Berita

Jejak Pemburu di Balik Sensus Burung Air di Purworejo

24/02/2026|Yaumud Raiyardhi
Salah seorang diduga pemburu sedang berada di jembatan dengan senapan anginnya untuk memantau satwa buruan Foto Hammam -...

Salah seorang diduga pemburu sedang berada di jembatan dengan senapan anginnya untuk memantau satwa buruan. | Foto: Hammam

Gardaanimalia.com - Desa merupakan ruang di mana alam dan manusia saling terikat satu sama lain.

Bentang alam yang masih alami, pepohonan tumbuh subur, lahan yang luas, hingga aliran air yang menjadi tumpuan hidup masyarakat tergambar jelas di benak kita ketika berbicara tentang desa.

Namun, sinergi antara alam dan manusia bisa lenyap ketika oknum-oknum pemburu beraksi di Desa Pagak dan Desa Ngentak, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah.

Aktivitas perburuan di dua desa itu teramati pada Senin (2/2/2026) pagi, sekitar pukul 07.20 sampai 08.25 WIB.

Pengamat sekaligus relawan sensus burung air, Hammam As-shidqi, mendapati dugaan perburuan ketika ia sedang melakukan pengamatan.

Saat itu, dijumpai sekitar sembilan orang berkeliling sekitar desa dengan membawa senapan angin.

Dirinya juga menduga, masih banyak pemburu lain yang tidak terlihat atau belum datang dalam rentang waktu pengamatan.

“Pemburu berasal dari warga lokal dan beberapa berasal dari Yogyakarta juga karena mengendarai motor dengan plat AB,” ujar Hammam, Jumat (6/2/2026). 

Berdasarkan observasinya, aktivitas perburuan umumnya dijumpai di sepanjang aliran sungai dan di atas jembatan. Beberapa di antaranya bahkan bersembunyi di atas pohon sambil memegang senapan.

Terdapat empat titik pengamatan burung yang menjadi lokasi perburuan, dengan jumlah terbanyak sekitar empat pemburu di satu titik lokasi.

Hammam tak dapat memastikan target buruan secara jelas, bisa jadi burung, ikan, atau biawak. Akan tetapi, ia memperkirakan target burung yang diburu adalah kuntul kerbau (Bubulcus ibis) dan blekok sawah (Ardeola speciosa) karena populasinya paling melimpah di lokasi pengamatan.

Motif pemburu juga belum diketahui, apakah sekadar hobi, kebutuhan pangan, atau soal ekonomi.

Uploaded content
Dua pemburu berkeliling desa sambil membawa senapan angin. | Foto: Hammam

Menanggapi temuan ini, Senior Biodiversity Policy Officer Burung Indonesia Jihad S. Udin mengatakan bahwa burung air merupakan salah satu kelompok satwa yang kerap menjadi sasaran perburuan. Spesies kareo padi (Amaurornis phoenicurus) adalah satu contoh spesies yang paling umum diburu. 

“Biasanya diburu untuk kebutuhan konsumsi. Di beberapa tempat di Sumatera dan Jawa bahkan ada yang mengkhususkan diri untuk menjadi pemburu burung air,” terangnya kepada Garda Animalia, Selasa (24/2/2026).

Jihad menjelaskan, terdapat beberapa daerah yang memiliki kuliner lokal berbahan baku burung air, misalnya Indramayu, Subang, dan Gresik.

Selain perburuan, ancaman lain yang mengintai kehidupan burung air adalah alih fungsi lahan basah hingga pencemaran.

Pentingnya Data Jangka Panjang untuk Konservasi Burung Air

Dengan berbagai ancaman nyata tersebut, pengumpulan data jangka panjang menjadi penting dilakukan untuk mengamati kesehatan habitat hingga dinamika populasi burung air.

Inilah yang dilakukan Hammam sebagai pengamat dan sukarelawan dalam Asian Waterbird Census (AWC), sebuah kegiatan sensus burung tahunan yang dilakukan serentak pada Januari sampai Februari.

AWC telah berlangsung selama 40 tahun dan berhasil mengumpulkan data burung air di lebih dari 6.700 lokasi di 27 negara. 

Data yang terkumpul dapat dimanfaatkan sebagai landasan pengambilan kebijakan, misalnya menentukan lokasi penting bagi burung air.

Selain mengumpulkan data, kegiatan ini juga telah menjadi ajang reuni bagi pengamat burung untuk bertukar informasi tentang perjumpaan burung air.

Lebih dari itu, AWC di Indonesia telah menjadi bagian dari gerakan atau kampanye terkait pentingnya pelestarian burung air dan lahan basah.

Kerja sama antarpihak, baik lembaga maupun individu, diperlukan agar dampak edukasi kepada masyarakat semakin kuat.