Berita

Jejak Harimau Sumatera Ditemukan di Kebun Warga Aceh Timur, Warga Minta Pendampingan

29/01/2026|Mardili
Jejak satwa liar diduga harimau sumatera Foto dok warga - Jejak Harimau Sumatera Ditemukan di Kebun Warga Aceh Timur Warg...

Jejak satwa liar diduga harimau sumatera. | Foto: dok. warga

Gardaanimalia.com - Dugaan keberadaan harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) kembali terdeteksi di lanskap kebun warga.

Jejak yang diduga kuat milik satwa dilindungi itu ditemukan di kebun Dusun Bina Baru, Desa Blang Seunoeng, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, memunculkan kewaspadaan di kalangan masyarakat setempat.

Jejak ditemukan pada Selasa (27/1/2026) tidak jauh dari rumah kebun milik M. Yahya Giawa, seorang warga yang sehari-hari menetap dan mengelola kebun di kawasan itu. Yahya mengaku tinggal seorang diri di rumah kebun dan merasa cemas dengan aktivitas harian yang harus dilakukan sejak pagi hingga sore hari.

“Rasa takut pasti ada, apalagi malam dan pagi hari. Saya sendirian di sini,” kata Yahya, Rabu (28/1/2026).

Berdasarkan penuturan warga, jarak antara lokasi jejak dengan rumah kebun sekitar 100 meter, sedangkan permukiman penduduk terdekat berjarak kurang lebih 2 kilometer.

Kondisi ini menunjukkan kebun dan hutan di sekitar wilayah tersebut masih menjadi koridor pergerakan satwa liar, termasuk harimau sumatera.

Potensi konflik manusia dan satwa liar perlu diantisipasi secara serius. Tanpa penanganan yang tepat, situasi ini berisiko membahayakan warga sekaligus mengancam keselamatan harimau yang statusnya kritis dan dilindungi undang-undang.

Yahya berharap Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, pemerintah daerah, serta aparat terkait segera melakukan pengecekan lapangan untuk memastikan kebenaran temuan dan menyusun langkah mitigasi.

“Kami butuh pendampingan supaya tetap aman bekerja, tetapi juga tidak merugikan satwa,” ungkap Yahya.

Ia mendorong upaya pencegahan dini seperti patroli bersama, pemasangan rambu peringatan, serta edukasi kepada warga tentang cara bersikap jika berpapasan dengan satwa liar. Pendekatan berbasis koeksistensi dinilai penting agar manusia dan harimau dapat berbagi ruang tanpa saling melukai.