Berita

Jasad Orangutan di Material Banjir, Dampak Nyata Bencana terhadap Spesies Terlangka

17/12/2025|Atika Byputri
Orangutan tapanuli, spesies orangutan terlangka dengan perkiraan populasi kurang dari 800 individu. | Foto: Arifin Al Alamudi

Orangutan tapanuli, spesies orangutan terlangka dengan perkiraan populasi kurang dari 800 individu. | Foto: Arifin Al Alamudi

Gardaanimalia.com - Penemuan jasad orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang tertimbun lumpur dan kayu di Pulo Pakkat, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara menimbulkan kekhawatiran para ahli konservasi.

Jasad itu pertama kali ditemukan oleh Decky Chandra, seorang relawan dari Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) pada 3 Desember 2025. Saat itu, ia terlibat dalam proses evakuasi korban banjir dan longsor di kawasan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Dalam keterangan Decky, dilansir dari BBC News Indonesia, ia menerima laporan dari warga yang mencurigai adanya sosok jasad di antara tumpukan kayu dan lumpur.

Ia mengaku sempat tidak bisa memastikan temuan tersebut saat pertama kali melihat karena kondisinya sudah rusak. Ia menduga, bangkai rusak karena tertimbun lumpur dan kayu gelondongan.

“Ternyata bangkai orangutan, masih ada bulunya,” ungkap Decky.

Dilansir dari Tribun News, orangutan diperkirakan berusia remaja dan berjenis kelamin betina.

Pendiri Orangutan Information Center (OIC), Panut Hadisiswoyo, membenarkan temuan tersebut. Ia menjelaskan, jasad orangutan terluka akibat terseret air bah dan longsor. Pembusukan aktif terjadi dalam waktu lima hingga 10 hari.

“Area kantong habitat orangutan yang paling terdampak, yakni di blok barat, ada sekitar 500 individu orangutan yang hidup di sana. Kini kondisinya belum bisa kami pastikan,” ungkap Panut saat diwawancarai Garda Animalia, Selasa (16/12/2025). Sementara, jumlah populasi di blok timur sekitar 200 individu dan blok selatan 50-70 individu.

Panut mengatakan bahwa penemuan satu individu bangkai dapat menjadi bukti dampak yang menimpa orangutan tapanuli serta habitatnya.

“Saat ini jasad orangutan tersebut telah dikuburkan oleh pihak BKSDA. Belum ada informasi apakah akan dilakukan observasi lebih lanjut,” jelas Panut.

Ia mengatakan, sangat mungkin beberapa individu dari spesies yang terancam punah ini tidak dapat melarikan diri dari derasnya air dan tanah longsor yang menyapu habitat mereka.

Analisis Dampak oleh Peneliti

Direktur Pelaksana Borneo Futures yang berbasis di Brunei, Profesor Erik Meijaard, sedang meneliti dampak banjir terhadap orangutan dengan memanfaatkan analisis citra satelit.

Ia menjelaskan, sekitar 4.800 hektare kawasan hutan di lereng pegunungan tampak rusak akibat longsor. Namun, karena sebagian citra tertutup awan, ia memperkirakan luas kawasan terdampak sebenarnya sekitar 7.200 hektare.

Menurut Erik, wilayah yang terdampak tersebut diperkirakan menjadi habitat bagi sekitar 35 individu orangutan.

Ia menambahkan, area-area yang kini tampak sebagai hamparan tanah kosong pada citra satelit sejatinya masih berupa hutan primer dua minggu sebelumnya.

“Banyak petak seluas beberapa hektare yang benar-benar gundul. Pasti mengerikan di hutan saat itu," sambung Erik kepada BBC.

Bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah merenggut lebih dari 1.000 nyawa manusia. Lebih-lebih, jasad orangutan dan bangkai gajah yang yang ditemukan tertimbun lumpur dan kayu menyadarkan kita bahwa satwa pun kena imbas.

Kerusakan juga dilaporkan melanda Stasiun Penelitian Orangutan Ketambe, yang merupakan pusat penelitian orangutan tertua di dunia.

Stasiun riset yang terletak di Resort Lawe Gurah, Aceh Tenggara itu kini terpaksa ditutup sementara hingga proses pascabencana usai.

Spesies Orangutan Terlangka

Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) merupakan spesies orangutan yang berbeda dengan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) dan sumatra (Pongo abelii).

Spesies ini secara resmi dipisahkan dari spesies orangutan sumatera pada 2017. Perbedaan antara keduanya dapat terlihat dari kepala orangutan tapanuli yang lebih kecil dan bobot tubuh yang lebih ringan.

Selain itu, orangutan tapanuli memiliki kumis dan jenggot yang menonjol, serta long call atau panggilan individu jantan yang lebih panjang.

Berdasarkan Strategi dan Rencana Aksi Orangutan Indonesia 2019-2029, populasi orangutan tapanuli diperkirakan 577-760 individu. Tim peneliti lain membaginya ke dalam tiga kelompok, yaitu blok barat, blok timur, dan Cagar Alam Sibual-Buali dalam habitat seluas 1.051,32 kilometer persegi.