada dalam satu kandang juga diberikan vitamin dan obat cacing. Kedua satwa kemudian dipisahkan kandangnya untuk mencegah penularan," jelas Ammy dalam keterangan tertulis yang diterima Garda Animalia, Sabtu (28/3/2026).
BBKSDA Jabar turut menghubungi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung serta tim medis veteriner UPTD Rumah Sakit Hewan Provinsi Jawa Barat untuk penanganan bersama.
"Sejak laporan awal kami terima, kami langsung berkoordinasi dan melakukan penanganan terpadu bersama tim medis dan instansi terkait. Berbagai upaya pengobatan dan pencegahan penularan telah dilakukan secara maksimal, termasuk pemisahan kandang dan pemberian terapi intensif," kata Ammy.
Kronologi Kematian Huru & Hara
Sayangnya, pada Senin (23/3/2026), kondisi Hara menurun dengan gejala klinis diare disertai darah. Tim medis melakukan pemeriksaan menggunakan rapid test FPV dari sampel feses dan hasilnya positif. Penanganan intensif berupa terapi simtomatik dan suportif segera diberikan, namun Hara tidak tertolong dan mati keesokan harinya pada Selasa (24/3/2026) pukul 09.14. Dari hasil nekropsi ditemukan kerusakan vili usus yang merupakan ciri khas infeksi FPV, serta infeksi cacing pada usus.
Menyusul kepergian Hara, pada Kamis (26/3/2026) pukul 07.30, Huru menyusul mati setelah sempat mengalami perbaikan kondisi. Hasil pemeriksaan menemukan kerusakan vili usus dan luka pada lambung yang menyebabkan perdarahan, serta hasil test kit mengonfirmasi infeksi FPV. Penanganan medis kedua anakan harimau benggala ini melibatkan kolaborasi tim medis eks kebun binatang, dokter hewan BBKSDA Jabar, dokter hewan UPTD Rumah Sakit Hewan Provinsi Jawa Barat, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung, serta dokter hewan Khal's Pet Bandung.
Ke depan, BBKSDA Jabar dan pengelola eks Kebun Binatang Bandung akan meningkatkan langkah biosekuriti melalui disinfeksi, pengawasan lalu lintas orang, serta pemantauan kesehatan satwa karnivora, terutama dari famili kucing.
Tentang Feline Panleukopenia Virus
FPV merupakan penyakit sangat menular pada satwa famili Felidae, baik domestik maupun liar, termasuk harimau. Virus ini menyerang sel-sel yang aktif membelah, terutama pada saluran pencernaan, sehingga menyebabkan kerusakan masif pada mukosa usus. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, lingkungan yang terkontaminasi, maupun benda perantara (fomite).
Pada satwa muda yang sistem kekebalannya belum berkembang sempurna, penyakit ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi. Kejadian di Bandung Zoo bukan yang pertama. FPV pernah menyerang harimau siberia yang terancam punah di kebun binatang Korea Selatan.
Seekor harimau siberia betina berusia satu tahun bernama Parang mati di Seoul Grand Park, Gwacheon, setelah tertular FPV pada Mei 2023, salah satu dari tiga harimau yang lahir di kebun binatang tersebut pada 2022.
Insiden ini mendorong penyelidikan terhadap manajemen satwa di kebun binatang itu. Analisis genetik dan filogenetik mengungkapkan, infeksi tersebut disebabkan oleh penularan antarspesies FPV yang berasal dari kucing domestik yang umum di Korea. Harimau yang telah divaksinasi diduga terinfeksi akibat kekebalan protektif yang tidak memadai atau kegagalan vaksin yang dipicu oleh interferensi antibodi yang berasal dari induk.