Gardaanimalia.com - Pada medio 1904, Dr. W. L. Abbott melakukan penjelajahan zoologi di gugusan Kepulauan Bangka, Belitung, dan Mendanau.
Antara 20 Januari hingga 14 Agustus 1904, ia berhasil mengumpulkan tak kurang dari 274 spesimen mamalia. Temuannya kemudian diteliti secara komprehensif oleh pakar mamalia dari United States National Museum, Marcus Ward Lyon, Jr.
Dua tahun kemudian, di tahun 1906, Lyon mempublikasikan laporan ilmiah dari spesimen mamalia yang dikumpulkan Abbott. Tak hanya sekadar dokumentasi spesimen museum, laporan ilmiah itu menjadi pilar penting yang menyingkap tabir sejarah evolusi, biogeografi, dan spesiasi insular di kawasan Paparan Sunda (Sundaland).
Paradoks Biogeografis Sundaland
Salah satu temuan paling menakjubkan dari hasil analisis Marcus Ward Lyon, Jr. adalah ditemukan fakta kedekatan zoologis yang tidak linier dengan letak geografis.
Pulau Bangka dan Belitung berada sangat dekat dengan pulau Sumatera, hanya dipisahkan oleh Selat Bangka yang relatif sempit. Secara intuitif, komposisi taksa mamalia di gugusan pulau ini diperkirakan akan menunjukkan kemiripan yang sangat dominan dengan fauna daratan Sumatera.
Temuan-temuan Lyon kemudian menjadi salah satu dasar yang membantu menjelaskan pola biogeografi Paparan Sunda, yakni fauna mamalia di Bangka, Belitung, dan Mendanau justru memperlihatkan hubungan kekerabatan filogenetik yang lebih erat dengan fauna di Pulau Borneo dibandingkan dengan Sumatera.
Penjelasan atas paradoks ini berakar pada dinamika geologi dan iklim purba kala Pleistosen. Ketika zaman es mencapai puncak, permukaan air laut global menyusut drastis hingga lebih dari seratus meter di bawah garis pantai saat ini. Penyusutan ini menyatukan daratan Asia Tenggara, Sumatra, Jawa, dan Borneo ke dalam satu landas kontinen raksasa yang dikenal sebagai Paparan Sunda.
Pada masa tersebut, alur-alur sungai purba raksasa mengukir dataran Sunda. Sistem Sungai Sunda Utara (North Sunda River System) bertindak sebagai penghalang biologis (biogeographical barrier) antara Sumatera bagian timur dan pulau di tengahnya.
Sebaliknya, dataran rendah terhubung langsung melalui koridor darat menuju Borneo barat. Jalur drainase purba ini memungkinkan nenek moyang mamalia dari Kalimantan berpindah ke area Bangka-Belitung.
Ketika gletser mencair dan air laut kembali menggenangi dataran rendah Sundaland, populasi-populasi mamalia ini terisolasi di pulau-pulau bentukan baru, mengawali proses pergeseran genetik dan speasiasi insular yang unik.
Radiasi Adaptif dan Endemisitas Kepulauan
Isolasi genetik di lingkungan insular kecil mendorong terjadinya radiasi adaptif dan pembentukan karakter morfologis yang khas. Radiasi adaptif adalah evolusi suatu kelompok hewan atau tumbuhan menjadi beragam jenis yang beradaptasi dengan cara hidup yang khusus.
Sejumlah mamalia darat menunjukkan karakter morfologi yang kemudian dideskripsikan oleh Lyon sebagai spesies atau subspesies tersendiri.
Kekerabatan antara satwa Kalimantan dan di Bangka Belitung terlihat dari spesies kukang. Kukang bangka yang kini kita kenal memiliki nama ilmiah Nycticebus bancanus, baru dipisahkan dari Nycticebus menagensis atau kukang kalamasan kalimantan sebagai spesies tersendiri pada 2013, seperti yang dideskripsikan oleh Lyon.
Sementara, salah satu contoh divergensitas yang membedakan antara satwa Bangka Belitung dan satwa Sumatera sangat kentara pada kelompok ungulata kancil atau pelanduk (Tragulus). Lyon mendeskripsikan pelanduk bangka (Tragulus bancanus) dan pelanduk belitung (Tragulus billitonus) sebagai taksa yang berkerabat dengan Tragulus napu dari Sumatera, tetapi memiliki perbedaan morfologi, terutama pada warna bulu.
Dalam perkembangan taksonomi modern, kedua nama tersebut tidak lagi dipertahankan sebagai spesies tersendiri, melainkan menjadi subspesies dari Tragulus napu.
Fenomena kerdil kepulauan (insular dwarfism) juga tampak jelas pada kelompok kijang melalui Muntiacus bancanus di Bangka, yang memiliki ukuran tubuh jauh lebih kecil dibandingkan Muntiacus moschatus dari daratan Sumatera.
Kini, lanskap ekologis Pulau Bangka, Belitung, dan Mendanau telah mengalami perubahan drastis. Spesies-spesies endemik dan subspesies khusus kini terdesak ke kantong-kantong hutan tersisa yang kian terisolasi.
Jejak yang Belum Tuntas Dibaca
Lebih dari satu abad setelah Marcus Ward Lyon, Jr. mempublikasikan hasil analisis spesimen yang dikumpulkan Dr. W. L. Abbott, masih banyak pertanyaan ilmiah yang belum terjawab.
Seiring berkembangnya ilmu taksonomi, sebagian nama spesies yang dideskripsikan Lyon telah direvisi, sedangkan sebagian lainnya masih menunggu kajian lebih lanjut.
Pada awal abad ke-20, klasifikasi satwa hampir seluruhnya didasarkan pada karakter morfologi, seperti ukuran tubuh, bentuk tengkorak, hingga warna bulu. Kini, perkembangan analisis DNA memungkinkan para ilmuwan menelusuri hubungan kekerabatan secara lebih akurat. Tidak sedikit nama spesies yang dahulu dianggap berbeda, kemudian diketahui hanya merupakan variasi populasi atau akhirnya diklasifikasikan sebagai subspesies.
Belum semua temuan Lyon telah ditinjau ulang. Sejumlah taksa mamalia dari Bangka, Belitung, dan Mendanau belum pernah menjadi objek penelitian filogenetik secara komprehensif. Artinya, status taksonomi beberapa mamalia di “Kepulauan Timah” masih menyisakan ruang untuk diteliti kembali.
Ironisnya, ketika ilmu pengetahuan belum sepenuhnya menyelesaikan pertanyaan tersebut, bentang alam tempat satwa-satwa itu berevolusi justru berubah sangat cepat. Hutan-hutan yang dahulu menjadi lokasi ekspedisi Abbott kini terus menyusut akibat pertambangan timah, ekspansi perkebunan, dan fragmentasi habitat.
Populasi satwa yang mungkin menyimpan garis keturunan unik semakin terisolasi, bahkan sebagian berisiko hilang sebelum identitas biologinya benar-benar dipahami (local extinction).
Jika pada masa Pleistosen isolasi geografis melahirkan keragaman hayati yang khas di Kepulauan Bangka, Belitung, dan Mendanau, maka isolasi akibat aktivitas manusia justru berpotensi menghapusnya.
Kepunahan suatu populasi bukan hanya berarti hilangnya sejumlah individu, tetapi juga dapat menghilangkan sejarah evolusi yang terbentuk selama ribuan hingga jutaan tahun.
Karena itu, koleksi spesimen yang dikumpulkan Abbott pada 1904 dan dikaji Lyon dua tahun kemudian bukan sekadar arsip museum. Spesimen-spesimen tersebut merupakan catatan penting tentang bagaimana evolusi bekerja di Kepulauan Timah, sekaligus pengingat bahwa masih banyak warisan keanekaragaman hayati yang belum sepenuhnya kita pahami.
Data taksonomi purba ini menyadarkan kita bahwa Kepulauan Bangka-Belitung bukan sekadar wilayah ekstraksi tambang, melainkan laboratorium evolusi yang menyimpan plasma nutfah dan identitas zoogeografi Paparan Sunda yang tak tergantikan.
Di tengah laju perubahan bentang alam yang terus berlangsung, waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu semakin sempit.















